Melanjutkan jenjang kuliah S2 di luar negeri memang menjadi impian bagi banyak orang. Kualitas pendidikan yang lebih baik, suasana yang baru, dan jaringan yang lebih luas adalah alasan utama kenapa ide sekolah di luar negeri jadi begitu menggoda. Apalagi, sekarang sudah ada banyak beasiswa.

Tapi memperoleh beasiswa juga tidak semudah menjentikkan jari. Kurang persiapan, kamu niscaya gagal mendapat beasiswa S2 di luar negeri. Nah, supaya kesalahan-kesalahan ini bisa kamu hindari, simak penjabaran Hipwee di bawah ini ya!

1. Hasil wawancara sangat menentukan sukses-tidaknya kamu. Hindari memberi jawaban terlalu muluk saat ditanyai kontribusi apa yang ingin kamu beri kepada negeri

kontribusi untuk pendidikan Indonesia via www.tulisan.com

Sesi wawancara dengan tim dari lembaga pemberi beasiswa jadi tahapan paling krusial untuk menentukan apakah kamu akan diterima. Salah satu pertanyaan yang pasti akan ditanyakan kepada calon penerima beasiswa adalah apakah kontribusi yang akan kamu berikan untuk Indonesia dengan ilmu yang kamu miliki. Kamu tak perlu memberikan jawaban yang terlalu muluk-muluk untuk membuat pewawancara terkesan kepadamu, seperti memberikan jawaban “Saya akan mengubah Indonesia!” atau “Saya ingin memberantas korupsi!”

Cukup berikan jawaban yang realistis. Tak perlu visi untuk mengubah negara, cukup dengan visi untuk mengubah lingkungan sekitarmu yang lebih dekat. Ini membuktikan bahwa kamu adalah orang yang mempunyai visi jelas dan bisa punya rencana matang untuk mewujudkannya. Meski nantinya kamu adalah lulusan universitas luar negeri, tak serta merta kamu memiliki kewajiban untuk mengubah sistem negara. Kontribusi kecil di lingkungan sekitar justru akan lebih berarti ketimbang visi yang terlalu muluk-muluk.

2. Perhatikan juga motivation letter-mu. Apakah kamu sudah bisa “menjual diri” dengan baik di situ?

Advertisement

Nulis motivation letter yang benar, ya~ via hipwee.com

Selain sesi wawancara, penulisan motivation letter juga menjadi hal penting lain yang dipertimbangkan untuk mendapatkan beasiswa. Dan satu hal yang harus kamu ingat adalah motivation letter berbeda dengan kamu membuat CV. Sehingga kamu tidak perlu menulis semua informasi yang biasanya tertera dalam CV. Cukup prestasi yang menurutmu prestisius saja, asalkan bisa menyatu dengan alur cerita yang kamu buat dalam motivation letter.

Kesalahan lain yang jamak terjadi adalah para pendaftar beasiswa, kurang bisa menjual diri mereka dalam motivation letter. Tak hanya kurang menonjolkan kelebihan diri, kegagalan juga bisa diakibatkan karena penulisannya bertele-tele. Sebisa mungkin tulis letter-mu dengan singkat, namun sudah bisa mencakup semua aspek. Namun yang terpenting, jangan pernah mengada-ada kelebihan yang akan kamu tulis. Karena hal itu nantinya akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri

Sebelum menulis motivation letter, ada baiknya juga kamu terlebih dahulu kenali kelebihan dirimu dengan baik. Selain itu, dalam motivation letter kamu juga harus menyampaikan motivasi untuk melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dengan jelas. Motivasi yang diberikan juga jangan fokus pada pengembangan diri saja, tapi juga kontribusi dengan lingkungan sekitar.

3. Mengabaikan persiapan belajar bahasa asing. Belajar bahasa justru jadi hal utama yang pertama kali harus dikuasai.

les bahasa asing via liputan.co.id

Sebelum melanjutkan kuliah S2 di luar negeri, bahasa asing adalah hal utama yang harus kamu kuasai. Universitas di Amerika biasanya akan mensyaratkan TOEFL minimal 600 poin agar bisa lolos seleksi, sementara universitas di Eropa mensyaratkan IELTS dengan poin minimal 6,5. Para penerima beasiswa yang telah lolos seleksi, biasanya sebelumnya akan mengambil kursus untuk memperbaiki kemampuan bahasa asing mereka untuk mendapatkan poin yang disyaratkan.

Terlebih lagi jika kamu memilih universitas di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, seperti di Prancis, Jerman, atau Rusia. Jika kuliahmu dilangsungkan dalam bahasa mereka, tentu kamu harus menguasai bahasa itu terlebih dulu. Maka jangan pernah pandang remeh persiapan belajar bahasa asing saat akan kuliah di luar negeri.

4. Kamu terlalu fokus pada prestasi akademik, sehingga mengabaikan prestasi non-akademik seperti misalnya aktif berorganisasi.

aktif berorganisasi ada manfaatnya juga via dibalikdiamku.blogspot.co.id

Untuk mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri, menjadi hebat di bidang akademik memang menjadi hal mutlak. Namun prestasi non-akademik juga tak boleh dilupakan. Banyak yayasan pemberi beasiswa yang juga mempertimbangkan prestasi non-akademik para pendaftar beasiswa. Aktif di kegiatan non-akademik membuktikan bahwa pendaftar beasiswa luwes, bisa bekerja sama, dan peka terhadap sekitarnya.

5. Nggak mau coba lagi saat gagal mendapatkan beasiswa. Padahal, gak semua calon mahasiswa bisa sukses di percobaan pertama

Adhi Wicaksono, dari UNY ke Birmingham via uny.ac.id

Tawaran beasiswa yang ditawarkan itu sangat banyak. Jadi ketika gagal mendapatkan satu macam beasiswa, ya jangan berhenti mencoba. Coba lagi dengan daftar beasiswa lain. Masih banyak jalan melanjutkan sekolah di luar negeri! Dan biasa banget kok, gagal berkali-kali!

Kamu sedang getol bersiap-siap memburu beasiswa ke luar negeri? Atau mungkin, malah baru mulai? Semoga artikel ini membantumu mempersiapkan diri, ya! 🙂