Belajar dari Marketplace Toko Oranye, ini 5 Gimmick Marketing yang Malah Bisa Merusak Brand

gimmick marketing gagal

Sejak era media sosial dimulai, para pemilik brand selalu ingin menjadi yang pertama mengetahui cara paling efektif memasarkan produk mereka di sana. Kini setiap ada sesuatu yang sedang ramai dibicarakan, mereka juga akan berlomba untuk riding the wave atau mencoba untuk tetap relevan dengan nimbrung untuk mempromosikan produknya. Belakangan ini toko oranye di marketplace juga berusaha untuk melakukannya namun malah mendapat berbagai kritikan hingga tagar uninstall karena menggunakan isu sensitif untuk promosinya.

Advertisement

Beberapa waktu yang lalu saat ramai kasus Eiger, sebuah brand yang juga ingin ikut tren membuat surat terbuka namun malah kena kritik warganet hingga harus menghapus unggahannya. Hal tersebut jadi bukti bahwa gimmick marketing dengan mengikuti arus tren tak melulu selalu berhasil, salah-salah malah bisa merusak brand. Kalau nggak ingin terjadi hal serupa, beberapa hal ini perlu kamu hindari. Simak yuk!

1. Istilah untuk mengikuti berita yang sedang ramai diperbincangkan adalah newsjacking, kalau nggak hati-hati bisa-bisa malah blunder sendiri

Biasanya newsjacking dilakukan dengan meng-cover topik dari perspektif brand, bisa memberikan insight, opini, atau berbagi pengalaman terkait kasus yang sedang ramai. Akan tetapi, gimmick macam ini harus dipikirkan matang-matang supaya nggak kejadian brand dianggap kurang sensitif dan simpatik terhadap suatu kasus, apalagi jika ada korbannya. Selain itu, memanfaatkan tren yang sedang ramai jika kurang hati-hati malah bisa disebut plagiat atau kalau terkesan maksa malah jadi cringe-worthy alias bikin bergidik.

2. Hashtag memang efektif membantu supaya suatu unggahan mencapai lebih banyak audience tapi kalau salah malah bisa jadi bumerang

Hashtag/ Credit: gustavfrazao on Deposit Photos via depositphotos.com

Masih berkaitan dengan tren, biasanya suatu isu akan menjadi trending topic ketika sebuah hashtag atau tagar dinaikkan. Hal ini membuat penasaran sehingga biasanya orang akan mencari tahu melalui hashtag tersebut, akhirnya hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu salah satunya mungkin brand untuk memperluas audience. Akan tetapi, ketika melakukannya maka riset harus dilakuan terlebih dahulu supaya nggak malah merusak tujuan utama dari orang-orang menginisiasi gerakan hashtag tersebut. Salah-salah, malah bisa bikin blunder.

Advertisement

3. Melakukan lomba apalagi di internet memang akan menaikkan awareness, tapi baik buruknya tergantung oleh mereka yang ikut

Salah satu metode marketing yang efektif adalah dengan mengadakan lomba karena akan meningkatkan interaksi antar pengguna dan lebih banyak dibagikan. Akan tetapi, dengan metode ini artinya kamu memberikan kontrol kepada para pengguna atas campaign yang berlangsung. Bukan tak mungkin mereka malah menggunakannya untuk kepentingan pribadi atau justru menggunakan ajang ini untuk lelucon yang mungkin akan membuat campaign jadi melenceng dari tujuan utama dan membentuk opini publik yang berbeda. Makanya penting untuk menerapkan filter.

4. Sesuai prinsip ekonomi, banyak juga yang ingin menerapkan modal sesedikit mungkin untuk mendapat hasil maksimal dengan guerilla marketing

Guerilla marketing/ Credit: designer491 on Deposit Photos via depositphotos.com

Dilansir dari berbagai sumber, selain berusaha untuk menggunakan bujet yang sesedikit mungkin, guerilla juga memanfaatkan strategi marketing yang beda dari promosi konvensional yang kadang menyebabkan efek kejut. Ada beberapa jenis dengan berbagai contoh misalnya outdoor guerilla seperti pemasangan instalasi menarik untuk memasarkan produk hingga campaign dengan metode viral marketing dengan memancing penasaran konsumen.

Advertisement

Sayangnya, hal ini juga bisa ‘bahaya’ kalau kurang hati-hati, sebisa mungkin jangan sampai mengganggu kegiatan orang lain atau memancing kepanikan karena hal ini bisa jadi pemicu rusaknya citra yang dibangun brand.

5. Menggunakan influencer dalam influencer marketing yang memiliki citra nggak sesuai dengan brand juga bisa menyebabkan blunder

Influencer marketing sering dipilih sebagai metode untuk memperluas audience dalam era media sosial. Ketika memilih influencer sebaiknya riset dilakukan dengan sungguh-sungguh, sebisa mungkin hindari memilih mereka yang bermasalah apalagi masalahnya terkait dengan bidang yang digeluti brand. Pasalnya, walaupun permasalahan sudah lewat, kini jejak digital akan jadi bumerang yang bisa merugikan brand milikmu jika terlibat.

Gimmick marketing sudah dilakukan sejak lama melalui berbagai media namun kini bisa jadi strategi ini dilakukan dalam hitungan beberapa jam saja supaya tetap bisa relevan dengan isu yang mendadak naik dengan cepat karena adanya internet terutama media sosial. Jika kurang hati-hati maka dalam hitungan jam itu pula, brand yang sudah bertahun-tahun dibangun akan ikut rusak begitu saja.

Gabung dan Berlangganan Newsletter

Berlangganan Newsletter dari Kita Mulai Bersama

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE