Kemarin itu masih membekas di ingatanku.

Hari dimana aku berterus terang, mengeluarkan keluh kesahku tentang dirimu yang berdasarkan pemikiranku telah berubah.

Advertisement

Kemarin itu masih menjejak di ingatanku.

Rasanya masih melekat di kepalaku bagaimana ekspresimu kala itu. Kau duduk di atas motor, memandangku dengan wajah yang… entahlah. Kau berkata ‘apa lagi yang ingin kau utarakan?’ dengan nada mendesak. Kau tak langsung menjawab segala hal yang kubicarakan, tapi aku masih ingat apa yang kau ucapkan pertama kali saat kita membicarakan hal ini lagi.

“Bagaimana jika aku bilang kalau aku tidak mengerti dengan kau yang sekarang?”

Advertisement

Aku diam.

Aku tahu aku tak punya kuasa membalas kata-kata itu. Kalimat yang benar. Kalimat yang tak bisa kupungkiri. Tapi aku juga begitu denganmu, sesungguhnya.

Kau orang yang baik. Kau selalu menjadi yang terbaik sampai 3 tahun ini. Entah mau berapa kalipun terluka dan melukai, kita tetap bisa menjalin komunikasi layaknya hal biasa. Tapi aku tahu, kini kau membatasi sesuatu. Cerita kita tak lagi sama.

Aku sadar aku merindukanmu.

Aku sadar aku merindukan kebersamaan yang pernah singgah diantara kita. Aku sadar waktu yang kini hadir tidak mengembalikan kenangan yang berjejak di masa ini. Aku sadar karena kebodohan dan ego masing-masing yang menghadirkan segalanya. Tapi pertemananku murni padamu.

Sungguh.

Aku tak pernah membayangkan ini terjadi. Aku tak pernah memikirkan akan ada hal seperti ini kembali lagi dalam hidupku. Kau penting bagiku, meski kau tak tahu itu. Kau adalah hal kedua dalam daftar prioritasku. Sungguh, aku tak pernah membayangkan ini terjadi.

Kau tahu, kupikir pertemanan ini seperti sudah tak bisa dipertahankan lagi. Bukan ingin memutuskan tali silahturahmi yang baru seumur jagung ini. Bukan. Hanya kupikir sudah tak layak aku mandamba dirimu yang dulu dengan sosokmu yang sekarang. Jika masa lalu tak cukup membuatku bertahan, maka lebih baik aku mundur saja. Kau tahu aku masih tak punya kuasa untuk menerima keadaan yang sekarang. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak merasa bahwa kau tak menceritakan apa-apa lagi padaku.

Kini aku tak tahu apapun.

Kau tahu, aku tak tahan melihatmu yang bersikap biasa saja. Kau tentu tahu perubahan diantara kita, tapi dengan melihatmu aku sadar mungkin itu hanya terjadi padaku saja. Aku minta maaf sudah mengucapkan hal-hal bodoh kemarin. Kau seperti mendengarkan setengah hati, tapi kuucapkan terima kasih karena masih tetap tinggal.

Aku pamit.

Tulisan ini mungkin terasa berlebihan bagimu, tapi aku janji setelah ini kau tak akan mendengarkannya lagi. Kau takkan mendengar keluh kesah dari orang yang suka mempersulit hidup, katamu dulu. Aku akan belajar untuk menerima kau tak bisa duduk bersamaku lagi disini. Kau teman dekat yang hebat. Seseorang paling positive thinking yang pernah kukenal. Terima kasih atas apa yang sudah kita lalui hingga tibanya hari ini.

Aku pamit.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya