Mengenal 6 Psikologi Marketing. Nggak Perlu S-3 di Harvard Supaya Jualanmu Meningkat Pesat

psikologi marketing

Ketika membicarakan teknik marketing, maka kita akan membicarakan teknik melakukan persuasi terhadap seseorang supaya ia mau membeli produk darimu. Untuk melakukannya, layaknya orang PDKT maka kamu harus jago-jago mengambil hatinya. Nah, ketika membicarakan mengambil hati maka kita nggak bisa jauh-jauh dari memahami keadaan psikologi seseorang. Makanya teknik marketing biasanya akan selalu berkaitan dengan permainan psikologis supaya mereka mau melakukan sesuatu yang menguntungkan bisnismu.

Advertisement

Tenang, untuk mempelajari beberapa teknik ini kamu nggak perlu kok susah payah kuliah S-3 di Harvard jurusan marketing. Ada beberapa bocoran yang bisa kamu dapatkan lengkap dengan penjelasannya di sini. Yuk simak sampai habis!

1. Hampir tak ada orang yang tak menyukai hadiah, makanya konsep Reciprocity atau timbal balik akan menyenangkan para customer

Konsep Reciprocity ini dikenalkan oleh Dr. Robert Cialdini, seorang psikolog dan profesor serta penulis buku. Menurutnya konsep ini cukup sederhana di mana jika seseorang melakukan sesuatu untukmu maka secara natural kamu juga ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Makanya, hadiah sederhana mulai dari produk, e-book gratis, atau sesederhana surat yang manis bisa diberikan kepada customer sebelum meminta mereka untuk melakukan sesuatu. Memberikannya sebagai surprise akan lebih menimbulkan perasaan bahagia lagi pada customer lo.

2. Teknik Foot-in-The-Door juga merupakan salah satu trik yang wajib diaplikasikan dalam melakukan persuasi terhadap konsumen

Foot in the door/ Credit: OSORIOartist on Deposit Photos via depositphotos.com

Dilansir dari Forbes, inti dari metode ini adalah meminta seseorang untuk melakukan sesuatu yang sepele. Jika mereka mau memenuhi permintaan kecil ini maka biasanya mereka akan mau mengikuti saran yang lebih besar. Hal ini mereka lakukan karena merasa harus mengikuti setelah melakukan interaksi dan mereka akan merasa berutang jika tak mengikuti pemintaan selanjutnya. Contoh umum hal ini misalnya alih-alih langsung minta teman untuk menjaga rumah selama kamu pergi maka kamu bisa memintanya dulu untuk datang dan mengatakan bahwa kamu akan pergi sebentar. Dalam bisnis contohnya meminta pelanggan untuk mendaftar sesuatu atau mengikuti webinar secara gratis lalu meminta untuk melakukan transaksi berbayar setelahnya.

Advertisement

3. Kelihatannya sepele tapi ternyata warna juga bisa dijadikan sebuah senjata untuk menyentil psikologi seseorang

Mungkin kamu sudah sering mendengarkan bahwa warna akan memengaruhi suasana hati dan sebagainya, ternyata hal ini juga berlaku dalam sebuah bisnis lo. Dalam sebuah penelitian, seseorang bahkan akan mengubah pemikiran terhadap sebuah produk dalam 90 detik dan 62% sampai 90%-nya karena warna itu sendiri. Kamu bisa mulai memelajari warna apa yang memberikan kesan tertentu untuk ditaruh di logo, produk, bahkan unggahan promosi di media sosial agar pas dengan tujuan yang ingin kamu capai.

4. Memberikan kesan urgensi juga jadi salah satu teknik ampuh supaya calon konsumen lekas melakukan pembelian

Salah satu teknik yang jarang gagal walaupun mungkin sudah sering diterapkan adalah menggunakan metode kelangkaan dan meningkatkan urgensi untuk segera memiliki. Biasanya selain mengatakan jumlah yang terbatas, penggunaan batasan waktu juga bisa dilakukan. Misalnya jika diterapkan ke kalimat “Dapatkan penawaran khusus hari ini!” atau “25% diskon untuk 100 pembelian pertama!” Dengan kalimat-kalimat tersebut maka orang yang melihat akan memiliki urgensi untuk membeli saat itu juga agar tak melewatkan penawaran yang dibuat.

5. Pilihan yang terlalu banyak ternyata justru bisa membuat calon pembeli bingung dalam menentukan pilihannya hingga memutuskan untuk tak jadi membeli

Terlalu banyak/ Credit: VerdimVasenin on Deposit Photos via depositphotos.com

Advertisement

Kesalahan yang mungkin sering dilakukan oleh penjual online di marketplace adalah mengunggah produk yang sama lebih dari satu kali sehingga membuat calon pembeli tak yakin mana yang benar-benar dicari hingga memilih untuk membeli di toko lain. Selain itu, menurut sebuah studi yang meminta beberapa orang memilih selai dengan 24 rasa dan 6 rasa, 20% orang berhenti menyicip ketika diberikan rasa lebih banyak dan hanya 3% yang melakukan pembelian. Sementara itu, yang mencoba 6 rasa selai, ada sebanyak 30% yang melakukan pembelian.

6. Ternyata orang tak hanya memutuskan membeli sesuatu gara-gara produk itu sendiri saja lo tapi mereka akan lebih tertarik jika punya nilai yang sama

Kualitas produk tentu menjadi salah satu faktor besar yang membuat konsumen akhirnya membeli dari bisnismu tapi ternyata nilai yang dibawa perusahaan pun akan mengambil peran penting dalam membuat mereka merasa simpati dan berakhir dengan melakukan pembelian. Contoh dari hal ini misalnya perusahaan kosmetik yang tidak melakukan percobaan pada hewan, produk yang menyumbangkan beberapa persen penjualan untuk kegiatan sosial, dan lain sebagainya.

Kamu mungkin beberapa kali mendengar bahwa sebuah perusahaan terkena boikot karena ternyata pemiliknya melakukan sesuatu yang sebenarnya tak ada kaitannya dengan produknya atau mungkin sebuah warung sepi padahal masakannya enak. Hal tersebut membuktikan bahwa psikologi manusia menjadi elemen penting dalam marketing. Selamat mencoba ya!

Gabung dan Berlangganan Newsletter

Berlangganan Newsletter dari Kita Mulai Bersama

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE