Mungkin dari segi judul terlihat aneh ya hehe, tapi memang sengaja saya membuat tulisan ini biar kita semua sadar akan pentingnya orang tua bagi kehidupan kita. Semoga tulisan ini akan menyadarkan kita semua, khususnya saya pribadi, karena saya pun masih belum bisa berbakti secara maksimal kepada orang tua.

Melihat zaman sekarang, sudah semakin aneh dan ruwet. Khususnya akan penghormatan kepada orang tua. Banyak dari kita yang jujur saja, suka menentang kehendak bahkan arahan orang tua (jujur hayo jujur hehe). Apalagi saat kita beranjak umur remaja, masa dimana kita ingin mengenal dunia luar sebebasnya, tetapi orang tua tidak mengizinkan.

Advertisement

Orang tua menasihati kita tetapi kita acuh, tidak ingin mendengar, bahkan kita lebih memilih untuk pergi. Pernah ada yang melakukan itu? Saya pun pernah hehe. Mari simak kenapa kita harus berbakti kepada orang tua

Orangtua Kita Ibarat Malaikat

Betul sekali, orang tua kitalah yang mencukupkan segala kekurangan kita. Coba ingat kembali saat kita kecil, saat kita bermain dan jatuh, siapa yang merawat kita. Belum lagi saat kita tidak punya uang, siapa yang kita minta. Kita merengek, menangis, bahkan sedih, siapa yang menolong kita? Orang tua yang kita banggakan.

Orang tua kita ibarat malaikat. Mereka selalu ada saat kita membutuhkan. Karena yang dipikirkan dari orang tua adalah, bagaimana anaknya bisa bahagia, bahagia, bahagia, pasti mereka lakukan.

Perhuangan Ibu Hingga Bertaruh dengan Nyawa

Jika kita bicara tentang ibu, kita harus mengingat akan perjuangan nya. Saat mengandung hingga 9 bulan 10 hari, tidur tak enak, makan tak enak, aktivitas apapun dibatasi. Tapi ibu lakukan, demi siapa? Demi kita, demi kelahiran kita di dunia, karena ibu sangat ingin melihat wajah lucu kita, teriakan dan nangis kita.

Advertisement

Setelah kita lahir, lalu ibu lagi yang merawat kita hingga dewasa. Ibu juga sebagai pendidikan pertama bagi anaknya, harus memberikan asupan dan materi terbaik bagi anaknya. Masih kah kita berfikir untuk tidak berbakti dengan orang tua?

Perjuangan Ayah Banting Tulang Demi Anaknya

Ayah, besar pula pengorbanannya kepada kita. Ayah bekerja siang dan malam, membanting tulang demi melihat anaknya bahagia. Anaknya bisa sekolah, cukup uang sakunya, dapat memberikan hadiah, dan layak seperti teman sebayanya. Belum lagi saat makan, (sedikit ilustrasi dari kisah saya) ketika di meja makan tersisa hanya satu ayam, saya disuruh Ayah saya untuk makan ayam itu.

Ayah saya memilih tidak makan ayam. Betapa besar pengorbanan Ayah yang rela tidak makan demi anaknya. Belum lagi saat kita tidak punya uang. Kita meminta kepada Ayah kita dengan sekehendak kita. Ketika Ayah tidak punya uang pada saat itu, Ayah akan mengatakan “Nanti ya nak, Ayah sedang usahakan”. Masihkah kita tidak ingin berbakti dengan orang tua?

Masihkah kita berani melawan dengan orang tua kita? Melihat betapa besar perjuangan mereka untuk kita. Masihkah kita tidak ingin berbakti kepada mereka? Mari bersama-sama memberikan yang terbaik kepada mereka, karena mereka telah memperjuangkan hidupnya untuk memberikan yang terbaik kepada kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya