Ungkap Pendapat Soal Qatar Tolak LGBT di Piala Dunia, Gita Savitri Banjir Kritikan

Gelaran Piala Dunia Qatar 2022 sempat diwarnai pro dan kontra terkait kebijakan dan peraturan bagi para suporter atau penonton, salah satunya yang menyangkut larangan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Hal ini juga turut dibahas oleh YouTuber Indonesia ternama yang bermukim di Jerman, Gita Savitri atau Gitasav.

Advertisement

Gitasav memang dikenal sebagai influencer yang sering menyuarakan pemikiran-pemikiran kritisnya, termasuk soal kebijakan Qatar tersebut. Namun opininya kali ini ternyata mengundang pro kontra, terutama di kalangan warganet Indonesia. Bahkan, namanya sampai trending di Twitter pada Jumat (25/11) siang.

Gita Savitri menyebut Qatar homophobia karena kebijakan menolak LGBT pada gelaran Piala Dunia 2022

Gitasav LGBT

Tangkapan layar unggahan Instagram Story Gitasav

Hal ini bermula ketika seorang warganet meminta pendapatnya soal sikap Timnas Jerman yang berfoto dengan pose menutup mulut sebelum pertandingan melawan Jepang pada Rabu (23/11) kemarin.

“Git pendapat timnas Jerman foto tutup mulut sebelum pertandingan?” tulis seorang warganet dalam sebuah question box di Instagram Story Gitasav.

Advertisement

Perlu diketahui, Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengungkap kalau pose tutup mulut tim mereka adalah bentuk protes terhadap pelarangan penggunaan atribut yang mendukung LGBT. Hal ini membuat timnas Jerman nggak boleh memakai ban kapten pelangi mereka atau One Love yang merupakan atribut budaya mereka di Qatar, karena menyerupai dukungan pada LBGT.

Melalui unggahan di Instagram Story pada Jumat (25/11) dini hari, Gitasav melihat tindakan timnas Jerman sebagai virtue signaling atau menunjukkan citra diri yang tinggi, tapi ia juga berpendapat kalau fobia LBGT adalah hal yang nyata.

Advertisement

“Di satu sisi kaya virtue signaling ya, kaya bisakah kamu melakukan sesuatu yang lebih dari itu? Di sisi lain, fobia LGBT memiliki konsekuensi yang lebih nyata,” tulis Gitasav.

Lebih lanjut perempuan 30 tahun itu berpendapat bahwa banyak orang-orang kehilangan kehidupan mereka karena masalah seksualitas. Seperti adanya penolakan atau kebijakan-kebijakan yang melarang atau menentang keberadaan kaum mereka.

“Orang-orang kehilangan nyawa karena jenis kelamin dan seksualitas mereka, jadi itu lebih baik daripada tidak mengatakan apa-apa sama sekali,” lanjut Gitasav.

Nggak hanya itu, Gitasav juga memandang bahwa Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) telah korup, sementara Qatar membenarkan homofobia atau ketakutan pada LGBT dengan kebijakan yang mereka terapkan di Piala Dunia 2022. Apalagi, alasan Qatar menolak berbagai hal tentang LGBT karena menganggap hal itu bukan budaya mereka sebagai negara muslim. Sementara itu, Gitasav justru menganggap kebijakan tersebut adalah hal yang tak wajar.

“FIFA korup dan Qatar membenarkan homofobia dengan menggunakan ‘ini adalah budaya kita’ tidak benar,” pungkas Gitasav.

Gita Savitri dibanjiri kritikan warganet yang menganggapnya mendukung LGBT

Gitasav LGBT

Potret Gitasav | Foto dari Instagram Gitasav

Pendapat Gitasav soal salah satu kebijakan Qatar di Piala Dunia kali ini mengundang sejumlah komentar negatif warganet Tanah Air. Pendapat Gitasav dinilai sekelompok warganet kurang mencerminkan dirinya sebagai seorang muslimah yang harusnya menolak keras LGBT seperti kebijakan Qatar.

Hingga artikel ini Hipwee terbitkan nama Gitasav sudah dibahas lebih dari 11 ribu cuitan di Twitter, karena semakin banyak yang mengomentari pendapat Gitasav itu. Melansir dari CNN, diketahui saat ini FIFA sendiri sudah memperbolehkan atribut pelangi yang sering dikaitkan dengan kampanye LGBT digunakan saat pertandingan Piala Dunia Qatar 2022 berlangsung mulai di laga Wales vs Iran pada Jumat (25/11).

Kebijakan Qatar menyoal atribut LGBT itu memang sempat mendapat kecaman keras dari negara-negara Barat karena disebut nggak memiliki solidaritas. Namun, pemerintah Qatar sendiri sudah menegaskan bahwa mereka nggak pernah mediskriminasi bila ada pengunjung LGBT yang ingin meramaikan Piala Dunia di Qatar.

Advertisement

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE