Matahari tenggelam di ufuk Barat menyisakan bayang-bayang semu yang silih berganti hadir di pelataran taman sakura. Malam begitu kejam ketika ku mulai mencoba untuk memejamkan mata, perasaanku terasa hambar di tengah riuh pikuknya kota Tokyo. Langit Tokyo seakan tak bersahabat padaku, bulan bintang yang selalu menjadi pemanis malam seakan ikut merasakan kepedihanku saat ini. Tak pernah ku bayangkan lagu ini akan selalu kudengar di setiap hari-hariku, di saat kumencoba untuk membunuh bayang-bayangnya yang selalu tersenyum memandang wajah kecewaku.

“Tuhan bila masih ku diberi kesempatan,

Izinkan aku untuk mencintanya,

Namun bila waktuku telah habis dengannya,

Biar cinta hidup sekali ini saja”

Advertisement

(Glenn Fredly)

Terkadang kuberpikir apakah waktu tak mampu membuktikan keteguhan cintaku untuknya atau justru waktu yang telah membunuh rasa cintamu padaku.

Ilusi cinta yang telah lama aku banggakan kini mulai tersapu seiring dengan melelehnya salju di Ibu Kota Negara Jepang. Entah mengapa musim semi yang kini mulai menunjukkan keberadaannya tak dapat merubah perasaanku. Udara yang seharusnya menyejukkan namun terasa panas hingga hampir membakar tubuh yang kian lemah ini. Burung yang saling bersiul terdengar seperti memperolok relung hati yang terluka begitu dalam.

Bunga sakura yang selalu kujanjikan padamu kala itu nampak bagaikan mawar hitam berduri yang dapat menusuk siapa saja yang mencoba untuk memetiknya.

Aku ingat saat pertama kali kita bertemu, saat pertama kali aku mulai menyadari bahwa aku telah jatuh hati kepadamu, saat pertama kali ku ungkapkan perasaanku kepadamu, saat pertama kali kau kenalkan diriku dihadapan keluarga besarmu, dan saat pertama kali kita saling mengucapkan janji bahwa kau akan setia menunggu kepulanganku.

Aku ingat semuanya, namun apakah kau mengingat semua itu ?

Masih jelas teringat di pikiranku saat kuutarakan tujuanku kepadamu mengadu nasib ke tokyo semata-mata untuk mencari sepeser yen agar kau dapat membanggakanku di depan kedua orangtuamu. Kau menangis tersedu-sedu di kala ku ucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kalinya, kau peluk erat tubuhku dan mengatakan akan selalu merindukanku. Kau memaksaku untuk mengirimkan bunga sakura kepadamu jika musim semi itu telah datang (dan sekarang ingin kusampaikan kepadamu bahwa musim semi yang kau tunggu-tunggu itu telah datang, wahai kasihku).

Namun bagai tersambar petir di siang bolong. Kini perasaanmu telah berubah, seakan kau telah meminum racun pembunuh pengingat kenangan, mengapa hanya kenangan bersama ku sajalah yang kau lupakan? Tak adakah sepenggal kisah cinta kita yang masih tertinggal di dalam ingatanmu ?

Masih terngiang di telingaku saat kau menginginkan sakura ini sebagai penghias di pelaminan kita nanti. Penanda bahwa cinta kita telah melampaui jarak dan waktu yang memisahkan. Dengan senyum ceriamu, suatu saat jika aku sudah benar-benar terbiasa hidup di sini, kau menginginkanku mengantarkanmu berjalan-jalan menggunakan kimono, berfoto ala geisha, mencicipi sushi dan takoyaki. Ya, aku masih mengingat semua keinginanmu dan sampai detik ini aku berharap dapat melakukannya untukmu.

Aku mencoba meyakinkan diri, aku mencoba untuk tidak mempercayai kata-kata yang kau ucapkan malam itu. Dengan lantang dan penuh keyakinan kau putuskan hubungan yang telah kita rajut selama lima tahun, sungguh tak berperasaan.

Sempat terpikir olehku bahwa mencintaimu bukanlah sebuah kesalahan, melainkan menghabiskan waktu untuk mencintai orang sepertimulah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Namun semua pikiran buruk itu kutepis dengan berjuta alasan. Entah alasan yang selalu membela dirimu atau memang dirikulah yang tidak dapat mengikhlaskan kepergianmu. Aku mencoba tersenyum ditengah kepahitan hidup yang datang begitu tiba-tiba. Ternyata ikhlas adalah kata yang paling ku benci saat ini, begitu beratnya untuk mengikhlaskan orang yang telah bertahun-tahun bertahta dalam hati dan pikiranku. Ku pejamkan mata ini dengan berteriak dalam hati bahwa aku harus berusaha ikhlas untuk orang yang kusayangi. Ikhlas untuk melihat masa depan tanpa dirimu.

Dan kini musim semi telah tiba, bunga sakura bermekaran dimana-mana, taman-taman yang selama ini berwarna putih berselimut salju kini dengan manisnya menunjukkan biasan warna pink dari bunga sakura. Dengan langkah tegar, dan hati yang lapang aku melangkah keluar dan mencoba untuk melihat bunga yang seharusnya ku kirimkan kepadamu.

“Tuhan bolehkah aku mengatakan padanya bahwa sakura ini begitu cantik ?”

“Bisakah kau bisikkan padanya bahwa aku di sini begitu merindukannya ?”

“Dan apakah dia tahu bahwa sakura ini sama cantiknya dengan wajahnya saat ia tersenyum ?”

Lamunanku pecah ketika ribuan bunga sakura yang terbang tertiup angin, terbang bebas kesana kemari bagai kupu-kupu yang terusik oleh keberadaan manusia. Begitu indah dan begitu cantik. Wajah ceria anak sekolah, muda-mudi, dan keluarga menyambut musim semi membuatku tersadar bahwa kebahagiaanku tidak boleh terenggut hanya karena pengkhianatan yang telah kau lakukan. Kau boleh bahagia di sana maka akupun tidak boleh terpuruk karena kebahagiaanmu. Aku mencoba untuk melupakan kenangan di antara kita. Kupetik setangkai sakura cantik untukmu, kubisikkan kerinduanku untuk terkahir kalinya.

Kukirimkan sakura ini bukan kepadamu tetapi kepada Tuhan sebagai penanda bahwa aku telah memilih berjalan lurus di tengah persimpangan antara pengkhianatanmu dan kesetiaanku.