Kepada kekasihku tercinta, yang telah lama mendampingku, terimakasih untuk semuanya. Kini ijinkan aku menuliskan beberapa bait kata sederhana, sebelum aku dan kamu melangkah bersama. Sebelum aku dan kamu berjanji mengucap janji setia di depan nama Sang Ilahi.

 

 

Sudah lama aku dan kamu memadu kasih. Begitu pula rencana membangun masa depan yang telah disusun secara fasih.

Mengingat semakin matangnya umur dan kematangan karakter kita, agaknya tidak wajar lagi jika hubungan ini hanya dibawa sekedar bermain-main. Aku dan kamu merasa bahwa untuk dapat memasuki masa depan yang sesungguhnya, ada sesuatu yang perlu diikat. Soal hati, tak dipungkiri aku dan kamu saling mencintai. Soal komitmenlah yang perlu kita mantapi.

Tentang visi dan misi, aku dan kamu tak perlu ragu lagi. Hidup bersama di bawah satu atap dengan ikatan resmi, memang kita amini. Hingga pada akhirnya, kita meluangkan waktu untuk berbagi tentang rencana membangun hidup yang Ilahi. Ketika semua rencana telah tersusun rapi, tinggallah hari yang dinanti. Aku dan kamu tak sabar lagi untuk menyapa hari yang manjadikan kisah kita selalu abadi.

Advertisement

 

 

Sejauh ini memang banyak halang dan rintang yang menghampiri. Lantas, kami tetap berusaha menjaga segenap hati.

Kalau boleh menilik masa lalu, sudah tentu perjalanan ini tak senang selalu. Beribu godaan datang tanpa mau permisi dahulu. Karena kita memulai ini semua sejak aku dan kamu masih belum menjadi siapa pun, perjalanan sejauh ini tentu jadi prestasi. Aku pernah dihadapkan dengan beragam pilihan pria selain dirimu. Entah itu yang lebih menawan, lebih mapan, lebih jenius, dan pilihan-pilihan lainnya yang lebih menjanjikan.

Sedangkan kamu pernah dihadapkan dengan kejatuhan impian, kebangkrutan, masalah keluarga, kantor, hingga persahabatan. Namun, tidak satu pun di antara memilih mengalah dan justru pergi. Yang terjadi adalah aku dan kamu duduk bersanding, lalu mendukung masing-masing. Jika aku wanita lain, barangkali aku melangkah pergi dengan segala kenyataan ini. Terbukti, kini aku masih di sini.

 

 

Saat bersama nanti, kami tak perlu hubungan ala Romeo Juliet. Cukup seperti kakek dan nenek kami saja, itu sudah romantis.

Selama menjalani hubungan penuh suka duka itu pun, aku dan kamu telah terbiasa prihatin. Kesederhanaan bahkan telah biasa mengakrabi kami. Kami pun tak perlu lagi sesuatu yang mewah, apalagi yang berlebihan demi menyatakan dan menjalani kesungguhan cinta bersama. Bagi kami, cinta itu sederhana. Sesederhana kesetiaan. Pun dalam prinsip menjalani kisah sayang ini, kami tak perlu berharap muluk-muluk. Hanya ini yang kami ingat dan semogakan hingga akhir hidup kelak.

The most romantic love story isn’t Romeo and Juliet who died together, but grandpa and grandma who grew old together.