Baru Berusia 15 Tahun, Peran Lea Ciarachel sebagai Istri Ke-3 dalam Sinetron Banjir Kritikan

Peran Lea Ciarachel istri ketiga

Gelombang protes untuk sinetron “Suara Hati Istri – Zahra” makin tinggi lantaran adegan suami-istri diperankan oleh aktris yang baru berusia 15 tahun. Sinetron ini mengisahkan tokoh bernama Zahra yang menjadi istri ketiga Pak Tirta, diperankan oleh Panji Saputra. Selain menyeret isu poligami yang kerap memancing perdebatan panas di Indonesia, sinetron ini juga banjir kritikan karena menggaet aktris Lea Ciarachel untuk peran Zahra. Lea yang masih di bawah umur menjadi sorotan, apalagi ia memeragakan adegan suami-istri yang tak sesuai dengan umurnya.

Advertisement

Semenjak penayangannya, sinetron ini terus menuai protes dan kritikan. Bukan cuma dari kalangan orang biasa, figur publik pun turut buka suara. Bahkan publik menuntut lembaga berwenang untuk menindak tegas stasiun televisi yang memberi izin penayangan sinetron “Suara Hati Istri – Zahra”. Sinetron ini dianggap kurang mendidik.

Sinetron “Suara Hati Istri-Zahra” dinilai `mempopulerkan` poligami, pedofilia, sampai pekerja di bawah umur, warganet minta KPI turun tangan

Mengisahkan rumah tangga Pak Tirta dengan tiga istri, sinetron ini sebenarnya sudah menuai protes. Isu poligami masih menimbulkan kontroversi hingga sekarang. Belum lagi, Pak Tirta digambarkan sebagai lelaki berusia 39 tahun dalam sinetron tersebut. Sementara itu, Lea yang berumur 15 tahun harus menjalani adegan suami-istri sebagai istri ketiga mulai dari adegan ciuman, malam pertama, hingga kehamilan. Banyak warganet yang menyayangkan karena Lea masih sangat muda untuk memerankan karakter itu. Gara-gara itu, sinetron ini dinilai `mempopulerkan` pedofilia. Pun Lea tergolong pekerja di bawah umur yang berarti ia masih anak-anak.

Advertisement

Sampai detik ini, Rabu (2/6), kata “Zahra” menempati posisi pertama di trending topic Twitter. Banyak warganet yang mencuitkan tanggapan mereka soal sinetron ini. Mereka mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menindak tegas stasiun televisi yang menayangkan sinteron “Suara Hati Istri – Zahra”. Bukan kali ini aja sinetron dengan tayangan nggak mendidik lolos dari pengawasan. Alhasil warganet pun makin geram.

“tw/ pedophilia ini serius?? aktrisnya masih umur 15 tahun harus ngelakuin adegan kayak gini sama aktor yang usianya 39?? 39!!! kenapa pedofilia diglorifikasi & diperbolehkan ditayangkan sih?? sumpah gangerti lg bisa2nya bikin role istri pake aktris umur 15 tahun…,” tulis akun @khansaneira

Masih menungu wujud Pancasila dalam tindakannya KPI terhadap sinetron Suara Hati Istri – Zahra,” komentar akun @willy4s di akun Twitter KPI

“Gua jadi keinget D. O. Pas main drama sama Kim so Hyun. Kim so Hyunnya masih dibawah umur. Dan disana ada adegan kissing. Dan D. O. pun ga mau ngelakuin adegan kissing. Akhirnya diganti nyium payung. Kek yg drakor aja tu masih mikirin kalo si aktris dibawah umur. Jd adegannya-,” tulis akun @_park__chanyeol.
Akun ini membandingkan dengan industri hiburan Korsel yang lebih bijak soal aktor di bawah umur yang melakukan adegan ciuman.

Bukan cuma kalangan biasa, figur publik seperti Ernest Prakasa pun melayakan protes: apakah ini wajar?

Kehebohan peran Lea Carachiel dalam sinteron “Suara Hati Istri – Zahra” nyatanya bikin figur publik tak tinggal diam. Seperti Ernest Prakasa, aktor sekaligus komika ini turut melayangkan protes. Ia mengecam pihak stasiun televisi yang merekrut Lea untuk peran istri ketiga. Padahal Lea masih di bawah umur. Bahkan ia tak segan menyebut dengan terang stasun televisi bersangkutan.

Karna banyak teman-teman yang bisa meramaikan masalah ini tapi terikat oleh etika, kontrak kerja, ataupun rasa tidak enak hati, maka biar saya yang bersuara. Wahai @indosiar, ini keterlaluan. Sangat amat keterlaluan. Pemeran Zahra itu usianya masih 15 tahun. Okelah tolak ukur TV adalah rating, tapi tolak ukur manusia adalah nurani dan akal sehat. Menurut kalian ini wajar? 😢,” tulis ernest di akun Instagram-nya.

Ernest memahami bila stasiun televisi memang identik dengan rating. Tak bisa dimungkiri, rating tinggi menjadi salah satu tolok ukur. Namun, Ernest nggak bisa menoleransi sinetron yang mengabaikan akal sehat dan nurani hanya demi rating aja. Menganggap stasiun televisi yang menyanagkan sinetron “Suara Hati Istri – Zahra” udah keterlaluan,  ia berani memberikan krtitikan dan protes keras.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE