Pernah Didiskriminasi karena Warna Kulit, Aurelie Moeremans Tetap Bangga Miliki Kulit Kecokelatan

Aurelie Moeremans diskriminasi warna kulit

Diskriminasi warna kulit atau colorism di Indonesia ternyata masih marak terjadi. Orang-orang dengan kulit kecokelatan sering dianggap ‘hitam’, dekil, kotor dan nggak cantik. Hal tersebut tentu membuat mereka nggak nyaman bahkan merasa terdiskriminasi. Seperti yang dialami oleh aktris sekaligus penyanyi Aurelie Moeremans yang memiliki pengalaman buruk dengan kulit kecokelatannya.

Advertisement

Sebagai pekerja seni di industri hiburan, penampilan termasuk hal yang harus diperhatikan. Namun, Aurelie justru mendapat banyak singgungan dan anggapan yang mengarah pada diskriminasi warna kulit. Bahkan pengalaman tersebut nggak hanya datang dari lingkup pekerjaan saja, orang terdekat seperti dari keluarga pun menganggap Aureli kecil adalah anak yang dekil. Menyadari soal diskriminasi warna kulit masih banyak terjadi, ia pun buka suara melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Kamis (8/7) lalu.

Aurelie mengunggah soal colorism dan meminta pendapat pengikutnya soal kecantikan, ternyata hal tersebut mengundang banyak cerita dari warganet

| Credit @aurelie

Diskusi soal colorism yang Aurelie bahas di media sosial berawal dari unggahannya lewat Instastory saat ia merasa miris dengan komentar warganet di suatu video dari beauty vlogger berkulit gelap. Kemudian Aurelie meminta pendapat warganet tentang kecantikan. “Cantik harus putih?! Really?” tulis Aurelie. Pertanyaan di question box tersebut ternyata direspons oleh warganet yang membagikan pengalaman mereka.

Pemain film “Story of Kale” ini merasa senang karena 90% respons di question box tersebut mengaku bahwa cantik nggak harus berkulit putih. Kemudian ia mengungkap bahwa banyak orang yang berkulit kecokelatan nggak percaya diri karena selalu mendapat ledekan dari orang-orang sekitar. Bahkan Aurelie juga berpendapat bahwa iklan-iklan di Indonesia membuat orang berkulit cokelat jadi nggak percaya diri “You know lah yang kulit putih bercahaya, dll. Atau before-nya, cokelat sad. After-nya putih dan happy…” tulis Aurelie.

Advertisement

Menurut Aurelie stigma yang beredar di masyarakat tentang lebih putih lebih menarik harus diubah karena hal tersebut sudah bukan zamannya lagi

https://www.instagram.com/p/CRFwyLlhUOk/?utm_source=ig_web_copy_link

Usai mendapat banyak tanggapan dari warganet melalui Direct Message (DM), tentang pengalaman mereka dengan kulit cokelat, akhirnya membuat Aurelie menyampaikan pendapatnya lebih detail lagi. Hal tersebut diungkapnya melalui unggahan video di feed Instagram. “Ternyata sebanyak itu ya orang yang pernah didiskriminasi karena warna kulit doang.. Sama orang kita sendiri lagi, bahkan banyak yang ngalamin itu dari orang rumah/ inner circle,” tulisnya di keterangan video tersebut.

Advertisement

Aurelie juga mengungkap jika stigma kulit putih lebih baik sudah ada sejak zaman dahulu, dari cerita Dewi Sinta yang cantik dengan kulit putihnya. kemudian berlanjut saat zaman kolonial yang menciptakan ras superior dan inferior, hingga berlanjut saat zaman Jepang yang mengidamkan kulit putih. Akhirnya stigma tersebut melekat bagi masyarakat Indonesia.

“Stigma lebih putih lebih menarik harus berubah sih.. Okay, make sense TAPI INI UDAH TAHUN 2021 cuy! Kita udah merdeka kali! Kenapa sih colorism masih harus ada. Kenapa stereotype jaman baheula masih berlaku sampe hari ini?”

Aurelie mengungkap perbedaan perlakuan saat ia masih tinggal di Belgia dan saat di Indonesia. Dulu ia selalu dipuji dengan kulit kecokelatannya

Diketahui bahwa Aurelie lahir dan sempat menghabiskan sebagian masa kecilnya di Belgia. Hal itu membuatnya mengetahui perbedaan perlakuan orang-orang terhadap warna kulit. “Di Belgia, kulit aku dibilang ‘Bronzée’ artinya tanned yang eksotis bagus gitu loh.. Suka suka banget kata itu karena warna bronze bagus, goldish gitu,” ungkap Aurelie.

Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya miris saat pindah ke Indonesia, karena ia selalu mendapat ledekan dari orang-orang terdekat. “Pas di sini malah dipanggil ‘item’ atau lebih parahnya dibilang ‘dekil’,” tutur Aurelie. Apalagi dalam video yang diunggahnya tersebut tampak Aurelie kecil sedang diledek omnya “Aurelie kaya monyet”. Belum lagi ia juga punya pengalaman buruk di dunia kerja saat diminta suntik putih dan dieksfoliasi oleh production house saat kulitnya terlihat gelap di depan kamera.

Ternyata hal tersebut membuatnya jadi kepikiran setiap hari. “Mungkin menurut dia lucu tapi secara ga sengaja, dengan ngomong hal semacam itu setiap hari, dia bikin aku mikir ‘apa iya aku kayak monyet karena kulit aku lebih gelap?’ tutur Aurelie. Lebih parahnya, video yang pernah ia unggah dulu justru diliput media Indonesia dengan judul “Dulu Hitam Dekil, Sekarang Banyak Lelaki Antri untuk Dapatkan Cewek ini. Siapa Hayo?” begitu judul artikel yang Aurelie unggah dalam video di atas.

Merespons banyaknya cerita yang ia terima tentang colorism atau diskriminasi warna kulit dari para pengikutnya, Aurelie mengajak orang-orang berkulit cokelat untuk bangga

Pengalaman mendapat diskriminasi dari orang terdekat dan lingkungan pekerjaan membuat Aurelie merasa hal tersebut harus ditentang dengan cara membangun rasa bangga dan percaya diri. Ia pun mengajak pengikutnya untuk berbagi cerita pengalaman mereka.

“Jadi boleh ga, buat yang mau share pengalaman kalian: kalian post selfie kalian dengan kulit Bronzée kalian (atau foto jaman kalian mengalami colorism) terus share pengalaman kalian tentang colorism! Biar semua pengalaman kalian bisa aku baca, boleh ga kita bikin hashtag #iambonzee?” tulis Aurelie.

Ia mengajak orang-orang  untuk untuk menegaskan bahwa diskriminasi tersebut sangat meresahkan. “Kita bareng-bareng kasih tau mereka semua betapa colorism itu NGGA ASIK!” imbuhnya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE