Akhirnya satu kewajibanku kepada orangtua selesai. Ku bilang salah satu karena kewajibanku kepada kedua orangtua bukan hanya satu, masih ada sekian banyak kewajiban yang harus ku penuhi sebagai bentuk baktiku kepada kedua orangtuaku, terutama Papa. Seorang pahlawan yang benar-benar berjasa dalam hidupku.

Memiliki seorang Papa adalah salah satu harta dalam hidup yang dititipkan Tuhan kepada diri kita masing-masing. Papa adalah salah satu malaikat yang diciptakan Tuhan yang tak akan pernah tertandingi oleh apa pun. Papa adalah pahlawan yang tak pernah ingin dipanggil pahlawan oleh anak-anaknya. Ia memilih diam untuk menunjukkan rasa cintanya.

Sejak kecil, Papa telah memiliki caranya sendiri dalam mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Papaku tak seperti Papanya para artis yang setiap saat mengumbar rasa cintanya kepada anaknya. Papaku lebih memilih diam untuk menunjukkan cintanya kepada anak-anaknya. Walau diam, ada bongkahan cinta yang sangat besar dalam hatinya, yang tak mampu dilihat oleh siapa pun.

Papaku memang terkenal sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Dari kakak terbesar hingga adik terkecilku selalu mendapatkan perlakuan dan cara didikan yang sama. Papa tak pernah pilih kasih dalam mencintai anak-anaknya. Papa tetap menunjukkan diamnya sebagai rasa cinta yang tak pernah ia ungkapkan kepada kami semua.


Papa bukannya tak bisa bilang “I Love You”, Papaku bukan orang yang bisu. Namun, rasa cintanyalah yang terlalu besar sehingga tak bisa ia gambarkan dalam bentuk kalimat “I Love You”. Sehingga, dengan cara diamlah cara terbaik yang ia anggap sebagai bentuk cinta terbaik kepada kami selaku anak-anaknya. Papaku berbeda, ia tak akan ku temukan di belahan dunia mana pun. Tuhan hanya menciptakan satu Papa seperti dia.


Advertisement

Kini, diriku telah menginjak usia dewasa. Empat tahun mengenyam bangku kuliah telah cukup membuat pola pikirku menjadi lebih dewasa. Aku sudah bukan lagi anak kecil yang sering di cubit Mama apabila berbuat salah. Aku juga bukan anak remaja yang dipukul penggaris oleh Papa bila kaki dan tanganku salah dalam berbuat.

Kini kuliah S1ku sudah selesai. Salah satu kewajiban kepada Papa sudah selesai ku tunaikan. Terima kasih yang sebesar-sebesarnya ku ucapkan kepada Papa tercinta di rumah sana. Tanpa keringatmu, mungkin saat ini aku bukanlah siapa-siapa. Terima kasih telah mendidikku sehingga diriku kini bisa mengenal huruf dan angka. Tanpamu, itu semua mungkin hanyalah barisan deret mati tanpa makna.

Toga hitam itu telah ku dapatkan Papa……

Di balik toga hitam itu, terdapat keringat dan jerih payahmu yang tak akan bisa aku ukur dengan apa pun. Tak akan pernah bisa ku bayar dengan nilai dan angka apa pun. Toga tetaplah toga, namun bagiku, toga itu adalah simbol dari keberhasilanmu yang telah mampu mengantarkan anakmu untuk bisa mencapai pintu kesuksesan di masa yang akan datang.


Ia memang bukan manusia yang mengandung dan menyusuiku. Namun, karena keringatnyalah aku bisa bernafas pada hari ini. Ia memang tak pernah memeluk tubuhku seperti rangkulan Mama yang begitu erat, namun tangan Papa tak pernah berhenti untuk melindungiku dari berbagai macam bahaya yang tak pernah ku lihat dengan kasat mata. Papaku memang keras, namun besar cintanya tak akan pernah bisa kau ukur walau sesenti.


Papa…. Terimalah toga ini, toga ungkapan terima kasihku kepadamu. Mohon doa restu, agar kelak ada toga kedua dan ketiga. Tiada doa yang paling manjur selain doa dari orangtua yang benar-benar ikhlas setulus hati mencintai anak-anaknya tanpa mengharapkan bayaran sedikit pun. Terima kasih Papa, pahlawan yang benar-benar berarti dalam hidupku masa lalu, kini, dan masa depan.