Patah hati juga butuh dirayakan. Kalimat itu ternyata relevan banget jika dihubungkan dengan video konser Didi Kempot di Taman Balekambang yang beberapa waktu lalu sempat viral. Pasalnya, kehadiran Didi Kempot saat ini menjadi sebuah aura tersendiri bagi barisan yang menamakan diri mereka sad boy patah hati”.

Momen yang diabadikan oleh seorang warganet tersebut akhirnya sempat menjadi trending topic di media sosial Twitter untuk beberapa saat. Namanya begitu melambung di mata para pemuda pemudi masa kini. Terlebih bagi mereka yang pernah dan sedang merasakan patah hati. Pada titik inilah akhirnya warganet memberi gelar kepada Didi Kempot sebagai “Bapak Patah Hati Nasional“. Kenangan dan makna dari lirik lagu yang ditulisnya ternyata begitu relate dengan cerita-cerita, kisah pilu, dan ingatan indah kita semua.

Advertisement

Rupanya, sang maestro patah hati, Didi Kempot, menciptakan lirik-lirik lagunya melalui berbagai macam kisah pilu

Maestro patah hati Didi Kempot via wap.mi.baca.co.id

Memang benar kata Agus Mulyadi, “Didi Kempot bukan semata penyanyi. Ia adalah dimensi waktu“. Keberadaan Mas Didi hingga saat ini merupakan kekuatan magis tersendiri bagi mereka yang pernah “nggrantes” di masa lalu, menunggu kepastian, ditinggal pergi, diduakan, dan segala tetek bengek kisah sedih yang tak bisa disebut satu persatu. Mungkin salah satunya juga terinspirasi dari apa yang pernah kamu rasakan.

Stigma campursari sebagai aliran lagu yang kampungan, kuno, dan jadul, justru relevan dengan tren patah hati pemuda masa kini

Campur sari Didi kempot via www.youtube.com

Tak dapat dimungkiri memang, campursari ala Didi Kempot apalagi lirik-liriknya yang menggunakan bahasa Jawa dan menceritakan kisah-kisah cinta “receh” masa lalu yang sering diputar di bis-bis kota, angkringan, tempat makan kuli bangunan, hingga tempat beristirahat penarik becak, menjadikan image campursari menjadi lagu yang “nggak banget” buat anak muda. Terlebih jika diputar di tongkrongan ramai-ramai dan disandingkan dengan playlist zaman sekarang.

Advertisement

Namun rupanya saat ini tren telah bergeser, patah hati seperti menjadi sebuah rangkaian perjalanan hidup setiap manusia yang sudah pasti akan dialami, cepat atau lambat. Dengan kata lain, patah hati adalah bagian dari hidup seseorang, termasuk kita semua. Coba tengok saja, barangkali ada sebagian dari teman-teman kita yang ketika kumpul bersama, playlist-nya adalah lagu-lagu sendu yang penuh dengan tema rindu dan senja, namun lain cerita ketika mereka mendengarkannya melalui earphone secara diam-diam, barangkali playlist-nya berubah menjadi campursari ala Didi Kempot.

Mengilhami lirik lagu Didi Kempot adalah tingkat jatuh cinta sekaligus sakit hati paling tinggi yang dapat kamu rasakan

Penggalan lirik sewu kuto via www.youtube.com

“Umpamane kowe uwis mulyo, lilo aku lilo.”

Penggalan lirik lagu “Sewu Kutho” tersebut menjadi salah satu legenda sakit hati yang pernah dirasakan oleh sebagian orang. Gimana nggak, Didi kempot mengajarkan kita sebuah tingkat keikhlasan yang mungkin mustahil dilakukan jika menjadi orang yang tengah patah hati. Namun dia melewati ketidak mungkinan tersebut.

Itu baru satu lagu aja lo, masih banyak banget lagu-lagu Didi Kempot yang mungkin jika didengarkan akan membawakan kita sebuah elegi tersendiri, ingatan tentang bagaimana kita disakiti dan ditinggal pergi. Seperti misalnya kisah-kisah yang terkandung dalam lirik lagu “Sewu Kutho”, “Tanjung Mas Ninggal Janji”, “Layang Kangen”, hingga lagu legendarisnya, “Setasiun Balapan”.

Akhirnya, kita semua harus berterimakasih kepada Didi Kempot, berkatnya, patah hati bukan sesuatu yang harus disembunyikan karena memang semua patut dirayakan, termasuk kesedihan itu sendiri. Sehat selalu, Didi Kempot!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya