Belajar Minimalist Beauty & Fashion ala Lyfe with Less. Hei, Minimalis itu Beda lo dengan Pelit!

wawancara founder lyfewithless

Duh, baju ini disimpan di mana lagi, ya? Lemariku udah penuh banget 🙁

Serumku masih ada sih, tapi kapan lagi kan harga serum jadi segini murahnya? Beli aja deh!

Advertisement

Sebagian besar cewek mungkin pernah ya mengalami keresahan yang sama? Belum selesai pakai produk A, stok lagi produk B, C dan D. Padahal sebenarnya kita belum tentu butuh-butuh amat, tapi kamu tetap membelinya karena godaan diskon. Kamu tahu nggak sih, kalau menumpuk terlalu banyak barang bisa jadi masalah di kemudian hari? Duit amblas, ruang tempat tinggalmu juga jadi semakin sesak.

Berbekal dari pengalaman serupa, seorang pegiat minimalist living, Cynthia S Lestari akhirnya tergerak membangun komunitas minimalist living melalui akun Instagram Lyfe with Less. Nggak cuma itu, Lyfe with Less juga kerap menyentil soal pemakaian produk fesyen dan kecantikan yang terlalu berlebihan. Lebih lengkapnya, simak yuk rangkuman obrolan Hipwee sama Cynthia, sang pendiri Lyfe with Less berikut ini!

Apa itu Lyfe with Less? Kira-kira seperti apa ya awal terbentuknya komunitas ini? Begini nih ceritanya~

Sejarah berdirinya Lyfe with Less | Credit via Website Lyfe with Less

Lyfe with Less tercetus dari pengalaman pribadi Cynthia yang sempat memiliki cukup banyak barang menumpuk dan nggak semuanya terpakai. Cynthia lantas mencoba memilah dan mulai mengeliminasi barang yang nggak terpakai untuk dijual kembali sebagai produk preloved di salah satu platform online.

Advertisement

Ternyata selain membuat kamar kosnya menjadi lebih lapang dan tertata, ia juga masih bisa mendapatkan uang yang lumayan sebagai hasil penjualan barang preloved-nya. Tak hanya itu, setelah melakukan aksi decluttering tersebut, ia merasa jadi lebih enteng dan tenang. Ia jadi tertarik untuk membagikan pengalamannya dalam bentuk jurnal di Instagram seputar memilah barang dan mulai menjalani gaya hidup yang lebih minimalis.

Pada bulan Desember 2018, akhirnya Cynthia mulai mendirikan sebuah komunitas yang diberi nama Lyfe with Less dengan visi misi ingin mengenalkan tentang apa itu gaya hidup minimalis dan bagaimana cara memulainya kepada anak muda Indonesia. Ia ingin komunitas ini bisa bertumbuh jadi media yang menjadi panduan serta wadah bagi para pegiat gaya hidup minimalis. Ia mengembangkan komunitas ini lewat media sosial Instagram dan saat ini sudah merambah ke beberapa platform lainnya seperti website, podcast di Spotify, dan juga Telegram.

Bukan berarti bebas hambatan, masa-masa pandemi ini juga ternyata jadi tantangan tersendiri untuk Lyfe with Less membangun komunitasnya

Pandemi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam membuat program yang bisa memperluas jangkauannya dalam mengenalkan gaya hidup minimalis. Ia juga sedang mengembangkan timnya supaya bisa membuat program-program yang relate dan tetap dekat dengan komunitasnya. Selain itu, ada dua tokoh influencer yang juga menjadi inspirasinya dalam membangun komunitas ini, yaitu The Minimalist yang membagikan banyak hal seputar gaya hidup minimalis melalui buku dan media sosial mereka.

Advertisement

Apa aja sih program yang dijalani oleh Lyfe with Less? Kira-kira apa saja ya yang bisa didapat dari menjalani hidup minimalis?

Kampanye Lyfe with Less | Credit via Instagram @lifewithless

Sebagai komunitas yang ingin berbagi pengalaman dan manfaat dari gaya hidup minimalis, Lyfe with Less memiliki beberapa kampanye menarik yang disampaikan melalui media sosial Instagram. Salah satu kampanye yang gencar digaungkan adalah #PakaiSampaiHabis yang berisi sebuah ajakan untuk menggunakan produk yang kita pakai sampai benar-benar habis.

Gerakan ini bisa kamu terapkan untuk produk skincare dan makeup lo, yaitu dengan cara menggunting produk menjadi dua bagian supaya penggunaannya lebih maksimal. Hayo, seberapa sering kamu menyia-nyiakan produk kamu yang sebenarnya masih sisa sedikit di dalam kemasannya?

Selain itu, ada pula kampanye #BijakBerkonsumsi yang mengajak kita untuk benar-benar mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli suatu produk. Gerakan ini memberikan banyak manfaat, di antaranya bisa menekan pengeluaran impulsif dan lebih bijak saat hendak memutuskan untuk membeli suatu produk. Belanja karena butuh? Yes! Belanja karena lapar mata dan digoda diskon? No~

Untuk para pemula yang pengin menerapkan gaya hidup minimalis, kira-kira apa saja sih langkah-langkah yang bisa dilakukan? Ini kata Cynthia!

Langkah-langkah yang bisa dilakukan | Credit via Instagram @lyfewithless

Menurut Cynthia, langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menerapkan minimalist living yaitu mencoba untuk memakai produk yang kamu beli sampai habis, semaksimal mungkin. Ini hal yang paling mudah dan murah, yang bisa kamu lakukan sekarang. Misal, kamu membeli beberapa produk kecantikan, usahakan untuk menggunakannya sampai habis, baru kamu bisa membelinya kembali. Dengan begitu, kamu jadi tahu mana produk yang cocok dan kurang cocok. Kalau ternyata kurang cocok dan isi produk masih banyak, kamu bisa menjualnya dengan catatan produk tersebut dalam kondisi layak (atau malah belum terpakai).

Begitu juga untuk produk fesyen. Cynthia mengungkapkan bahwa sebenarnya kamu nggak perlu mengosongkan isi lemarimu serta merta dalam satu waktu kok. Kamu bisa mulai menggunakan konsep one in one out saat membeli pakaian. Jadi, kamu bisa membeli satu pakaian baru dan mengeluarkan pakaian lamamu yang sudah sempit atau rusak. Tapi mentang-mentang kepengin banget sama baju A, bukan berarti ‘tinggal mengeluarkan baju di lemari’ bisa jadi alasan lo.

Yang pasti kamu harus tetap memikirkan masak-masak, setiap barang yang kamu beli karena tanggung jawabmu penuh sama barang tersebut sampai nanti nggak bisa terpakai lagi. Selain membuat tempat tinggal lebih lapang, menurut Cynthia kebiasaan memilah barang ini bisa membantunya berpikir lebih jernih dan terlatih dalam memilah-milah perasaan lo.

Terakhir, Cynthia juga menyampaikan pesan mengenai minimalist living untuk para anak muda di era modern

Lebih bijak saat berbelanja produk baru | Credit via Instagram @lyfewithless

Menurut Cynthia, nggak apa kok kalau kamu nggak selalu mengikuti tren produk kecantikan atau fesyen yang sedang digandrungi. Nggak usah takut untuk hidup secukupnya. Cynthia juga memberi pesan bahwa meski awalnya retail therapy terasa menyenangkan, tapi rasa puasnya nggak bakalan langgeng, sementara produk yang sudah kita beli harus kita pertanggungjawabkan.

Minimalist living itu juga sebenarnya bukan hal yang mahal atau rumit. Bukan juga soal pelit, tapi lebih ke soal pembatasam produk yang kita gunakan. Bukan pula soal semata-mata ‘hanya menggunakan produk eco-friendly’ saja tapi lebih ke soal pemakaian secukupnya, nggak berlebihan. Jadi beda ya sama pelit, yang bisa saja beli stok barang diskonan, minimalist living itu soal membeli barang berkualitas dengan jumlah cukup.

Yuk lebih bijak dalam membeli produk kecantikan dan fesyen, supaya kamu nggak terlena dan malah terjebak dalam gaya hidup konsumerisme, yang nggak cuma bisa berdampak pada kesehatan mental dan finansialmu tapi juga berefek buruk pada bumi kita. Buat yang tertarik menjelajah lebih jauh seputar minimalist living, kamu bisa kepoin tulisan Cynthia dan timnya di Instagram @lyfewithless dan website Lyfe with Less ya!

Semoga artikel ini bisa menginspirasi ya, SoHip! 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE