Tak Cocok dengan Kurikulum Nasional, Mauren Jasmadi Bagikan Pengalaman Cari Sekolah untuk Anaknya

Cerita ibu Maudy mencari sekolah

Publik tentu masih ingat dengan pencapaian aktris Maudy Ayunda yang menginspirasi banyak orang. Bukan hanya berbakat di industri hiburan Tanah Air, melainkan ia juga dikenal dengan sederet prestasi di bidang akademik. Keberhasilan Maudy Ayunda rasanya tak luput dari peran orang tua, terutama sang ibu Mauren Jasmadi.

Advertisement

Tak sedikit yang penasaran dengan pola asuh yang diberikan. Baru-baru ini Mauren Jasmadi kembali menceritakan perjalanannya mencarikan sekolah terbaik untuk sang anak. Bukan dengan cara yang instan, Mauren justru sempat mengobservasi satu per satu sekolah dasar sebelum memutuskan menyekolahkan anaknya di sana.

Tak terpikir sekolahkan anak di kurikulum internasional, Mauren Jasmadi sempat menemukan kejanggalan yang menurutnya tak sesuai dengan prinsip yang ia pegang

Belakangan di media sosial ramai warganet yang ingin mengetahui dan bahkan mencoba menghitung biaya sekolah Maudy Ayunda. Sebab rasa penasaran mereka, Mauren Jasmadi pun menceritakan bagaimana kisah perjuangannya sebagai mama muda kala itu mencari sekolah untuk sang anak.

Advertisement

Dijelaskan awalnya ibu Maudy Ayunda mengaku tak terpikir untuk menyekolahkan anak di sekolah internasional. Namun, ketika menemani Maudy belajar, ia menemukan sesuatu yang mengganjal dan tak sesuai dengan pandangannya. Di bangku sekolah dasar, Maudy diminta untuk menghafal nama-nama kecamatan yang ada di Jakarta.

“Awalnya, sama sekali tidak terpikir pindahkan anak dari sekolah tersebut. Sampai suatu saat, ketika saya menemani anak-anak belajar. Saya kecewa atas materi pembelajaran kala itu, di mana murid diminta menghafal nama-nama kecamatan di Jakarta & materi-materi hafalan lain yang saya anggap kurang tepat. Sejak itu, ada saja materi belajar anak-anak yang membuat saya tidak nyaman,” paparya melalui keterangan di Instagram, Selasa (13/7).

Advertisement

Ia kemudian mulai mencari sekolah yang sesuai dengan harapan. Perjuangannya pun dibilang tak mudah, karena ia harus mengobservasi satu per satu. Mauren bahkan tak pernah masuk ke ruang kantor, melainkan memilih pergi ke kantin untuk mendengarkan anak-anak berdiskusi, mengintip proses belajar hingga kondisi sosial di lingkungan sekolah.

“Hingga suatu hari, saya mendapatkan 1 SD berkurikulum nasional plus, yang terbilang masih baru & bahkan anak saya baru akan menjadi angkatan ke 2 disekolah itu. Sekolah itu tidak besar, tapi murid-muridnya terlihat sangat santun. Saat saya mengintip di kelas terasa proses belajar yang menyenangkan, melibatkan murid secara aktif, berkomunikasi 2 arah & kelas terlihat penuh semangat dan kegembiraan,” lanjutnya.

Lantas ia membeberkan perjuangannya, menyekolahkan anak sampai harus menjual barang berharga. Mauren pun menegaskan bahwa sekolah internasional bukan sebuah keharusan

Setelah pindah ke sekolah baru di kelas 2 SD, Maudy Ayunda kembali diberi tantangan karena saat itu belum fasih berbahasa Inggris, tetapi karena punya daya juang, ia justru lebih semangat untuk belajar supaya bisa mengimbangi. Dikatakan bahwa anak-anak Mauren akhirnya disekolahkan di sana dari sekolah dasar sampai menengah pertama. Memasuki SMA, Mauren kembali mencari sekolah terbaik, yakni British International Jakarta.

Sebab harganya yang terbilang tinggi, tak seperti sekolah sebelumnya yang tergolong baru.  Maudy pun sampai menawarkan hasil kerja kerasnya di dunia hiburan kala itu untuk bisa bersekolah di SMA harapan. Namun, karena sang ibu tak tega, akhirnya diberikan pilihan bahwa mobil yang bisanya dipakai untuk antar-jemput harus dijual demi biaya pendidikan.

“Sebuah pengalaman cukup berat masa itu namun manis untuk dikenang sekarang. Apakah harus sekolah international? Tentu tidak. Tapi kalau keputusan yang diambil tersebut berbuah lebih banyak pembelajaran kehidupan, layak diperjuangkan bukan?,” papar Mauren Jasmadi.

Pengalaman Mauren Jasmady pun dinilai memperlihatkan bahwa ibu yang cerdas mampu membesarkan anak yang cerdas pula. Bukan hanya berdasarkan biaya yang dikeluarkan, tetapi bagaiman perjuangan untuk memberikan pendidikan terbaik untuk anak. Semoga menginspirasi, ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE