Jadi Sekretaris Vice President Sebuah Perusahaan Multinasional di Papua. Gimana sih Rasanya?

pengalaman kerja di freeport

*Disclaimer: Ini adalah hasil wawancara penulis dengan narasumber, ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Semua datanya riil, tapi demi kenyamanan beberapa data yang bersifat privat tidak akan kami publikasikan.*

Advertisement

Hai, perkenalkan nama saya Fita Refinalia. Saya saat ini bekerja sebagai sekretaris Vice President di salah satu divisi di PT Freeport Indonesia, Tembagapura, Papua. Baru bekerja di sana sekitar kurang lebih 4 tahun. Saat mendengar posisi dan tempat saya bekerja mungkin banyak sekali pertanyaan yang timbul di benak kalian. Mulai dari bagaimana bisa jauh sekali sampai di sana dan bagaimana pula menempati jabatan yang sekarang, sampai mungkin juga muncul pertanyaan seperti apa hidup di ‘kota tambang’ ini.

Tenang, akan saya jawab satu per satu lengkap dengan enak nggak enaknya sekaligus biar punya gambaran jika tertarik untuk mengikuti jejak saya. Awalnya saya tidak langsung ada di posisi yang sekarang…

Perjalanan hidup kadang tak terduga termasuk dalam bidang karier, jalannya pun juga bisa dari mana saja

Tak terduga/ Credit: Fita Refinalia via hipwee.com

Lucunya, pekerjaan pertama sayalah yang membawa saya ke pekerjaan ini. Selesai lulus S1 di Malang, saya pulang ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Tahun 2012, saya diterima bekerja di salah satu perusahaan tambang yang masih bereksplorasi. Posisi waktu itu di purchasing and logistics. Perusahaan ini saat itu sedang mendapatkan investor dari luar. Di sinilah Saya mengenal orang-orang yang kemudian merekomendasikan saya ke atasan-atasan mereka di Freeport Indonesia.

Advertisement

Tahun 2015, saya mendapatkan e-mail dari salah satu atasan di Freeport yang menanyakan apakah saya berminat bekerja sebagai administrator di tim mereka. Namun, saat itu saya sedang ada di Canberra, Australia dalam program Pertukaran Pemuda Pemudi Indonesia Australia (AIYEP), sehingga dengan berat hati tawaran itu saya tolak. Tapi, rezeki nggak lari kemana, what belongs to you will belongs to you. Tahun 2016, saat sudah kembali ke Indonesia, saya dihubungi lagi karena ada vacant position. Itu lah awal cerita bagaimana saya bisa memulai karier di Papua.

Linear atau tidak, akan ada hal-hal yang semasa kuliah yang mungkin akan dibutuhkan nantinya dalam pekerjaan

Nggak harus linear banget/ Credit: Fita Refinalia via hipwee.com

Saat awal mendaftar posisi saya sebagai administrator di suatu section, kurang dari 50 orang. Sekarang diberikan kepercayaan untuk di posisi saat ini. Divisi kami kurang lebih memiliki hampir 850 karyawan. Tapi, ngomong-ngomong kualifikasi, waktu itu CV saya ehm cukup bagus. Lulus cum laude 3.5 tahun dengan IPK 3.7. Waktu kuliah saya juga rajin ikut kursus Bahasa Inggris yang jadi modal penting juga untuk bekerja di perusahaan internasional.

Saya kuliah di teknik Industri, jadi basic-nya engineer. Meskipun sekarang kerjaannya bukan sebagai engineer, tapi personally mindset how to approach issues structurally sangat membantu dalam pekerjaan ini. Dulu cita-cita saya kerja di pabrik karena suka bikin perencanaan. Tapi, meskipun bukan kerja di pabrik, kerjaan sekarang juga banyak memerlukan critical thinking.

Advertisement

Perihal gaji, nominalnya lebih dari cukup apalagi masih dengan bonus-bonus sampingan yang membuat saya tak berhenti bersyukur

Gajinya cukup/ Credit: Fita Refinalia via hipwee.com

Gaji saya bisa dikatakan lebih dari cukup. Bisa dipakai target deposito setiap tahun dan bantu orang tua, bisa jadi modal jalan-jalan juga. Tapi ada hal menguntungkan lainnya. Menurut saya, cuti adalah benefit paling signifikan. Saya beruntung dapat deal kontrak 6 minggu kerja, 2 minggu field break. Tiket ditanggung perusahaan sampai tiba di rumah, plus ada uang tambahan untuk cover biaya traveling (misalnya perlu hotel, taksi, makan selama transit). Dalam satu tahun, Saya dapat cuti sekitar 5-6 kali.

Benefit lainnya selama di jobsite? Akomodasi dan transportasi disediakan. Makan juga tersedia di messhall mulai dari sarapan sampai makan malam. Ada fasilitas gym (banyak pilihan kelas juga tersedia) dan perpustakan. On the top of it, semua gratis sehingga memungkinkan banget untuk nabung gaji. Ada juga disediakan program development seperti training di mana ada section tersendiri untuk employee self development. Untuk coverage biaya kesehatan juga sangat bagus. Bisa berobat di rumah sakit di sana tanpa biaya, dan jika sakit di luar jobsite, biaya bisa di-reimburse kembali sesuai ketentuan.

Walau terdengar menyenangkan dan banyak keuntungan tapi tetap ada saja pahit-pahitnya kerja di tempat yang jauh dari kampung halaman begini ya 🙂

Jauh/ Credit: Fita Refinalia via hipwee.com

Enaknya kerja di sini itu tadi ya, benefitnya banyak. Terus, bekerja di perusahaan multinasional itu berarti bekerja bersama dengan orang dari berbagai daerah dan negara, latar belakang pendidikan, usia, dan karakter bikin kita lebih toleransi terhadap perbedaan dan meningkatkan skill adaptasi kita. Banyak banget yang bisa kita pelajari di sini dari orang lain. Kalau kami bilangnya sih ini seperti sekolah kehidupan. Tambahan enaknya, udaranya segar dan dingin. Kadang suhunya sekitar 8-12°C. View-nya keren, apalagi kalau sudah sunset. Ketinggian tempat tinggal dan kantor bervariasi antara 2000-3000 di atas permukaan laut jadi seringkali berasa ada di atas awan.

Nggak enaknya, jauh dari keluarga. Kalau mau pulang perlu sekitar 1-2 hari untuk bisa sampai ke rumah. Banyak keluarga atau teman yang heran kenapa mau-maunya merantau untuk kerja. Ini juga berarti jauh dari teman-teman dan rutinitas sebelumnya. Kadang kala sinyal internet juga gangguan. Karena ini kota tambang, bahkan setelah pulang kerja, sering kali kalau ketemu teman yang dibahas tetap aja soal kerjaan. Kota ini juga restricted ya, hanya karyawan dan approved business visitors yang bisa masuk.

Buat kalian yang tertarik ingin mengikuti jejak karier saya, tipsnya adalah belajar bahasa Inggris yang tekun, menurut saya ini sangat memengaruhi karir kalau bercita-cita kerja di perusahaan internasional. Bangun networking yang bagus. Kita nggak akan pernah tahu relasi yang kita bangun akan memberikan benefit apa ke depannya. Terus, dream big! Jalan hidup memang berkelok-kelok, tapi tetap usaha dan berdoa. Di tahun 2011, saya menghadiri acara Freeport visit kampus. Waktu itu saya berpikir mana mungkin anak dari daerah seperti saya bisa masuk ke sana. But here I am 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE