Tanggapi Polemik Sinetron ‘Suara Hati Istri: Zahra’, Fanny Ghassani: Apanya yang Salah?

Tanggapan Fanny Ghassani Suara Hati Istri

Beberapa waktu yang lalu dunia hiburan Tanah Air dihebohkan dengan adegan di sinetron “Suara Hati Istri: Zahra” yang dinilai nggak pantas tayang. Pasalnya sinetron tersebut menceritakan tentang Zahra sebagai istri ketiga yang diperankan oleh Lea Ciarachel yang baru berusia 15 tahun. Sinetron yang tayang di Indoesiar ini akhirnya menuai kecaman karena dinilai bermuatan pedofilia dan pernikahan di bawah umur.

Advertisement

Kecaman terhadap sinetron tersebut datang dari berbagai pihak termasuk kalangan seleb Tanah Air. Namun, di tengah banyaknya kecaman, pemain sinetron Fanny Ghassani justru buka suara tentang keheranannya terhadap kecaman tersebut. Fanny mempertanyakan apa yang salah dengan aktris usia 15 tahun yang berperan sebagai istri ketiga.

Fanny menceritakan pengalamannya saat bermain sinetron di usia 16 tahun. Menurutnya seni seorang aktris adalah ketika bisa memerankan tokoh yang berbeda dari kehidupannya

Keheranan Fanny terhadap kecaman sinetron yang diperankan oleh aktris belia memang bukan tanpa alasan. Bagaimana pun ia juga seorang aktris yang membintangi sinetron sejak usia belasan tahun. “Aktris umur 15 tahun berperan sebagai istri, gimana masa depan anak bangsa? Wih… berat,” ujar Fanny saat mengawali pendapatnya melalui video di IGTV pribadinya.

Advertisement

“Sekedar sharing aja aku waktu umur 16 tahun aku berperan sebagai Kyla di Sinetron Cinta Fitri. Saat itu aku berpacaran dengan Aldo yang bermain saat itu adalah Adly Fairuz, nikah dan akhirnya punya anak namanya Khanza,” imbuh Fanny. Menurutnya saat pemain sinetron memerankan karakter yang berbeda dari kehidupan aslinya, justru di situlah letak seni sebagai aktris.

Menurut Fanny, tontonan nggak harus mendidik karena bisa saja tontonan hanya untuk hiburan

Advertisement

Sinetron “Suara Hati Istri: Zahra” memang dikecam karena dianggap sebagai tontonan yang nggak mendidik. Begitu pula dengan berbagai sinetron lain yang meski nggak dikecam tapi selalu dianggap sebagai tontonan yang nggak mendidik. “Tontonan itu nggak harus mendidik. Ini opini aku! Banyak banget sinetron yang aku tonton zaman kecil. Menurut aku dampaknya nggak buruk dan sampai sekarang pun hidup aku baik-baik saja,” beber Fanny.

Fanny pun cukup banyak menyinggung tontonan di televisi yang menurutnya juga nggak mendidik. “Kalau sinetron nggak mendidik, lantas apa yang mendidik? Apakah saling hujat di TV itu mendidik? Apakah saling hujat di konten YouTube atau Instagram itu mendidik? Apakah teriak-teriak ngomong kasar itu mendidik? Nggak kan? Apakah gimmick mendidik? Nggak kan?” kritiknya.

Pada kasus sinetron “Suara Hati Istri: Zahra”, Fanny berpandapat bahwa  KPI sudah bekerja dengan baik dalam menyaring tontonan televisi

Menurut Fanny, sinetron Indonesia cukup aman ditonton karena KPI sudah memertimbangkan baik buruknya sebelum ditayangkan. “Aku percaya banget KPI sudah mengerjakan tugasnya dengan baik, nggak mungkinlah KPI itu tidak menyaring dulu (tayangan), nggak memertimbangkan baik buruknya menurut itu aku nggak mungkin. Toh di TV kita nggak ada tuh adegan ciuman, ciuman bibir nggak ada tuh, pegangan tangan iya. Satu kasur iya, tapi kan nggak ada adegan ‘ranjang’ gitu ya. Jadi sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan menurutku,” jelas Fanny.

Meski berbeda pendapat dengan kebanyak orang, Fanny menegaskan bahwa ia sangat terbuka dan menghargai perbedaan pendapat. Fanny juga berharap pendapatnya bisa menjadi penyeimbang informasi. “Tapi aku menghargai semua perbedaan pendapat, karena buat aku semua orang bebas berpendapat. Aku bicara dari sudut pandang aku, berdasarkan pengalaman aku. Mudah-mudahan bisa menyeimbangkan informasi yang kalian dapat sebelumnya,” ungkapnya.

Perbedaan pendapat yang Fanny ungkapkan memang cukup banyak menimbulkan pro dan kontra. Banyak yang menyetujui pendapat Fanny pun banyak yang mengkritiknya

Berbagai komentar warganet | Photo by @fannyghassani via www.instagram.com

Saat publik mengecam tontonan yang dinilai menyalahi aturan dan nggak layak tayang, Fanny justru menyuarakan pendapatnya yang mempertanyakan letak kesalahan sinetron tersebut. Berbagai komentar dari warganet pun akhirnya meramaikan unggahan Fanny tersebut. Banyak yang setuju dengan Fanny karena sinetron merupakan seni peran dan segala sesuatu yang ada dalam sinetron merupakan akting, sehingga sudah melalui banyak pertimbangan.

Namun, ada juga yang mengkritik Fanny karena pendapat tersebut nggak sesuai dengan undang-undang yang berlaku saat ini. Ada pula warganet yang menyoroti adegan di ranjanglah yang dipermasalahkan dan sangat nggak pantas dilakukan. Mereka pun menganggap pengalaman Fanny nggak bisa disamakan dengan sinetron saat ini.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Pemerhati Tanda-Tanda Sesederhana Titik Dua Tutup Kurung

CLOSE