Ada disuatu masa, ketika hatimu yang kamu kira telah kembali ceria rupanya hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja. Kamu tahu musuh terbesar bagi hati, ialah harapan. Makanya ketika kamu berharapan kamu harus menyiapkan kapasitas besar dalam hatimu. Agar ketika kecewa, hatimu cukup tempat untuk menampungnya.

Kamu menghilang dari semesta, menyembunyikan diri adalah salah satu caramu mengembalikan suasana hati. Hati yang berantakan seperti ini bagaimana mungkin Tuhan akan menerimanya lagi. Pikirmu.

Atau pernahkah kamu mendengar bahwa memaafkan akan mengobati segala luka dalam hati?

Dan Pernahkah kamu merasa sudah benar-benar baik-baik saja sampai ketika sebuah debar mengacaukan segala rencana. Debar yang kamu kira adalah bahagia, rupanya hanya selingan saja? Lagi-lagi Kamu merasakan kesakitan karenanya dan hatimu yang berkecamuk seolah memberontak ingin didengarkan.

Dalam posisi seperti ini, kamu kembali dihadapkan pada kesakitan dan kekecewaan baru. Salahmu sendiri yang terlalu berangan tinggi.

Advertisement

Sialnya, luka-luka yang kamu coba tutupi dengan senyuman yang menurutmu paling sumringah justru membuatmu merasa sedang memakai topeng monyet. Kamu melukis senyum pada topeng yang sedang kamu pakai, Agar mereka tetap mengira bahwa kamu baik-baik saja.

Yah, mungkin benar bahwa Tuhan menciptakan perempuan dengan satu kelebihan yaitu Kuat saat Lemah. Makanya ketika dia merasa harapannya kembali jatuh, Dia tahu bagaimana menyembunyikan luka.

Kamu hanya mampu menangis. Menangis dalam hati mungkin adalah kesakitan yang teramat paling. Tapi menangis pada Pemilik segala airmata adalah menangis yang penuh kenikmatan. Kenapa? Karena airmatamu tidak terbuang percuma. Dia mendengarkan, Dia merasakan. Hatimu yang butuh sandaran.

Sebenarnya kami hanya perlu memaafkan apa-apa yang membuat hatimu sakit. Walau kamu sendiri tahu bahwa memaafkan bukan berarti segala sakit yang tertoreh telah terobati.

Sekali lagi saya (beralasan) menghilang dari susunan huruf karena tidak ingin menghadirkannya lagi dalam ingatan. Itulah kosong yang sedang saya rasakan. Kini setelah mencoba menapaki lagi jalan yang separuh, tetiba angin membuat surut langkah kaki. Menulis yang sering kusebut sebuah kesenangan, tiba-tiba terasa sulit diayunkan.

Kamu seharusnya mengerti bahwa pertemuan hanyalah sebuah kesengajaan yang Tuhan hadirkan dalam skenarioNya. Apakah ada yang membekas atau sekedar saling sapa dan tertawa lepas? Semua telah diatur olehNya.

Kita tidak bisa mengharapkan semua hal baik terjadi dalam hidup, seperti itupun Kegagalan, Kesakitan serta Kekecewaan. Sebab perasaan itu hadir karena Tuhan mengizinkannya, Dia ingin kamu belajar dan memetik hikmah di balik semuanya.
******
Semoga kelak akan datang pertemuan yang sebenar-benarnya rancangan terindah pencipta, Kamu mendapati genggaman hangat yang menggandeng pulang; Pulang ke rumah yang di beri nama 'Rumah Kita'

-Sampai Ketemu di Kisah Baru, Kamu 😊