Ternyata Tak Semua Perusahaan Bisa Sukses Go Digital. Banyak yang Berakhir Cuma Bakar Uang!

alasan gagal go digital

Kalau kamu amati, sekarang ini makin ada buanyak sekali perusahaan start-up yang mulai bermunculan. Pokoknya semua yang dilakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi hampir semuanya bisa dilakukan dengan bantuan aplikasi, kalau hari ini belum ada mungkin bisa muncul besok pagi. Dengan alasan lebih praktis dan simpel maka segala yang digital ini makin diminati, akhirnya perusahaan lama pun mau tak mau harus ikut menyesuaikan diri. Kalau dulu cuma ada toko offline maka sekarang harus ada toko di marketplace. Kalau dulu transaksi harus bayar tunai, sekarang harus ada macam-macam pilihan pemabayaran.

Advertisement

Meskipun kelihatannya hanya memindahkan dari dunia nyata ke dunia maya namun ternyata upaya untuk go digital ini tak semudah yang dibayangkan lo. Sudah begitu, belum ada juga jaminan untuk selalu berhasil, tetap ada kemungkinan juga untuk gagal.

Percaya nggak percaya, ternyata ada 70% perusahaan yang gagal melakukan transformasi digital pada bisnisnya lo

Data ini diperoleh dari Forbes pada tahun 2019 lalu yang rasanya masih relevan sampai sekarang. Walau terlihat penting dan sangat mungkin untuk dilakukan dengan sumber daya yang dimiliki, nyatanya eksekusi transformasi digital tak selalu berhasil lo. Banyak perusahaan yang sudah eksis sejak lama dan memiliki strategi pemasaran yang bagus namun tetap tak menjamin bahwa mereka mampu maju dengan melakukan transformasi ini.

Sebut saja merek Ford yang membuat Ford Smart Mobility di mana mobil diaktifkan secara digital. Mereka gagal karena layanan digital ini terpisah dari bagian perusahaan yang lain padahal harusnya terintegrasi. Porter & Gamble (P&G) juga sempat ingin menjadi sebuah perusahaan yang ‘paling digital’ namun tujuannya yang terlalu luas membawa mereka ke inisiatif yang juga luas namun kekurangan tujuan yang sebenarnya. Mereka menghadapi permasalahan sampai CEO-nya harus mundur lo.

Advertisement

Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh perusahaan ketika akan melakukan transformasi digital, mungkin kamu juga mengalaminya dalam bisnismu

Banyak hambatan/ Credit: Alla Serebrina on Deposit Photos via depositphotos.com

Memulai bisnis baru dan langsung dilakukan secara digital mungkin lebih mudah karena membangun ekosistem yang benar-benar baru daripada harus membangun ekosistem baru padahal sudah memiliki yang lama. Oleh sebab itu, ada beberapa tantangan yang dihadapi perusahaan yang akan go digital:

  • Kayawan menjadi salah satu aspek penting dalam proses ini, sayangnya tak semuanya bisa beradaptasi dengan perusahaan atau paling tidak membutuhkan waktu.
  • Nggak semua bidang mudah didigitalkan, hal ini yang akhirnya membuat banyak perusahaan kesulitan untuk melakukan transformasi supaya nggak terkesan maksa.
  • Perusahaan yang sudah lama berdiri biasanya juga sulit untuk go digital karena pimpinan yang masih konservatif.
  • Biaya yang dibutuhkan untuk melakukan proses digitalisasi ternyata juga nggak sedikit lo dan yang satu ini juga jadi tantangan terbesar.
Advertisement

Mungkin pada akhirnya semua perusahaan harus beradaptasi dengan arus digitalisasi namun nggak bisa asal cepat saja

Seperti yang sudah disebutkan bahwa ada berbagai tantangan yang mungkin akan dialami serta ada pula beberapa contoh kegagalannya. Jika ingin tetap melakukan proses adaptasi ini sebaiknya memang tak terlalu buru-buru karena takut ketinggalan karena sepertinya teknologi akan selalu ada ke depannya. Kuncinya adalah jangan lupa untuk melakukan riset dan testing, pun perlu diingat bahwa karyawan juga menjadi salah satu bagian besar yang perlu ikut adaptasi sehingga perlu adanya pelatihan. Memulainya pun tak perlu langsung merombak semua sistem hingga pelanggan juga ikut-ikutan kesulitan mengikuti. Pelan-pelan saja namun sudah tahu pasti arahnya.

Jika saat ini kamu mungkin juga masih menggeluti bisnis offline dalam waktu yang lama, serta bingung harus mulai digitalisasi dari mana, maka kamu bisa mulai dari membuat versi online tokomu tanpa harus langsung punya aplikasi sendiri, misalnya melalui marketplace. Memiliki media sosial juga penting untuk meningkatkan interaksi.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE