Hai, kamu. Ini aku. Masihkah mengingatku? Tulisan ini kupersembahkan kepadamu yang dengan sengaja memintaku menunggu kedatanganmu. Aku, yang dulu kau bantu membuat skripsi. Kemudian berakhir membuatmu jatuh hati. Terkadang lucu, bagaimana bisa orang sepertiku mampu membuatmu jatuh pada sesuatu yang belum pernah kau sentuh. 2 tahun telah berlalu sejak hari itu.

Sejak pertama kali kamu memintaku untuk menunggu. Tanpa kepastian akan menjadi seperti apa, tanpa kamu dan hal lainnya.

Advertisement

Kita yang saling mengerti apa itu arti dari berpacaran memilih untuk menjalin hubungan sebagai seorang teman. Tapi? Teman mana yang rela menunggu begitu lama? Teman mana yang rela membuat temannya diambang pilu? Pada awalnya aku baik-baik saja. Aku menjalani semuanya seperti biasa. Bahkan tidak pernah terlintas sesuatu akanmu. Karena aku percaya, jika memang yang kamu rasakan itu nyata.

Kamu akan tiba tanpa aku harus meminta.

Kemudian, dalam rentan waktu yang berlalu. Kita yang tidak banyak bicara dan sedikit berkomunikasi semakin lama semakin sungkan menyapa.

Advertisement

Kita semakin memupuk jarak pada perasaan kita yang hampir tak nampak.

Seiring berjalannya waktu. Seiring semuanya berlalu. Langkah demi langkah. Semua mulai berubah. Entah kekuatan waktu atau memang ini perihal diriku.

Setelah semua yang kulalui tanpa ada kamu di dalamnya. Tanpa kusadari, aku menunggumu, sejak hari itu

Saat aku menolak perasaan yang datang, dan aku memilih untuk tetap tenang sendirian. Aku pikir memang aku sedang tak ingin menjalin sebuah hubungan. Namun nyatanya, Selama ini aku menunggumu di persimpangan. Aku berdiri seorang diri. Bersembunyi diantara keramaian.

Berharap ada yang menemukanku. Bukan, Berharap kamu datang menjemputku.

Menunggumu tidak benar-benar membuatku bosan. Tidak bosan bukan berarti tidak kesal. Aku mencoba menyibukkan diri agar dikepalaku tak melulu tentang dirimu. Aku mencoba dunia-dunia baru yang sebelumnya aku bahkan tak tau. Tapi kemudian, apa-apa tentangmu tetap saja tiba walau aku tak pernah meminta. Hai, kamu.

Aku tidak pernah benar-benar lari ataupun pergi.

Akuu hanya belajar untuk tidak mengikat dan membebanimu dengan segala tentangku yang masih perlu kamu tau. Sekarang, Saat ini. Masihkah kamu ingat padaku? Yang sengaja kau pinta untuk menunggu. Atau Kau sedang bertamu? Dirumah yang tak pernah kutau. Jika setelah membaca ini kemudian kamu teringat dan ingin mengutarakan. Aku harap "Tak tau apa yang harus kukatakan" tak lagi menjadi alasan.

Aku tidak memintamu untuk pulang ataupun datang

Karena sedari awal, kamu memang tidak pernah tinggal, disini. Aku hanya memintamu untuk memberi kepastian. Karena jauh dari titik kini kau berada. Ada aku yang masih sabar menunggu untuk sebuah kabar.

Dari,

aku yang masih menunggu

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya