Sebagai pengguna jasa angkutan kereta Commuter Line Jabodetabek, saya sudah akrab dengan setiap pemandangan di kereta. Padatnya, berjubelnya dan segala kepenatan yang kerap terjadi di atas 'ular besi' ini selalu jadi maklumat bagi penumpang kereta. Mulai dari pagi-pagi buta para pekerja rela datang ke stasiun untuk mencari nafkah di ibu kota. Alasannya selain supaya sampai di kantor tepat waktu, juga agar mendapat tempat duduk di kereta.

Namun jangan dikira berangkat sebelum subuh otomatis akan mendapatkan tempat duduk di kereta. Persaingan antar penumpang kerap terjadi demi mendapatkan tempat duduk senyaman mungkin. Untuk mendapatkan tempat duduk, para penumpang rela berebut, berdesak-desakan, senggol kanan kiri dengan penumpang lain. Maka jangan heran ketika hari kerja, dari stasiun pemberangkatan awal (Bogor) saja sudah tidak ada tempat duduk yang tersisa. Para penumpang yang kurang beruntung terpaksa harus rela berdiri sampai stasiun tujuan akhir.

Patut diketahui bahwa setiap kereta memiliki kursi prioritas di setiap gerbongnya, yang diperuntukan khusus wanita hamil, lansia, ibu membawa balita dan penyandang disabilitas. Kesimpulannya, selain orang-orang prioritas tersebut maka tidak diperkenankan untuk duduk di kursi tersebut. Tentu hal ini bisa dimengerti karena orang-orang yang ada di daftar prioritas tersebut memiliki hak istimewa. Misalnya wanita yang sedang hamil, tentu mereka harus menjaga kandungannya mengingat keadaan di dalam kereta yang tidka memungkinkan mereka untuk 'bertarung' atau berdesak-desakan karena akan mengganggu kandungannya. Begitu pula dengan orang-orang prioritas lainnya.

Namun ada hal lain yang menjadi 'kegalauan' kita dalam hal ini. Berawal dari pengalaman saya ketika berangkat kerja (saya selalu naik di gerbong khusus wanita) seperti biasa dari stasiun Bojonggede sudah tentu kursi-kursi sudah penuh, kecuali terkadang kursi prioritas yang masih tersisa. Dalam sekejap kursi prioritaspun terisi oleh penumpang (yang kebanyakan) lansia.

Ketika sampai di stasiun berikutnya berbondong-bondonglah orang prioritas lain yang tentunya meminta haknya untuk duduk di kursi prioritas. dikarenakan kursi prioritas sudah penuh, maka mereka mencari kursi lain yang bukan merupakan prioritas. Pemandangan berbedapun terjadi, seorang wanita muda yang sedang tertidur dibangunkan oleh petugas untuk memberikan kursinya. Apa tanggapan wanita muda tersebut?

Advertisement

"Ini tempat duduk saya, terserah saya kalau saya tidak mau memberikan tempat duduk saya ke ibu itu!"

Ia tidak memberikan tempat duduknya dengan alasan sudah susah payah berangkat sebelum subuh demi mendapatkan tempat duduk. Petugas yang tidak dapat memaksa akhirnya mencari kursi lain.

Pengalaman berikutnya ketika kereta yang saya naiki tiba di stasiun Lenteng Agung, seorang ibu hamil naik dan segera meminta haknya untuk duduk di kursi prioritas. Terpaksa seorang ibu berdiri dan memberikan tempat duduknya ke ibu hamil tersebut. Tiba-tiba saya mendengar percakapan ibu-ibu di sebelah saya. "Enak banget ya baru naik langsung minta tempat duduk mentang-mentang lagi hamil." Ibu-ibu di sebelahnya menanggapi, "Iya seharusnya dia berangkat lebih pagi. Bukan di jam sibuk kayak gini. Sudah tahu kereta selalu penuh."

Disini saya mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi kesenjangan antara orang-orang prioritas dan non prioritas. Mereka yang non prioritas menganggap bahwa orang prioritas terlalu 'keenakan'. Dengan mudahnya meminta tempat duduk yang mungkin sedang ditempati orang yang sudah bela-belain berangkat pagi. Mereka merasa haknya harus dipenuhi. Maaf, mungkin itu hanya segelintir orang saja, tidak semuanya. Di sisi lain saya berpikir bahwa apa jadinya jika nanti kita yang menjadi orang-orang prioritas? Ibu hamil atau lansia? Maukah kita diperlakukan seperti itu?