Viral Chatime Jualan Keliling, Apakah Sistem Jemput Bola Masih Efektif Naikkan Penjualan?

sistem jualan jemput bola

Belakangan ini viral sebuah video dari pengguna Instagram dengan akun @hendry.jonathan yang berisi Chatime berjualan keliling dengan ‘gerobak’ warna ungu khas minuman yang satu ini. Bagaimana nggak heboh kalau biasanya kita harus masuk ke mal untuk mendapatkan minuman ini, namun selama bulan puasa kita bisa juga menikmatinya dengan membeli di pinggir jalan.

Metode seperti ini sebenarnya sudah diterapkan oleh beberapa brand sebelumnya sperti Pizza Hut hingga Ta Wan yang sempat kesulitan selama pandemi. Lalu, sebenarnya sistem jemput bola seperti ini masih efektif nggak sih untuk promosi? Kita kenalan yuk sambil cari tahu kelebihan dan kekurangannya!

ADVERTISEMENTS

Strategi jemput bola kelihatannya memberikan banyak untung tapi juga melelahkan, pun ternyata ada jenis produk yang cocok dan yang kurang cocok menggunakan ini

Istilah jemput bola merujuk pada sebuah kegiatan marketing di mana pihak perusahaan lah yang menghampiri konsumen untuk menawarkan barang atau jasa. Metode ini akan cocok untuk barang-barang yang masih baru atau bukan barang pokok sehingga jarang dikira dibutuhkan sampai seseorang menjelaskan kegunaannya.

Dalam keadaan pandemi, produk yang biasanya harus didapatkan di pusat keramaian juga akan cocok dengan metode jemput bola karena pelanggan tak perlu bepergian jauh. Selain berjualan keliling dan menawarkan dagangan dari pintu ke pintu, ada cara lain yang bisa digunakan seperti melalui telemarketing, hingga mengirimkan pesan atau DM di media sosial.

ADVERTISEMENTS

Metode ini sudah dilakukan sejak lama bahkan hingga sekarang, ada kelebihan dan kekurangan yang harus dipertimbangkan sebelum menerapkannya

Viral Chatime Jualan Keliling, Apakah Sistem Jemput Bola Masih Efektif Naikkan Penjualan?

Door to door/ Credit: pressfoto on Freepik via www.freepik.com

Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari strategi ini, makanya cukup banyak brand yang masih menerapkannya yaitu:

  • Pihak perusahaan bisa langsung berhadapan dengan konsumen sehingga lebih mudah untuk mempengaruhi mereka menggunakan kalimat-kalimat yang menghipnotis seperti menawarkan kelebihan yang mungkin sebelumnya tak terpikirkan oleh calon pembeli.
  • Jika sudah melakukan riset maka kegiatan ini bisa membidik target market yang lebih tepat sasaran sehingga kemungkinan barang terjual akan lebih besar karena yang ditawari adalah mereka yang benar-benar membutuhkan.
  • Konsumen bisa lebih menghemat waktu dan tenaga. Bayangkan, jika membeli Chatime atau misalnya Sari Roti biasanya harus ke supermarket atau mal, namun dengan sistem ini mereka tinggal menunggu saja saat lewat.
  • Biasanya jika produk yang ditawarkan adalah peralatan  elektronik atau perabotan lainnya maka akan ada demo yang membuat konsumen jadi lebih percaya.
  • Proses ini juga mengizinkan pembeli dan penjual memiliki pembicaraan yang personal seperti bebas bertanya serta mendapatkan jawaban yang lebih detail. Sales juga bisa menggunakan strategi yang menyentuh sisi psikologi dari pembeli.

Meskipun memiliki banyak keuntungan tapi tetap saja ada juga kelemahan dari sistem ini yaitu:

  • Lebih melelahkan dan menguras dana karena membutuhkan tenaga ekstra, biaya transportasi, dan waktu untuk di perjalanan.
  • Sistem ini membuat perusahaan seolah memiliki nilai tawar yang rendah di mana merekalah yang membutuhkan pelanggan, bukan pelanggan yang memang membutuhkan produk dari perusahaan tersebut. Tak jarang, kalau salah strategi malah bisa disepelekan.

Melihat banyak keuntungan yang bisa didapatkan, kamu mungkin akan tertarik untuk melakukan metode ini. Bisa saja untuk mengenalkan produk baru namun kalau kamu berjualan produk seperti kebutuhan pokok, produk dari toko kelontong, toko grosir, atau produk yang sudah mulai terkenal maka kamu bisa juga kok menunggu bola di tokomu yang nyaman.

Baca sepuasnya konten-konten pembelajaran Masterclass Hipwee, bebas dari iklan, dengan berlangganan Hipwee Premium.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An avid reader and bookshop lover.