“Sewindu telah berlalu namun cintaku tak akan layu, meski kini kau telah jauh namun engkau akan selalu dihatiku”

Hai… Semoga sapaku mebuka pintu yang telah lama tertutup. Delapan tahun sudah berlalu, menyimpan seberkas catatan kecil dalam yang sayang untuk dilupakan. Kita yang pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Tak semestinya terlupakan begitu saja. Kita yang dari polos tak mengerti apa-apa dari kedekatan yang sederhana mejadi benih cinta yang tak terduga. Mungkin ini yang dinamakan “Tresno jalaran soko kulino”.

Advertisement

“Mungkin suatu hari kita akan berjumpa kembali. Kenangan bersama dirimu tak akan ku hapus sampai nanti”

Aku sadari waktu tak akan mengulang kejadian yang sama, namun mimpi dan doa yang akan memperbaiki dan mewujudkannya. Berharap tak akan engkau lupakan saat masa kecil kita bersama. Meskipun jika suatu saat kita bertemu, tetaplah senyummu sebagai semangat hidupmu dan begitu pula diriku. Tak akan pernah kulupakan detail bersamamu, walaupun suatu saat nanti menemukan jalan kita masing-masing.

“Kekasih yang jauh masih ingatkah kepadaku? Ditempat ini kita bersama dan engkau ucapkan cinta”

Advertisement

Sewindu lamanya, apakah engkau masih mengingatnya? Masih bersediakah untuk tersenyum dan bercanda tawa? Dan segalanya yang pernah engkau ungkapkan kepadaku. Di tempat yang tak asing lagi buatmu, deraian ombak-ombak kecil seakan merayu untuk saling tegur sapa. Namun masihkah engkau mengingatya? Diri ini hanya bisa berharap yang terbaik, karena hanya DIA-lah Sang Pembolak-balik hati manusia. Kita hanyalah Hamba-NYA yang bisa berusaha dan berdoa.

“Namun tak kusangka, rasa hati tak percaya. Engkau meninggalkan semua kenangan mungkin untuk selamanya”

Namun Tuhan berkehendak lain. Apa yang diharapkan dalam doa menjadi jawaban yang terbuka secara perlaha. Bertepuk sebelah tangan, ya mungkin seperti itu istilahnya. Sewindu bukanlah waktu sebentar, seiringnya waktu membentuk jati diri masing-masing. Lingkungan baru yang membawamu menjadi diri yang baru juga hingga terlupakan kenangan yang sederhana. Seakan deraian ombak-ombak kecil menghapus jejak dengan begitu mudahnya.

“Dirimu telah pergi tinggalkan diriku disini. Jalani hari demi hari, haruskah aku menanti?”

Dirimu benar-benar melupakan segalanya. Dirimu benar-benar pergi dari secuil kenangan sederhana. Menjadikan dirimu yang baru dengan duniamu yang baru juga. Saat enngkau langkahkan kakimu bersama ego, masih sudikah dirimu menoleh kepadaku? Tidak ada yang tahu, hanya hati nurani yang berkata.

“Kisah cinta ini haruskah sampai disini? Menanti seorang kekasih yang pernah singgah dihati ini”

Apakah ini cinta yang salah penempatannya? Lebih baik introspeksi dulu. Ku cukupkan kisah ini sebaga pembelajaran dimasa mendatang. Tuhan memberikan ujian, apa yang kita anggap indah belum tentu hasilnya sama dengan yang kita harapkan. Skenario dari-NYA-lah sebagai pembuka jalan menuju harapan dan doa yang selalu kita panjatkan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya