Serunya Kerja di Bidang Ekowisata. Keluar Masuk Hutan, Beri Peluang Belajar Hingga ke Luar Negeri

karier pemandu ekowisata

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Halo! Perkenalkan namaku adalah Yun Pratiwi dan rasanya aku lebih banyak menghabiskan waktuku di dalam hutan daripada di perkotaan, alasannya karena aku memang bekerja di bidang ekowisata. Kalau ada embel-embel wisata mungkin kesan yang ditimbulkan adalah sebuah pekerjaan menyenangkan serasa liburan setiap harinya. Tapi jangan salah sangka dulu. Aku justru mengawali karier di bidang ini karena rasa khawatir yang aku miliki melihat keadaan alam di sekitarku.

Aku tinggal di Kalimantan Tengah yang mana sempat ada kebakaran hutan yang membuatku prihatin. Saat itu perasaan sedih dan marah muncul hingga membuatku ingin berbuat sesuatu, yang justru kini malah jadi pekerjaanku.

Ya, berawal dari adanya kebakaran hutan hingga hatiku tergerak untuk melakukan sesuatu terhadap alam di sekitarku

Awalnya karena prihatin/ Credit: Yun Pratiwi via www.instagram.com

Tahun 2015 terjadi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Ketika it, ISPU atau indeks kualitas udara di daerahku sekitar 3000an yang mana 20 kali lipat lebih bahaya daripada keadaan normal. Ketika itu banyak masyarakat terkena penyakit paru-paru, banyak pula balita dan lansia yang meninggal. Momen itulah di mana aku merasa nggak bisa apa-apa, akhirnya aku mencoba mencari cara untuk membantu menjaga lingkungan dan membuat mata pencaharian baru bagi masyarakat Kalimantan Tengah. Lalu, aku belajar untuk menjadi seorang pemandu lokal freelance kala itu.

Advertisement

Untuk menjadi seorang pemandu wisata syarat yang penting adalah sebaiknya merupakan masyarakat lokal, mampu menggunakan bahasa daerah, dan mampu berkomunikasi dengan orang asing dengan bahasa Inggris. Tentunya perlu juga untuk menguasai kebudayaan serta menguasai lingkungan seperti konservasi dan flora fauna. Nggak ada syarat pendidikan tertentu kok. Ada yang sekolahnya pariwisata tapi nggak harus. Biasanya malah yang ada pengalaman lapangan bisa menjadi seorang pemandu.

Berbekal ilmu yang didapat, akhirnya aku juga memilih untuk membuat usaha ekowisata yang ternyata juga membawaku ke banyak tempat

Sering bepergian/ Credit: Yun Pratiwi via www.instagram.com

Setelah menjadi pemandu wisata freelance, terciptalah sebuah usaha bidang ekowisata yang pertama aku mulai pada tahun 2016 dan mencatatkannya pada notaris tahun 2017. Karena membawa misi sosial ekowisata dan masih lumayan muda saat memulai yaitu usia 22 tahun, apalagi ketika itu aku sangat passionate dan dapat makan dari situ, banyak kawan dan instansi yang nggak peduli jadi lebih peduli.

Mereka kemudian berpikir kalau ini adalah kesempatan untuk diimplementasikan di Kalimantan Tengah. Aku juga ikut sociopreneur di luar Kalimantan serta daftar youth exchange. Aku dapat kesempatan untuk pendidikan secara akademis di US selama 2 bulan, workshop regional tentang eco and suistainable tourism di Laos. Saat itu, ilmu nggak bisa digantikan dengan uang, kesempatan juga nggak datang 2 kali pikirku. Selain itu, aku dapat dana dari pemerintah, NGO, atau akselerasi lainnya.

Advertisement

Pekerjaan ini merupakan cita-citaku sejak dulu, bahkan saat SMA disuruh maju, aku dengan lantang mengucapkan bahwa aku ingin menjadi pemandu wisata

Masuk hutan/ Credit: Yun Pratiwi via www.instagram.com

Di suatu kesempatan ketika SMA, guruku menyuruh kami maju untuk mengatakan apa cita-cita kami. Aku bilang ingin jadi pemandu wisata dan banyak teman yang heran dan bertanya-tanya. Menurutku kalau aku jadi pemandu wisata, aku bisa berkenalan dengan teman-teman yang di luar negeri dan bisa bertukar pikiran. Waktu itu aku pikir finansial nomor 2, yang lebih penting bertukar pikiran dengan orang dari luar sekaligus untuk memperkuat koneksi.

Pun, tahun 2015 menjadi titik balik aku ingin kembali ke alam, ini saatnya melakukan sesuatu untuk Kalimantan. Ternyata inilah jalanku. Aku juga ingin mengembalikan wisdom suku Dayak dan mengembalikan cara nenek moyang menjaga alam dan lingkungan.

Bekerja di bidang ini bukan berarti bisa liburan melulu, ada berbagai pengalaman, suka, hingga duka yang aku lalui

Banyak pengalaman/ Credit: Yun Pratiwi via www.instagram.com

Hutan memiliki suasana yang jauh berbeda dengan kota, hawanya yang tenang membuatku bisa merasa santai, rileks, dan bahkan kadang aku merasa bisa berkomunikasi dengan alam. Mengobrol dengan pohon dan juga satwa liar, melihat masyarakat lokal melakukan pekerjaan tradisional yang rasanya sudah mendarah daging karena mamaku juga melakukan kegiatan seperti menari, martial art, dan berkebun. Sedangkan susahnya hanya satu yaitu sulit untuk memiliki quality time dengan keluarga dan teman. Tapi, aku selalu berusaha membuat jadwal supaya nggak tabrakan.

Tak hanya suka dan duka tapi banyak pengalaman yang aku dapat, salah satunya saat kali pertama melihat orang utan. Dulu belum tahu orang utan seperti apa, tapi awal jadi pemandu jadi belajar karena ikut pelatihan juga. Ternyata primata yang juga hanya memiliki DNA 97% juga seperti human being, manusia biasa. Aku merasa tersentuh kenapa mereka dihancurkan, dipisah dari keluarganya, sampai dijadikan peliharaan.

Kalau kamu juga tertarik terjun ke dunia pariwisata, sebaiknya jangan buat agen travel yang memang mempromosikan wisata konvensional karena pandemi nggak tahu kapan selesainya. Kalau nekat malah bisa jadi cluster selanjutnya. Berbeda dengan ekowisata yang lebih terkontrol di mana cuma ada 10 orang dalam grup. Buat saja small scale tourism. Bangun desa sekitar untuk jadi desa wisata, latih masyarakat lokal sebagai pemandu wisata, dan ibu-ibu untuk menyediakan masakan lokal.

Meskipun nggak sebanyak itu uangnya ketimbang yang konvensional tapi ekowisata akan lebih prospek ke depannya.

Simple-Work-Blog-Banner
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE