Jerome Polin Soroti Orang yang Normalisasi Menyontek Saat Ulangan: Kok Kebalik?

Jerome Polin soal normalisasi menyontek

Nama Jerome Polin sudah tak terdengar asing di telinga anak muda. YouTuber ini dikenal kerap membagikan konten perihal matematika hingga kehidupan sebagai mahasiswa di Negeri Sakura. Sebagai seorang konten kreator, Jerome juga seringkali menyuarakan pandangannya tentang suatu hal. Tak jarang pendapat yang diberikan mampu menginspirasi orang lain lantaran dinilai bijak.

Advertisement

Seperti baru-baru ini, pria asal Surabaya tersebut memberikan pendapatnya soal sistem pendidikan yang seringkali terjadi pada murid di Indonesia. Di mana kejujuran masih menjadi momok yang seringkali tak bisa diterapkan dengan baik di lingkungan sekolah. Hal ini merujuk pada banyaknya kasus anak yang menyontek justru marah-marah atau menyindir ketika tak diberikan jawaban oleh temannya.

Jerome Polin merasa miris dengan kebiasaan “menormalisasi” budaya sontek. Ia tekankan bahwa dari awal niat tersebut sudah salah

Jerome Polin utarakan keresahannya | Credit: Instagram @jeromepolin

Jerome merasa miris dengan budaya pendidikan di Indonesia yang kerap menormalisasi tindakan yang salah. Hal ini terjadi ketika ada seseorang yang tak mau memberikan sontekan, maka langsung dinilai pelit, ambisius hingga tak mau berbagi. Padahal, konteksnya menurut Jerome sudah berbeda. Menyindir kepada teman yang bekerja keras bukanlah hal bijak lantaran tak percaya dengan kemampuan diri sendiri.

“Orang gak kasih sontekan pas ulangan dikatain. Lah, dari awal kan yang minta sontekan pas ulangan udah salah. Kok jadi ke balik. Ngerjain PR, belajar yang rajin, gak nyontek pas ulangan, dll itu hal yang biasa. Jangan dibalik,” tuturnya dalam keterangan Instagram Story belum lama ini.

Advertisement

Lantas, Jerome mengingatkan bahwa hindari yang namanya menormalisasi perbuatan yang salah. Apalagi dengan hadirnya media sosial, anak-anak yang pintar dan mengedepankan kejujuran justru seringkali digambarkan sebagai sosok yang paling egois dan tak mempunyai teman. Jerome khawatir jika anggapan seperti ini terus dilanjutkan, maka bukan tak mungkin orang-orang jadi sulit menjadi pribadi yang punya integritas.

“Harusnya kan itu gak benar. Cuma ya… selama ini, kita yang salah jadi ‘normal’. Jadi susah buat orang mau jujur dan rajin. Padahal harusnya kebalik,” sambungnya.

Dalam penuturannya, mahasiswa Waseda University ini memberikan perbandingan dengan sistem pendidikan di Jepang

Advertisement

Merasa khawatir dengan sikap yang benar menjadi salah karena mayoritas berkata demikian. Jerome ingatkan untuk menyikapi segala sesuatunya dengan bijak. Hal ini juga sebagai tamparan dari banyaknya konten kreator di media sosial yang kerap menyindir orang-orang yang dinilai tak mau memberikan sontekan ketika ulangan. Atau mereka yang dihakimi egois hanya karena berjuang lebih keras untuk mendapat hasil terbaik di sekolah.

Sebagai seseorang yang dekat dengan dunia pendidikan di Jepang, pria berusia 23 tahun ini lantas memberikan gambaran. Kata Jerome, siswa di sana bahkan tak mempunyai kesempatan untuk memanggil teman saat ujian. Hal ini juga sejalan dengan sistem pendidikan mereka yang ketat.

“Aku ngobrol sama teman-teman Jepang. Mereka saking ketatnya, bahkan waktu ujian ga ada kesempatan sama sekali buat manggil teman. Sekali ketahuan dicoret, dilaporin orang tua,” papar Jerome.

Ia pun berharap kejujuran bisa selalu diterapkan murid-murid yang ada di Indonesia. Menurutnya di zaman sekarang seseorang sudah sepatutnya saling mendukung, bukan justru menjatuhkan seseorang hanya karena tak sependapat. Apalagi sampai menuding macam-macam karena merasa dirinya kurang mampu dan tidak ada yang membantu.

“Kalau dibalik, ya ga bakal maju-maju. Orang-orang yang mau pinter jadi takut ga punya teman. Jangan normalisasi hal yang salahlah. Kalau kamu yang malas, ya jangan ngajak-ngajak yang lain buat malas juga. Jangan ngejek-ngejek orang yang benar di saat kamu yang salah,” tutupnya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE