Selain Batik yang Kamu Kenal, 5 Kain Tradisional Indonesia ini Juga Tak Kalah Indahnya. Punya?

Kain tradisional Indonesia

Bukan Indonesia namanya jika tidak menyimpan pesona keberagaman di dalamnya. Pesona itu salah satunya diwujudkan melalui keberagaman karya budayanya, yaitu kain tradisional. Kain tradisional yang paling terkenal hingga ke mancanegara ialah batik.

Advertisement

Nah, faktanya nggak hanya batik lo, Indonesia ternyata memiliki 33 jenis kain tradisional dari berbagai daerah yang masuk menjadi warisan budaya tak benda menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari sejumlah kain tersebut, beberapa di antaranya adalah songket, kain tapis, kain ulos, lurik, dan ulap doyo. Simak yuk ulasannya!

1.  Songket, kain mewah yang kini banyak dipakai untuk upacara perkawinan

Kain Songket | Andiamd (CC BY-SA 4.0) Via Wikimedia

Songket merupakan jenis kain tradisional yang berasal dari pulau Sumatra. Songket sering dikaitkan dengan kemaharajaan Sriwijaya, sehingga lokasi keberadaan Songket tak lepas dari lokasi yang pernah berada di bawah kekuasaannya. Lokasi tersebut di antaranya Palembang, Minangkabau, hingga Lombok. Dilansir dari wikipedia, songket ini ditenun dengan tangan menggunakan benang berwarna emas dan perak. Bahan kain yang umum digunakan untuk membuat songket adalah sutra, katun, dan kain sutra.

Kain songket juga memiliki motif tradisional yang sudah menjadi ciri khas budaya wilayah penghasilnya, contohnya motif Buah Palo dan Saik Kalamai. Pada mulanya, songket merupakan kain mewah yang dikenakan para bangsawan. Namun kini, harga songket lebih bervariasi karena dapat dibuat dari benang emas sintesis. Kain songket ini sampai sekarang menjadi pilihan busana adat perkawinan di  Palembang, Minangkabau, hingga Aceh. Jika kamu ingin menemukan pusat kerajinan songket, letaknya tersebar di banyak tempat, seperti Sumatra, Kalimantan, hingga Lombok.

Advertisement

2.Kain tapis, khas dengan motif flora fauna yang pembuatannya sampai berminggu-minggu lamanya

Kain Tapis | Midori (CC BY-SA 3.0) Via Wikimedia

Kain tapis merupakan busana tradisional asal Lampung yang berbentuk menyerupai sarung dan dipakai oleh wanita di Lampung. Dikutip dari indonesiakaya, busana ini identik dengan warna gemerlap, khususnya warna emas. Motif-motif dekorasi benang emas atau perak pada kain ini dibuat dengan teknik sulam atau teknik bordir saat ini.

Motif yang digunakan, umumnya mengangkat tema alam, yaitu flora dan fauna. Motif-motif tersebut bisa berbeda oleh pengaruh asal daerahnya. Proses pembuatan kain tapis yang tradisional terbilang rumit sehingga bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu lamanya. Harganya pun juga relatif mahal karena rumitnya proses pembuatannya.

3. Kain ulos, mengandung nilai budaya Batak yang kental

Kain Tenun Ulos | Tropenmuseum (CC BY-SA 3.0) via Wikimedia

Kain ulos merupakan kain tradisional dari Batak, Sumatra Utara. Ulos dibuat dengan menggunakan alat tenun bukan mesin, seperti cara membuat kain songket. Kain ini memiliki warna dominan merah, hitam, dan putih dan dihiasi dengan benang emas dan perak. Ulos menjadi barang penting yang memiliki nilai-nilai budaya yang khusus di tengah masyarakat Batak. Oleh karena itu, mereka memiliki peraturan penggunaan ulos tersendiri yang dituangkan dalam aturan adat. Maka dari itu, mulanya, ulos hanya dikenakan menjadi selendang atau sarung saja. Namun, kini kita bisa menjumpainya dengan bentuk suvenir pakaian, tas, hingga dompet.

Advertisement

4. Kain lurik, busana abdi dalem yang kini semakin variatif

Menenun Lurik | Distifani (CC BY-SA 4.0) via Wikimedia

Kain lurik merupakan kain tradisional khas Jawa yang bermotif garis-garis membujur vertikal. Dilansir dari kumparan, awalnya kain lurik ditenun menggunakan benang katun dari kapas yang dipintal dengan tangan. Penggunaan benang itu menjadikan kain lurik bertekstur seolah kasar, namun justru itulah yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Kain lurik kini juga memiliki warna yang lebih variatif, berbeda dari sebelumnya yang hanya dibuat dengan warna hitam dan putih saja. Di Yogyakarta, kamu akan banyak menjumpai orang yang menggunakan kain lurik di lingkungan keraton. Itu karena kain ini digunakan sebagai busana dinas prajurit dan abdi dalem. Pengrajin kain lurik di Yogyakarta di antaranya berada di wilayah Jogokaryan, Kraoyak Wetan, Sewon, Bantul.

5. Kain tenun ulap doyo, terbuat dari serat daun yang berserat kuat

Penenun Ulap Doyo | Ezagren (CC BY-SA 4) via Wikimedia

Kain tenun Ulap Doyo berasal dari suku Dayak Benuaq, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Nama ‘doyo’ pada kain ini merujuk pada bahan utamanya yaitu serat daun doyo. Daun ini merupakan tanaman sejenis pandan yang berserat kuat dan tumbuh di pedalaman Kalimantan.

Untuk dijadikan bahan baku tenun doyo, daun ini dikeringkan dan dibuat serat halus, baru kemudian dilinting hingga membentuk benang. Perempuan di Suku Dayak Benuaq membuat ulap doyo ini menjadi berbagai kerajinan, seperti pakaian, tas, kemeja, dan lain sebagainya.

Lima jenis kain tradisional di atas hanyalah sebagian kecil dari macam-macam kain tradisional di Indonesia lo. Ternyata, Indonesia menyimpan keberagaman kreasi yang patut kita lestarikan ya, SoHip. Dari lima jenis kain tradisional ini, apakah kamu sudah punya salah satunya? 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE