Pertanyaan ‘mau jadi apa?’ mungkin nggak pernah kamu alami bila kamu mengambil jurusan yang kelak bisa ditampung di banyak lapangan kerja. Orang tuamu tak akan mengkhawatirkan masa depanmu bila kamu mengatakan ingin kuliah jurusan ekonomi, hukum, teknik, atau kedokteran. Orang juga nggak akan repot bertanya ‘Nanti lulus kuliah mau kerja apa?’ bila kamu menyebutkan jurusan-jurusan bergengsi tersebut.

Beda cerita dengan saat kamu mengatakan ingin kuliah di jurusan sastra, musik, dan berbagai bidang kesenian. Nanti mau jadi apa, mau kerja apa, memangnya bisa dibuat untuk mencari uang? Tentu bukan salah mereka. Orang tua yang hanya ingin anaknya hidup berkecukupan memandang bahwa ada jurang antara passion dan kenyataan, yang takutnya, passion nggak bisa mendatangkan uang.

Namun orang-orang yang akan Hipwee ulas kali ini membuktikan bahwa kesuksesan bukan hanya milik mereka yang kuliah di jurusan bergengsi yang peluangnya tak pernah mendatangkan sangsi. Mereka menempuh pendidikan di ‘Jurusan Mau Jadi Apa?’, namun kini berhasil mengguncang dunia dengan karya-karyanya.

1. Jurusan Filsafat sering dibilang tak jelas nanti arahnya ke mana. Tapi Eka Kurniawan buktikan bisa menjadi penulis yang levelnya diakui masyarakat internasional

Eka Kurniawan via www.whiteboardjournal.com

Sungguh malang menjadi mahasiswa Filsafat. Mulai dari masa depan, kewarasan, sampai keyakinannya sering kali dipertanyakan. Mulai dari awal menjadi maba, hingga sudah bertahun-tahun lulus kuliah, kamu masih akan tetap disodori pertanyaan-pertanyaan “Filsafat belajar apa sih?”, “Katanya filsafat bisa bikin ateis?”, dan “Terus kalau kuliah filsafat nanti kerjanya apa?”. Filsafat dianggap sebagai satu ranah yang penuh misteri, tidak jelas ke mana arahnya, sehingga orang selalu bertanya-tanya apa sih sebenarnya yang dipelajari mahasiswa filsafat dan buat apa.

Advertisement

Namun sebagai alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, Eka Kurniawan mampu membuktikan bahwa filsafat tak harus selalu menjadi filsuf seperti Socrates atau Aristoteles. Eka Kurniawan adalah seorang penulis Indonesia yang karya-karyanya sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bahkan karyanya yang berjudul Lelaki Harimau menjadi nominasi Man Booker Prize, sebuah penghargaan di dunia sastra yang hanya satu tingkat di bawa nobel sastra. Kita patut berbangga karena Eka Kurniawan sejajar dengan penulis dunia seperti Orhan Pamuk. Sejauh ini, Eka Kurniawan sudah menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerpen.

2. Meskipun sekarang sudah banyak, namun lulusan DKV masih saja sering dipertanyakan. Padahal Andre Surya terbukti bisa Go International dengan karya-karyanya

Andre Surya via www.youtube.com

DKV alias Desain Komunikasi Visual kurang lebih adalah versi modern dari seni rupa, yang memadukan antara sei rupa dengan komputer. Di sini akan dipelajari habis-habisan tentang design, ilustrasi, animasi, web design, dan banyak hal lainnya yang berbau multimedia. Meskipun kini jurusan DKV sudah banyak tersedia di berbagai kampus, namun masih banyak orang tua yang tidak rela anaknya masuk ke sana. Daripada DKV, lebih baik masuk teknik komputer atau informatika saja yang lebih menjanjikan.

Kecintaan Andre Surya pada dunia game tak perlu dipertanyakan. Karena itulah, orang tuanya justru mempertanyakan dia mau jadi apa karena setiap hari hanya main game saja. Sempat mengenyam pendidikan di jurusan DKV Universitas Tarumanegara, Andre Surya terpaksa meninggalkan pendidikannya untuk bekerja.

Akhirnya Andre Surya melanjutkan studi diploma di Kanada dalam bidang Film dan spesial Efek. Setelah lulus, Andre Surya bergabung dengan Lucasfilm Internasional. Iron Man adalah karya pertamanya. Selanjutnya, berperan dalam pembuatan film-film dunia seperti Terminator Salvation dan Star Trek, sebagai digital artist. Wuih, seharusnya kita ikut berbangga!

3. Masak memasak adalah salah satu dunia yang masih sering diremehkan. Tapi kalau bisa seterkenal Chef Marinka, siapa yang meragukan kesuksesannya?

Siapa yang tak kenal Chef Marinka? Cantik dan cerdas, serta piawai mengolah makanan mudah membuat siapapun terpesona. Chef Marinka adalah salah satu Chef yang wajahnya sering wara-wiri di layar kaca sejak menjadi juri kompetisi memasak Master Chef beberapa tahun lalu. Sebelum terkenal seperti sekarang, Chef Marinka atau yang nama aslinya Maria Irene Susanto ini, mengenyam pendidikan di French Cuisine & Patisserie di Le Cordon Bleu, Sydney. Sebelum itu, Chef Marinka juga sempat mengenyam pendidikan di bidang fashion, desain, dan seni. Setelah pulang ke Indonesia, Chef Marinka membuka Warung Telor Ceplok di daerah Kemang dan menjadi pengajar di sebuah akademi memasak. Saat ini, dirinya sedang mengembangkan resto barunya yang diberi nama Mars Kitchen yang menawarkan masakan sehat.

Dunia masak-memasak masih menjadi dunia inferior yang dianggap tak bisa dijadikan pekerjaan. Sering juga, dunia memasak masih dianggap sebagai ranah domestik, yang sudah seharusnya dipegang perempuan sebagai kewajiban. Namun dunia sudah semakin berkembang. Memasak tak hanya untuk perempuan, dan perempuan tak hanya memasak sekadar untuk kewajiban. Menempuh pendidikan di bidang kuliner dan pariwisata punya potensi yang luar biasa, sebab menilik dari kecintaan orang Indonesia pada makanan, bisnis kuliner adalah salah satu bisnis yang sangat menjanjikan.

4. Bubah Alfian, adalah make up artist yang pernah merias peserta American’s Next Top Model sekaligus sang juri Tyra Banks. Bukti bahwa sekolah kecantikan juga sangat menjanjikan

Bubah Alfian via thebridedept.com

Dibanding kuliah di bidang hukum yang akan mencetak pengacara, atau kuliah teknik yang akan menjadikanmu insinyur, atau jurusan ekonomi yang akan menjadikanmu bisnismen atau akuntan, kuliah di bidang kecantikan dan perawatan rambut jelas kurang bergengsi. Barangkali banyak yang berkata bahwa, kalau cuma mau jadi pegawai salon, tidak perlu kuliah tinggi. Tinggal rajin-rajin saja nongkrong di sana, nanti juga bisa.

Tapi kamu harus berkenalan dengan sosok Bubah Alfian, makeup artist yang sudah menjadi langganan artis-artis papan atas. Mulai dari Astrid Tiar, Pevita Pearce, Acha Septriasa, Adinia Wirasti, hingga Rasia idola kita semua, pernah memakai jasa Bubah Alfian. Sebelum menjadi makeup artist profesional, pria asal jember ini mengenyam pendidikan di Sekolah Rudy Harisuwarno. Selanjutnya Bubah Alfian mulai mengembangkan kemampuannya melalui Jember Fashion Carnaval tahun 2007. Setelah itu, Bubah rajin mengikuti lomba make up.

Selain untuk mengembangkan bakatnya, juga karena hadiahnya lumayan untuk biaya hidup. Pintu kesuksesan semakin terbuka ketika dirinya mendapat kesempatan untuk merias peserta America’s Next Top Model beserta juri-jurinya termasuk sang super model Tyra Banks yang syuting di Bali bulan Maret lalu. Kini nama Bubah Alfian mulai berkibar di dunia internasional.

5. Orang tua masih sering bertanya mau jadi apa kuliah sastra. Aan Mansyur terbukti bisa berkarya salah satunya dalam film Ada Apa Dengan Cinta

Aan Mansyur via www.muvila.com

Anak-anak sastra pasti paling paham betapa sulitnya menjawab pertanyaan ‘Mau jadi apa kuliah sastra?’. Memangnya membaca banyak buku dan menulis puisi bisa mendatangkan uang untuk membeli beras sampai pakaian? Memangnya mau hidup tak jelas, terkadang kaya terkadang menggelandang seperti definisi sastrawan yang masih sering dipahami oleh orang awam. Mengapa tidak jadi insinyur saja? Atau dokter? Atau PNS agar mendapat gaji tetap setiap bulan? Belum lagi citra mahasiswa sastra yang identik dengan hidup acak-acakan. Gondrong, jarang mandi, dan suka ikut aksi. Tanpa riwayat sastra dalam keluarga, sulit rasanya mendapat restu orang tua.

Sekarang temuilah, Aan Mansyur si hurufkecil yang menjadi Rangga di dunia nyata. Iya betul, Rangga-nya Cinta yang pergi lebih dari 14 purnama. Aan Mansyur lulusan dari Sastra Inggris Universitas Hassanudin, Makassar. Meski sudah menulis sejak SD dengan karya yang dimuat di majalah BOBO, keinginan Aan Mansyur untuk menjadi penulis nggak disetujui oleh Ibunda, yang menganggap menjadi penulis akan membuatnya miskin harta. Namun Aan tetap nekat meniti karier pilihannya.

Kini si hurufkecil sudah menghasilkan banyak buku seperti Hujan Rintih-rintih (2005), Perempuan, Rumah Kenangan (2007), Kukila (2012), dan Melihat Api Bekerja (2015). Aan juga menjadi pujangga dibalik sosok Rangga AADC 2. Tak hanya berkarya lewat kata-kata, Aan juga menggagas event International Writers Festival di Makassar dan komunitas Katakerja. Kamu yang masih tak percaya pesona seorang penyair, coba ingat-ingat lagi puisi Rangga yang kira-kira bunyinya: Lihat tanda tanya itu. Jurang antara kebodohanku dan keinginaku untuk memilikimu. Sekali lagi.

Tsah.

6. Nekat melanjutkan pendidikan ke Jurusan Seni Tari IKJ, Kini Andara F. Moeis sudah siap mendunia dengan tariannya

Andara F. Moeis via www.flickr.com

Sama seperti bidang sastra, seni juga masih dianggap sebagai bidang yang seharusnya untuk main-main saja. Bukan untuk karier masa depan. Sekadar hobi sih tak apa, namun maaf-maaf saja, untuk dijadikan karier terlihat kurang menjanjikan. Meskipun bisa mengikuti berbagai festival dan mendapatkan uang dari sana, namun sebanyak apa uang yang bisa didapat? Apakah bisa dijadikan sandaran untuk membiayai kehidupan? Tak heran bila banyak yang ditanya ‘Mau jadi apa?’ saat menyampaikan maksud ingin kuliah di jurusan seni tari.

Untung saja hal itu tidak terjadi pada Andara F. Moeis yang sering disapa Anggie Moeis ini. Meskipun tidak memiliki darah seni secara langsung, kedua orang tuanya mendukung niat Anggie untuk melanjutkan pendidikan di bidang Koreografi Tari Institut Kesenian Jakarta. Meskipun begitu, Ibunya tetap mengingatkan bahwa bidang yang dia pilih mungkin akan sedikit sulit untuk memberinya uang. Namun Anggie tetap kukuh dengan pilihannya.

Sebelumnya di masa sekolah, Anggie sudah rajin mengikuti berbagai kontes dan kursus tari. Hingga kini, Anggie rajin mengikuti Indonesian Dance Festival (IDF) yang selalu diapresiasi dunia internasional. Beberapa karya koreografinya seperti Kosong, S[h[elf, dan Covering With Colors sudah dipentaskan di berbagai panggung di Indonesia. Khusus Covering With Colors pernah dipentaskan di Praha, Rep. Ceko.

Dunia modern yang serba cepat membutuhkan banyak orang dengan skill praktis yang bisa langsung diterapkan. Karenanya, bidang-bidang teoritis masih sering dipandang sebelah mata. Walaupun kenyataannya, banyak jurusan yang selalu diremehkan yang bila ditekuni dengan serius akan mendatangkan banyak uang.

Kesuksesan seseorang tak mutlak ditentukan oleh apa jurusannya. Yang terpenting adalah kemauannya untuk berkarya. Kuliah di jurusan yang super bergengsi pun akan percuma bila kita tidak punya kemauan untuk berkarya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!