Aku yakin kau berada di tempat yang sangat jauh di ujung dunia sana. Pasti lebih jauh dari kutub utara, atau di tempat terpencil lainnya. Dimana tak ada bandara atau stasiun kereta. Dimana tak ada satupun alat yang bisa mengantarmu kembali ke tempat dimana kau pernah berada.

Tujuh tahun bukan waktu yang lama, karena menunggu adalah salah satu keahlianku. Kamu pasti tahu itu.

Aku pernah beberapa kali mencoba mengirimkan surat untukmu. Sekedar ingin bertegur sapa, dan sangat ingin menanyakan alamat rumahmu sekarang dimana. Tapi ternyata suratku selalu kembali ke tempat dimana aku mengirimnya. Pak pos pun tak tahu rumahmu dimana, apalagi aku. Aku bisa apa? :')

Kau kira tujuh tahun itu waktu yang lama? Kau kira begitu? Sama sekali tidak. Kau pasti paham betul akan hal itu. Karena aku sudah terlatih menunggu. Kau pernah mengatakannya sendiri padaku bahwa menunggu adalah salah satu keahlianku bukan?

Seperti menunggumu selesai berdandan sebelum berangkat sekolah waktu SMA dulu, atau menunggumu di luar rumah ketika kamu marah sampai akhirnya mereda dan keluar datang menghampiriku. Aku jelas-jelas sudah terlatih dan tak perlu diragukan lagi kan? Jadi kamu tak perlu khawatir kalau aku tak bisa menunggumu lagi. Aku bisa. Aku pasti bisa πŸ™‚

Ketika kamu pergi, kamu lupa mengembalikan separuh hati yang lama kau bawa, kepada pemiliknya.

"Setelah lulus sekolah, Ayahku dipindahtugaskan ke luar negeri.", katamu waktu itu. Saat kamu berkata akan melanjutkan kuliah di Amerika, aku asal iya aja. Aku benar-benar tidak tahu apakah benar kamu ke Amerika atau Benua sebelah mana. Benua mana yang bisa sehebat itu mampu menahanmu dari belia hingga beranjak dewasa.

Advertisement

Selucu apa Benua itu hingga kau betah di sana tujuh tahun lamanya. Sampai sekarang ini aku masih bertanya-tanya, sesungguhnya aku ingin tahu jawabannya.

Sejak kapan kau jadi pelupa seperti ini? Bahkan rumus matematika, fisika dan kimia yang rumit pun kau selalu mengingatnya. Mengapa kau ceroboh sekali untuk hal yang satu ini? Kenapa kau bisa lupa mengembalikan separuh hatiku yang telah lama kau bawa ikut pergi bersamamu? Kenapa kau tak kembalikan dahulu kepadaku, waktu kau akan beranjak dari sini? Kau begitu ceroboh kali ini.

Yang lebih parah lagi, apa kau juga lupa nomor handphone ku? Kenapa kau tak menghubungiku selama ini?

Kamu baik-baik ya πŸ™‚

Setelah pesan terakhir itu, aku tak bisa menghubungimu lagi. Bahkan kata operator, nomormu sudah tak lagi terdaftar. Padahal kalau dipikir, operator seluler mana yang tega membiarkan nomor handphone gadis cantik sepertimu tak terdaftar? Tak masuk akal.

Aku masih mendengar sayup lirih tawamu ditelingaku, seperti baru kemarin kita bertemu.

Semenjak kau pergi, aku tak lagi menulis bait demi bait puisi. Karena kalaupun aku menulisnya, tak tahu puisi itu mau diberikan kepada siapa. Aku ingat benar, kau yang memaksaku menuliskan bait-bait puisi dulu. Padahal aku tak tahu puisi itu harus seperti apa. Tapi karena kau yang meminta, aku berusaha menulisnya.

Sejelek apapun yang aku tulis, kamu tetap senang membacanya, karena memang pada dasarnya kau suka membaca. Lembaran demi lembaran tulisanku kau kumpulkan dalam binder khususmu. Aku masih ingat. Binder sampul ungu dengan isi kertas warna-warni itu.

Kita sering makan es krim berdua di taman sepulang sekolah. Atau bersepeda sore-sore. Juga makan puding kesukaanmu di teras rumahmu. Hampir setiap hari kita bertemu. Bercanda bersama. Sangat menyenangkan. Bertemu denganmu memang candu.

Bahkan sampai sekarang suara tawamu masih terdengar lirih di telingaku. Ahh.. Aku masih ingat semuanya. Terlalu banyak kenangan yang harus aku absen satu-satu ketika bersama denganmu. Kau tentu masih ingat juga bukan?

Dahulu kita sering bertemu, tapi apakah hati boleh menyatu?

Bahuku mulai banyak sarang laba-laba dan sangat berdebu. Karena tak ada lagi yang menyenderkan kepalanya di sana. Kau pernah bilang bahuku tidak kekar, tapi katamu itu adalah tempatmu paling nyaman untuk bersandar. Kenapa dulu kita sama-sama dalam ketidakjelasan? Dan kau sendiri pun membiarkan semua ketidakjelasan itu.

Ahh.. kita berdua memang sama-sama tidak jelas. Kita memang sering bertemu dan begitu dekat. Bahkan dalam waktu yang tidak singkat. Kita sering bersama-sama dan semuanya mengalir begitu saja. Jalan-jalan bersama, makan es krim bersama, bercanda dan saling bercerita. Tanpa ada kata "cinta" dan "sayang" yang terucap diantara kita. Apakah memang mungkin sebaiknya seperti itu?

Apakah tahun ke tujuh ini aku harus berhenti menunggumu? Coba kamu katakan, apakah aku masih harus menunggumu? Atau sebaliknya, apakah kau memintaku untuk berhenti menunggumu mulai sekarang? Mengapa kau tak juga mengatakan apa-apa sampai sekarang? Mengapa kamu hanya diam saja? Padahal kamu adalah orang paling cerewet yang aku kenal. Aku rasa, ini bukan kamu yang aku kenal.

Kamu seperti orang yang bukan aku kenal sekarang. Mengapa kau begitu betah untuk diam. Mengapa kau tak jua ada kabar? Apakah kau sudah bahagia sekarang? Lebih bahagia dari tujuh tahun, delapan tahun, atau sembilan tahun silam? Ataukah kau sudah menemukan lelaki yang lebih hebat dari aku?

Yang paling pandai membuat kau tertawa lepas tanpa beban, dan yang pernah membuat kau bahagia walau dengan kesederhanaan. Sudah ada yang lebih hebat dari aku? Yang mampu menunggumu dalam waktu yang panjang? Coba katakan.

Kenapa sampai sekarang kau tak jua kembali? Padahal kau sudah berjanji suatu saat pasti akan di sini lagi. Apakah ini belum saatnya? Lalu kapan 'saat' yang pernah kau bicarakan itu tiba?

Putri Aulia Pratama, Aku mencintaimu dimana kau berada..