Setelah mematung selama berabad-abad lamanya, akhirnya hari ini saya meluangkan waktu dengan sepenuh hati hanya untuk menulis. Saya pernah membaca tulisan blog salah seorang penulis yang baru saja saya temui tanpa sengaja di sosial media. Saya begitu antusias apabila mendengar seputar ‘penulis’, dan itu mengapa saya menjadi seorang yang memiliki keingintahuan yang cukup besar untuk mengikuti kegiatan mereka. Sekaligus, mengintip dan belajar dari tulisan-tulisan yang mereka buat. Saya berterima kasih karena mereka dengan senang hati memberikan cara menulis yang baik dan tentunya tidak pelit membagi daftar bacaan mereka kepada khalayak ramai. Dalam tulisan itu dia mengatakan bahwa “Tulislah apa yang sedang berputar-putar dikepalamu saat ini dengan segera, karena jika kau tidak menuliskannya secara langsung maka kau tidak akan menemukan ide yang sama persis kembali.” Kurang lebih seperti inilah meskipun kalimatnya tidak sama persis karena saya tidak menyalinnya secara langsung. Saya mengangguk setuju dengan kalimatnya meskipun anggukan saya akan terkesan sia-sia karena memang tidak ada yang sedang memerhatikan. Saya sempat mengalami keadaan seperti ini, membiarkan ide terus berputar dikepala tanpa segera menuliskannya. Saya selalu menundanya, alhasil ide itu tak lagi sama persis saat saya mencoba menuangkannya kedalam tulisan. Maka dari itu, saya harus sedikit berdamai dengan kemalasan saya untuk menulis. Bukankah jika kita menginginkan tulisan kita semakin baik harus dimulai dengan banyaknya kita menulis. Seperti kalimat yang dituliskan oleh Gerald Brenan, “Hanya dengan menulis setiap pagi, seseorang dapat menjadi penulis. Jika tidak, dia akan tetap menjadi seorang amatir.” Maka dari itu, saya ingin memulai untuk menuliskan sesuatu dalam hidup saya.

Saya sering geregetan dan ingin melahap semua tulisan-tulisan mereka yang sangat imajinatif. Kalau boleh dikatakan saya sedikit iri jika mereka mampu menulis sebuah cerita yang membuat saya bergidik ngeri. Mengapa saya katakan begitu? Karena bagi saya tulisan yang mereka ciptakan luar biasa. Dan itu membuat saya bergeming beberapa saat lalu mulai menanyakan kepada diri saya sendiri, “Apakah kamu ingin terus-menerus menjadi seorang penulis amatiran tanpa mau berusaha belajar sedikitpun?” Saya terlalu bermimpi menginginkan buku karangan saya segera terpajang di rak-rak toko buku. Mengingat komitmen saya yang belum sepenuhnya terlaksanakan untuk menulis. It sounds grieving. Ada sebuah kalimat dari Toni Morrison yang mengatakan seperti ini, “Kamu harus menemukan sebuah kunci, sebuah petunjuk untuk mendapatkan gaya menulismu sendiri. Sebab, yang kamu miliki hanya dua puluh enam huruf dalam abjad itu, beberapa tanda baca, dan beberapa kertas.” Setelah membaca itu saya terdiam dan mulai berfikir. Sebenarnya kita telah memiliki perlengkapan yang sudah tersedia dengan cuma-cuma. Hanya saja yang kita butuhkan adalah meluangkan waktu untuk menulis itu sendiri.

Advertisement

Jadi, setelah saya disadarkan oleh tulisan sihir mereka mulailah saya kembali memutar haluan kemudi kapal menuju pelabuhan yang bernama tulisan keabadian. Tunggu dulu, kenapa kata-kata saya barusan mendadak jadi puitis begitu ya. Sudahlah, apapun itu yang jelas saya hanya ingin mengajak kamu untuk menulis. Ibarat sebuah foto, tulisan juga mengandung arti yang sama. Mereka berdua menyimpan momen keabadian disana. Tulislah apapun yang ingin kamu tulis. Jangan menghakimi kalimat pertamamu harus sebagus mungkin, karena itu akan membuat kalimat-kalimat yang lain enggan untuk menampakkan dirinya. Biarkanlah tulisan itu mengalir dengan sendirinya. Berjanjilah untuk tidak pernah membiarkan dirimu hanya menjadi seorang yang amatir. Selamat menulis!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya