Pernah nggak sih merasakan titik dimana kamu ingin menyerah saja dan kembali ke rutinitas biasa saja? Menyebarkan lembaran demi lembaran yang berisi goresan pikiran ke segala penjuru arah namun tak satupun diterima bahkan ditolak mentah-mentah. Selama ada peluang untuk berpetualang kamu mengikutinya dan kamu rela merogoh kocek untuk biaya administrasinya padahal itu adalah uang satu-satunya untuk mengganjal tanggal tua nanti.

Namun pengorbananmu pun belum membuahkan hasil. Segala lomba yang kamu ikuti selama itu dimana tema lombanya sesuai dengan passion kamu dan kamu rela begadang hingga larut malam terkait deadline lomba yang semakin menghantui bahkan kamu rela tidak membalas pesan dari ibu ataupun menerima panggilan dari ibumu lewat telepon karena takut ibu akan curhat panjang lebar hingga sempat menyita waktu untukmu mengejar deadline. Namun perjuanganmu pun sama sekali tak ada artinya bahkan sempat kamu menyesal dan mengutuk diri sendiri.

Disaat seperti itu rasanya kamu hanya ingin bersembunyi saja disudut kamar, menghabiskan makanan yang banyak dan menangis sepuasnya. Namun rasanya sangat mengenaskan jika kamu larut dalam keadaan seperti itu. Padahal masa depanmu masih panjang. Hanya karena berkali-kali gagal kamu menyerah, padahal diluar sana masih banyak yang menerima beribu-ribu kegagalan dan tetap semangat karena penasaran sampai dimana titik lemahnya.

Untuk apa kamu hanya mengutuk diri sendiri yang tak patut dijalani. Lebih baik kamu melangkah lebih jauh lagi. Buka pintu zona nyamanmu, bangkit dari sudut keterpurukanmu, hembuskan nafas kuat-kuat dan hapus air mata pecundangmu. Lihatlah sekitar, masih banyak orang-orang yang masih menerimamu, mereka masih ingin menyapamu dan masih ingin melihat senyum manismu itu. Percayalah orang-orang tidak akan menghinamu atau bahkan menjauhimu karena gagal. Percayalah pasti ada setidaknya satu orang yang akan setia menemanimu, menyemangatimu, tetap tersenyum padamu dan tetap menerimamu sebagai teman meski kamu berulang kali gagal.

Sekarang bukan saatnya memikirkan perkataan orang yang menganggapmu bodoh ataupun lemah. Tapi pikirkan sampai mana kamu tidak akan sanggup lagi melangkah untuk mengejar mimpimu itu meski langkah terakhirmu itu tetap sebuah kegagalan. Bukankah proses itu sangat indah jika kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak. Bukankah kemenangan sejati ada pada dirimu sendiri. Jika kamu sudah mampu menaklukan dirimu sendiri untuk tidak menyerah, bagiku itu adalah kemenangan sejati yang sesungguhnya. Jika kamu sudah terbiasa dengan kegagalan bahkan gagal adalah mainanmu sehari-hari bagiku kamu adalah pemenang yang berhasil menaklukan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya dalam sebuah kompetisi bukanlah menjadi pemenang melainkan kamu menikmati setiap prosesnya dan mencintainya.

Advertisement

Jangan menganggap dirimu paling menyedihkan atau menderita karena sebuah kegagalan. Coba pikirkan perasaan mereka. Betapa sakitnya seorang ibu yang sedang melahirkan dan tahu bahwa dia tidak akan bisa melihat anaknya sendiri yang telah lama ditunggu-tunggu karena dia menginginkan anaknya hidup meski nafasnya harus redup. Betapa kecewanya seorang pelari yang hampir menang di garis finish namun tiba-tiba dirinya tak bisa berjalan sejengkalpun hingga kemenangan pun hanya mimpi belaka. Betapa terlukanya seorang ibu dan anak-anaknya yang kehilangan sosok pahlawan untuk keluarganya siapa lagi kalau bukan ayah, yang belum tentu bersalah namun sudah dipukuli masa karena kebutaan hukum para warga hingga membuatnya tak bernyawa lagi. Betapa putus asanya seorang pejuang cinta yang telah lama memantaskan diri dan mempersiapkan semuanya untuk melamar sang pujaan hati namun ditolak mentah-mentah hanya karena soal sepele. Dan masih banyak lagi di luar sana yang kisah hidupnya lebih dramatis dan lebih menguras air mata daripada kita.

Masihkah kamu berjibaku, mengeluh melulu, menuduh, seolah-olah Tuhan tak adil?

Lebih adil mana kehidupan kamu dengan mereka?

Yuk mari kita intropeksi diri mulai dari hati yang paling dalam. Masihkan ada Tuhan di hatimu? Libatkanlah selalu Tuhan di hatimu dimanapun itu. Bukalah kedua matamu untuk melihat sekeliling, baik alam yang indah, keceriaan anak kecil saat bersenda gurau, atau bahkan anggunnya seorang gadis desa mencium tangan kepada kedua orang tuanya hanya sekedar untuk pamit. Terlihat sederhana namun menggelitik, membuat hati kita berbisik masihkah kita mampu melakukan itu semua hingga sekarang. Gunakan telingamu untuk kebaikan baik itu curhatan teman, ataupun sekedar merefreshkan otak hanya dengan mendengarkan kicauan burung, gemuruh ombak yang menari-nari, bisikan lirih paru-paru dunia, atau bahkan mendengar lembutnya azan berkumandang.

Masihkah kau takut gagal? Masihkah kau berdiam diri karena gagal? Masihkah kau menangis karena gagal? Bukankah waktu hidupmu tidak abadi? Masihkah kau membuang waktumu hanya untuk mengutuk diri sendiri?

Tebarkan rasa cinta dan kasih sayangmu kepada siapapun itu dan penuhi selalu stok semangat dan percaya diri untuk melalui proses petualangan hidupmu hari ini, esok dan selanjutnya. Dengan begitu tidak ada alasan untuk tidak bersyukur bahwa kamu telah diizinkan-Nya untuk menjajal hidupmu di bumi ini yang penuh teka-teki.