Realita Bekerja di Start Up, Perusahaan Anak Muda yang Penuh dengan ‘Katanya’. Ah, Masa Iya?

bekerja di start up

Istilah start up menjadi populer beberapa tahun belakangan ini. Dilansir dari Forbes, start up sendiri sebenarnya memiliki banyak arti mulai dari bisnis yang belum lama dirintis hingga sebuah perusahaan di mana orang-orang yang bergabung masih terus mengembangkan dan membuat penelitian untuk membuat dampak yang signifikan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para anak muda untuk bisa mengembangkan kemampuan dalam dirinya sejalan dengan perusahaan yang juga terus berkembang.

Advertisement

Makanya tak jarang bahwa ketika seseorang bekerja di perusahaan ini akan ada berbagai cap yang ditempelkan yang sebenarnya belum tentu benar juga demikian adanya. Nah, apa saja sih anggapan yang paling lazim dilontarkan dan bagaimana kenyataannya? Simak yuk beberapa di antaranya berikut ini!

1. Bekerja di start up artinya bebas memakai baju apa saja, pasalnya dengan baju yang nyaman, lebih betah pula dalam bekerja

Biasanya start up akan memperbolehkan para karyawan mengenakan kaus dan celana jin serta sneakers, atau bahkan beberapa perusahaan tertentu memperbolehkan karyawannya memakai sandal. Hal ini sebenarnya kebanyakan berlaku saat di kantor dengan pekerjaan biasa ya, kalau ada meeting apalagi dengan klien dari luar maka pakaian juga tetap perlu menyesuaikan. Walaupun bebas, namun pakaian kasual justru seperti menjadi dress code sehingga sehari saja memakai pakaian semi formal hingga formal maka akan timbul pertannyaan seperti “Wih, mau ke mana nih pakai kemeja?” atau “Wah, habis interview dari mana nih?” Duh, bahaya!

2. Fleksibel sepertinya sudah menjadi sebuah kata yang erat hubungannya dengan perusahaan start up termasuk jam kerjanya, enak ya? Belum tentu~

Waktu yang fleksibel adalah sebuah keuntungan bagi beberapa orang yang tidak senang terpatok terhadap jadwal. Pasalnya dia bisa mengatur jadwal kerja sendiri. Selain itu tidak ada pula potongan gaji jika terlambat bahkan 5 menit seperti di perusahaan korporat atau instansi pemerintah, asal kerjanya beres dan selesai saat dibutuhkan maka tak masalah untuk ‘telat-telat dikit’. Akan tetapi, jam kerja fleksibel juga berarti harus siap kapan saja dihubungi saat tiba-tiba ada revisi. Tenang, asal kamu bisa mengatur waktu dan menyelesaikan semuanya dengan baik hal ini bisa aman terkendali kok.

Advertisement

3. Walau identik dengan kata santai tapi bekerja di start up juga berarti bisa melakukan banyak hal dengan cepat, bisa jadi benar namun ada untungnya untukmu

Start up merupakan sebuah perusahaan yang sedang berkembang, maka kamu memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri pula di sana walau mungkin kadang work load-nya cukup banyak. Di sana pula biasanya ide-ide lebih didengarkan dan dihargai serta semua karyawan memiliki kesempatan untuk turut mengembangkan perusahaan. Ritme kerja yang cepat juga bisa membuatmu menjadi seseorang yang lebih pandai mengatur waktu dan dituntut untuk lebih bisa beradaptasi.

4. Mungkin ada banyak kabar yang berseliweran bahwa gaji yang ditawarkan di perusahaan start up tergolong besar

Hal ini bisa jadi benar, bisa jadi salah. Dilansir dari QM Financial, gaji yang besar kemungkinan bisa didapatkan dari perusahaan start up unicorn yang juga besar dengan valuasi US$1 miliar atau sekitar Rp13 triliun, sedangkan banyak perusahaan start up yang omzetnya masih sedikit sehingga belum bisa memberikan gaji sefantastis itu. Akan tetapi, biasanya gaji yang diberikan akan ekuivalen dengan beban kerja kok.

Banyak hal menyenangkan dan banyak pula yang bisa dipelajari dengan bergabung menjadi sebuah perusahaan start up, mulai dari lingkungan kerja yang isinya anak muda hingga kebiasaan yang mungkin bisa membuatmu betah jika sesuai dengan kepribadian. Namun, perusahaan start up yang belum settle bisa jadi akan tutup kapan saja sehingga tetap saja ada risikonya.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE