Startup adalah sebutan untuk perusahaan baru yang biasanya bergerak di bidang teknologi. Tiket.com, Nulisbuku.com, Urbanesia, Bukalapak.com, dan tentunya Hipwee.com (sekalian promosi :p) adalah contoh-contoh startup yang sedang berkembang di Indonesia saat ini. Skala karyawan di startup sangat kecil tidak lebih dari 50 orang.

Nggak berlebihan kalau dikatakan tiga tahun terakhir adalah masa-masa kejayaan startup di Indonesia. Seolah-olah mendirikan startup juga menjadi trend baru di kalangan muda Indonesia. Mulai dari lulusan Harvard sampai selebriti, semua berlomba-lomba membuat startup. Startup kini juga menjadi alternatif baru untuk tempat berlabuh bagi para jobseeker.

Dunia kerja memang beragam macamnya. Ada banyak perbedaan yang harus kamu perhatikan saat memutuskan untuk bekerja di perusahaan besar atau di startup. Sebagai bahan pertimbanganmu, kali ini Hipwee akan berbagi tentang rasanya kerja di startup. Cekidot!

1. Jumlah teman kantor yang bisa dibilang minim. Bahkan nggak lebih banyak dari jumlah jari yang kamu punya.

temen kantornya dikit via www.qerja.com

Karena perusahaan yang baru tahap pengembangan dan juga masih berusaha meraba-raba pasar, sebuah startup tidak akan mengambil risiko untuk memperkerjakan banyak karyawan di tahap-tahap awal. Prinsipnya adalah, karyawan seminimal mungkin dan hasil semaksimal mungkin.

Advertisement

Di perusahaan besar yang kamu lihat biasanya karyawannya ratusan. Satu divisi saja belum tentu bisa kamu kenal semua dalam waktu sebulan. Di startup, hari pertama kerja kamu bisa langsung hafal semua nama teman kantormu. Bukannya apa-apa, jumlahnya nggak lebih banyak teman satu kelompokmu saat kuliah. Karena anggota tim sedikit kalian akan mudah akrab dan kompak. Tapi jika salah satu anggota pergi, tim kalian akan sangat terasa pincangnya.

2. Karena jumlah teman kantor yang sedikit, kamu jadi gampang akrab. Rata-rata umurnya pun sama, obrolan jadi nyambung.

rata-rata teman kantor seumuran via www.c3youth.com.au

Selain cuma sedikit, rekan-rekan kerja di startup biasanya juga seumuran. Beda dengan kantor besar yang karyawannya sangat beragam, mulai dari yang baru lulus sampai yang sudah mau pensiun ada. Startup biasanya didominasi anak-anak muda. Terutama freshgraduate yang haus akan pengalaman.

Karena umur yang rata-rata sama, kalian akan nyambung ngobrol satu sama lain. Semua bisa ikutan saat ngobrolin film ini yang baru keluar, atau ribut-ribut di twitter akibat twitwar antar selebtwit. Kalaupun ada satu dua yang sudah ‘berumur’ biasanya akan terseret arus dan jadi berjiwa muda.

3. Pengalaman yang rata-rata sama membuat kamu dan teman kantor sama-sama belajar.

sama-sama belajar via blog.startupjobs.asia

Karena kebanyakan freshgrad, pengalaman kalian pun biasanya setara. Nggak ada senior atau junior, karena kalian masih sama-sama belajar. Bahkan bosmu bisa jadi seumuranmu juga atau lebih muda. Terkadang ngobrol dengan bos seasyik ngobrol dengan teman sendiri. Tapi ingat, tetap bedakan antara pertemanan dan pekerjaan. Meski atasan kamu nyantai dan asyik, untuk soal pekerjaan jangan harap ada excuse.

Tak jarang kamu juga harus belajar semuanya secara otodidak, karena kamu adalah single fighter untuk divisimu. Intinya, di startup semuanya terus belajar.

4. Kantor startup jauh dari kesan bangunan kaku. Banyak banget yang keren dan kreatif, meskipun itu cuma rumah sepetak~

kantor buka lapak yang homey via komunitas.bukalapak.com

Karena didominasi anak muda, kantor startup biasanya unik. Nggak seperti kantor besar pada umumnya yang terdiri dari gedung tinggi yang minim hiburan. Untuk mendukung daya kreatifitas karyawannya, kantor startup sering dilengkapi dengan fasilitas seperti mini perpustakaan, atau meja pimpong yang bisa dipakai setelah jam kerja. Sehingga kalau kamu penat bekerja, kamu bisa refreshing sebentar dengan cara yang sederhana.

Meja pimpong juga bisa multifungsi lho. Di luar jam kerja meja pimpong akan berfungsi layaknya meja pimpong, di jam kerja, dia berubah fungsi jadi meja kerja.

5. Nggak ada yang masalahin kamu mau pakai baju apa. Kalau tiba-tiba kamu dandan rapi pakai kemeja, langsung pada dicie-ciein…

pakaian apapun nggak masalah, asal kerjaan beres via www.dailymail.co.uk

Malas pakai baju resmi ke kantor? Tidak kebayang harus ke kantor dengan sepatu ber-hak 7 cm? Startup bisa jadi pilihan terbaik untukmu. Kamu bisa pakai baju apapun yang kalian mau. Tapi setidaknya kamu harus menyimpan satu stel pakaian resmi di kantor. Siapa tahu kamu harus bertemu klien atau meeting resmi di luar. Tapi sekalinya ke kantor kamu dandan rapi, langsung deh dicie-ciein sama temen-temen kantormu. Soalnya tumben-tumbenan banget ada yang dandan rapi ke kantor.

Siapa yang peduli kamu mau pakai baju apa, yang penting prestasi maksimal. Siapa yang peduli kamu mau pakai sepatu heels, sepatu kets, atau sandal jepit, asalkan pekerjaan selesai dan beres.

6. Kerja dari pagi sampai pagi. Antara loyalitas tanpa batas atau kerjaan yang nggak habis-habis…

kerja tak cuma di kantor via www.chatelaine.com

Meskipun terkesan asyik dan fleksibel, jangan bayangkan kalau kerja di startup bisa santai-santai sambil main FarmMania. Pekerjaan di startup suuuuper banyak! Karena perushaaan baru, sistemnya juga masih dalam tahap pembangunan. Apalagi sumber daya manusianya yang relatif kecil. Bisa jadi pekerjaan yang biasanya dihandle oleh tiga orang harus kamu kerjakan sendirian. Nggak cuma 8 jam sehari, kadang kamu dituntut harus bawa pulang kerjaan.

Ya gimana~ kalau ditunda besok pasti akan lebih numpuk lagi. Kena marah bos lagi. Pusing lagi.

7. Harus multitalent, karena kamu nggak tahu kapan harus jadi pemain pengganti.

kerjaan datang meski bukan jobdesk via www.cordeliacallsitquits.com

“Eh, si Tino kan resign mulai minggu depan. Kita belum dapat akuntan baru yang sesuai. Kamu handle dulu ya kerjaan Tino,”

“Ta…tapi Mas, aku kan lulusan hukum!”

“Ah nggak apa-apa, cuma nyatetin uang keluar dan uang masuk aja bisa kan? Nggak perlu bikin neraca,”

Startup yang terbuka pada segala ide baru kadang harus melakukan banyak hal di waktu yang singkat. Project yang udah jalan setengah, bisa tiba-tiba diubah total karena nggak sesuai dengan pasar. Karena minimnya sumber daya manusia, dan semua harus beres apapun yang terjadi, kamu harus rela dengan pekerjaan yang diluar jobdesk.

8. Selain punya skill khusus, kamu juga harus punya skill bersih-bersih, alias jadi OB. Minimal cuci gelasmu sendiri.

Skill OB juga dibutuhkan via www.molto.co.id

Jangan harap kamu bisa meninggalkan mejamu dalam keadaan kotor dan udah bersih saat kamu kembali. Istilah “Anggaplah seperti Rumah Sendiri” benar-benar berlaku di kantor startup. Kamu bisa pakai kaus dan celana pendek aja, karena kantor terasa seperti rumah sendiri. Dan sebagaimana di rumah sendiri, kita juga cuci gelas sendiri, nyapu sendiri, beres-beres meja sendiri, di kantor.

Terkadang saking kreatifnya tim manajemen, untuk mengatasi masalah kebersihan akan dibentuk petugas piket harian. Selain membuat kantor menjadi bersih dan indah, juga bisa menambah keakraban. Itu kantor apa sekolahan~

9. Kalau soal trial and error, anak startup sih dah BIASA!

A,B,C,D plans via www.haikudeck.com

Sebagai perusahaan baru, startup belum benar-benar menemukan skema yang pas untuk perusahaan. Pasar seperti apa yang ingin dibidik dan produk apa yang cocok untuk pasar tersebut selalu mengalami perkembangan untuk mencari yang paling pas dengan misi dan visi perusahaan.

A,B,C,D plan adalah hal yang wajar. Terkadang kamu sebal karena bosmu terkesan labil dan memberi intruksi yang kurang jelas. Hari ini mau begini, besok maunya begitu. Tapi justru itulah istimewanya startup. Tak ada pola baku. Gagal satu, pindah ke yang lain. Jangan marah kalau kamu sudah kerja keras, sampai bergadang dua hari dua malam, tapi hasil kerjamu tak terpakai karena tak cocok dengan selera pasar.

10. Kerja dari pagi sampai pagi, harus belajar administrasi sampai akuntansi, tapi gaji cuma cukup untuk hidup 30 hari.

gajiku sayang gajiku malang via www.memecomicindonesia.net

Jangan mengharap gaji tinggi di startup. Gimana mau gaji yang tinggi, wong buat bayar OB aja perusahaan nggak mampu? Kalau ada yang bilang ‘bekerja jangan cuma nyari uang, cari pengalaman.’ mungkin dia kerja di startup~

11. Obrolan di kantor pun nggak jauh-jauh dari VC, saham, dan ngegosipin startup lain..

ngobrolin saham untuk masa depan via www.rmoljakarta.com

Ngobrolin masalah anak, suami, atau istri jelas nggak mungkin karena kalian rata-rata masih single. Kalau ada yang udah nikah, itu pun pasti baru satu atau dua. Ngobrolin politik dan kebijakan baru pemerintah yang tidak pro-rakyat juga terlalu berat untuk pikiran yang udah diforsir seharian. Alhasil, obrolan nggak akan jauh-jauh dari saham, Ventures Company, atau ngegosipin startup lain.

Mendingan reksadana apa deposito? Gimana sih caranya main saham dan falas? Kayaknya lumayan tuh~

Katanya bos lagi nego sama investor baru, yuk kita doain sukses. Biar bulan depan kita tetap gajian~

Eh, tapi kalau di startup sebelah biasanya…bla…bla…bla…

12. Startup yang udah sukses dan gede sering bikin kamu iri sekaligus terinspirasi.

kesuksesan startup sebelah yang bikin iri via www.tribunnews.com

Seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Bagi para pejuang startup, tetangga pastinya startup-startup lainnya. Kan tidak mungkin kamu membandingkan kantormu dengan Kantor Kementerian atau Multinasional Company.

Kalau ada cerita sukses startup sebelah, rasanya campur-campur. Kamu bisa merasa iri karena ingin juga merasakan kesuksesan itu. Coba gue kerja di sana… Bisa juga kamu termotivasi. Kalau mereka bisa sukses dengan startup, kenapa kita nggak?

Makin bagus lagi kalau kamu juga terinspirasi untuk bikin startup baru.

13. Suka bingung kalau ditanya teman kerja di mana. Karena perusahaan baru, banyak yang belum tahu.

itu kantor apa? kerjanya gimana? kenapa pilih kerja di sana? via marketeers.com

Kamu kerja di mana sekarang?

Di ale-ale.com

Wah, perusahaan apa tuh? Baru denger…

Semua akan tahu kalau kamu bilang kerja di intansi pemerintahan atau perusahaan besar seperti Toyota atau Chevron. Tapi kamu harus memberikan keterangan ekstra kalau kamu menyebutkan sebuah nama startup, karena bisa jadi itulah kali pertama temanmu mendengar nama kantormu.

14. Kalau pulang, keluarga sering gak ngerti kamu kerja apa, itu kantor apa. “Udahlah, yang jelas-jelas aja!”

udah, kerja yang jelas-jelas aja via mashable.com

Serupa tapi lebih pedih, orang tuamu juga akan mempertanyakan hal yang sama saat kamu pulang ke rumah. Orang tuamu sering nggak ngerti itu kantor apa, kerja di bidang apa, dan kenapa kamu memilih keja di sana dibandingkan kantor-kantor lain yang sudah punya nama. Dan pada akhirnya keluarlah ultimatum untuk pindah kantor atau jadi PNS, dengan alasan “yang jelas-jelas aja!”

15. Tapi semua itu membuatmu punya skill dan pengalaman tak terbatas. Kamu jadi belajar banyak hal.

skill dan pengalamanmu berkembang via www.bandwidthplace.com

Bekerja di startup membuka kesempatanmu untuk bereksperimen. Lingkungan startup biasanya selalu terbuka pada ide-ide baru. Sehingga kamu punya kesempatan untuk menggali ide sebanyak-banyaknya dan menyampaikan ke atasanmu tanpa sungkan. Pengalamanmu juga bertambah nggak hanya di bidang yang kamu kuasai aja, tetapi juga di bidang-bidang lain yang terbuka untuk kamu pelajari. Kamu jadi menguasai banyak hal, karena ngga semua orang beruntung mendapatkan kesempatan ini.

16. Bukan cuma skillmu yang berkembang, mentalmu juga ditempa untuk tahan banting.

startup membuatmu tumbuh sekuat baja via mas-gaplex.blogspot.co.id

Mengerjakan pekerjaan seabrek dalam waktu kilat jelas membutuhkan mental yang kuat. Apalagi di saat yang sama kamu juga terpaksa ikut memikirkan apakah perusahaan tempatmu bekerja bisa bertahan atau kamu harus cari kantor baru karena kantormu tumbang, kalah dalam persaingan.

Kalau kamu lolos di sini, kamu layak berbangga hati karena mentalmu sudah tahan banting. Saat kamu benar-benar pindah ke kantor baru, diomelin bos, kerjaan seabrek, deadline di depan mata, nggak akan lagi membuatmu stress apalagi baper. Wes biyasa~

17. Walaupun ada yang berpikir, setelah dari startup biasanya kamu ogah ke startup lagi.

startup lagi nggak ya~ via www.exhausto.com

Pengalaman menjadi “karyawan serbaguna” di startup biasanya membuatmu berpikir ulang untuk masuk startup lainnya. Kamu akan berpikir mungkin kerja di kantor besar yang sistemnya udah oke. Sehingga kamu nggak perlu mengcover kerjaan si itu atau si itu. Cukup startup sebagai tempat belajar dan berkembang, kerja enak dengan gaji besar tetap jadi pilihamu.

Tapi nggak semuanya begitu kok. Ada juga yang tetap memilih startup dibandingkan kantor besar. Alasannya simple, di startup kamu merasa lebih nyaman dan peluangmu berkreasi lebih bebas. Dan yang lebih penting, cuma di startup kamu nggak perlu mikirin mau pakai baju apa besok. Hehe..

Berminatkah kamu bekerja di startup?

Kredit Featured Image : https://www.linkedin.com/pulse/20141001130651-38840516-should-you-work-for-a-startup-company