5 Strategi Bisnis Saat Pandemi dari Merek-merek Ternama. Bisa Diadaptasi untuk Bisnismu Juga

strategi bisnis saat pandemi

Pandemi memang nggak hanya berdampak bagi kondisi kesehatan saja, banyak sektor lain dalam kehidupan pun ikut terdampak. Apalagi pandemi memaksa kita untuk menerapkan berbagai protokol kesehatan dan mengadaptasi kebiasaan baru yang tentunya ikut mengubah tatanan kehidupan. Salah satunya, kegiatan ekonomi dan bisnis juga mengalami banyak perubahan mulai dari omzet hingga berbagai strategi operasionalnya.

Advertisement

Perubahan tersebut membuat banyak sekali bisnis besar yang terpaksa mengurangi produksi bahkan hingga gulung tikar. Meski sulit dengan kondisi tersebut, tapi masih banyak juga lo bisnis yang bisa bertahan. Seperti beberapa resto cepat saji, merek fesyen, dan berbagai bisnis ternama lainnya. Hal tersebut tentu nggak lepas dari strategi-strategi cerdas yang mereka lakukan. Penasaran seperti apa strategi mempertahankan bisnis saat pandemi ala brand ternama?

1. Strategi jemput bola dengan cara turun ke jalan untuk mendekati calon konsumen seperti yang dilakukan Pizza Hut, Chatime dan beberapa usaha serupa lainnya

Strategi jemput bola ala Pizza Hut dan Chatime | Credit by @pizzahut.indonesia/ @hendry.jonathan on Instagram

Strategi ini mungkin sudah nggak asing lagi bagi sebagian orang. Namun, ketika strategi jemput bola ini ternyata juga dipakai oleh resto-resto ternama, mungkin akan terlihat lebih menarik dan membuatmu ingin mencoba. Pizza Hut dan Chatime adalah contoh bisnis waralaba di bidang Food & Beverage (F&B) yang memakai strategi pemasaran jemput bola. Melansir dari CNBN Indonesia, pihak Pizza Hut mengambil langkah tersebut supaya tetap bisa memperkerjakan karyawannya saat gerainya harus tutup karena kebijakan pembatasan sosial.

Namun, bukan hanya itu saja, ternyata strategi ini diambil sebagai cara untuk memudahkan calon konsumen mendapatkan produk. Jika biasanya harus pesan online dan menunggu pengantaran, maka saat mereka membuka lapak di pinggir jalan calon konsumen bisa langsung mendapatkan produk. Hal ini juga bisa memicu impulsive buying atau keputusan membeli yang nggak sengaja, karena produk dipasarkan di pinggir jalan dan bisa dilihat langsung oleh masyarakat yang lewat. Nggak niat beli sih, tapi kalau lihat Chatime dijual pakai ‘gerobak’ atau Pizza Hut dijual pakai mobil di pinggir jalan, jadinya muncul hasrat ingin beli deh~

Advertisement

Strategi ini juga bisa kamu adaptasi pada bisnismu. Nggak harus turun ke jalan, karena nggak semua produk bisa dijual di pinggir jalan tetapi kamu adaptasi sistemnya yang menawarkan produk langsung ke konsumen. Hal ini bisa memudahkan konsumen mendapatkan produkmu~

2. Mengadaptasi kebiasaan baru masyarakat dengan memberikan bonus perlengkapan new normal seperti yang dilakukan Emoline

Advertisement

Bisnis memang harus berkembang seiring bertambahnya kebutuhan calon konsumen, supaya produk bisa terus dicari atau dibutuhkan. Seperti yang dilakukan fashion brand, Emoline untuk mempertahankan bisnisnya saat pandemi seperti saat ini.

Selain Emoline, mungkin kamu juga banyak menjumpai berbagai brand pakaian lain yang turut memproduksi masker sejak pandemi. Ada yang memang sengaja diberikan untuk bonus pembelian, ada juga yang turut dijual. Hal ini adalah strategi supaya brand mereka bisa menjawab kebutuhan dan terus digunakan oleh konsumen, meski dengan bentuk produk yang berbeda.

3. Adaptasi sistem delivery order ala resto-resto cepat saji, untuk bisnis kedai makanan yang biasanya jual di tempat

Delivery order | Credit by Norma Mortenson on Pexels

Strategi ini mungkin paling mudah diterapkan bagi kamu yang punya bisnis kedai makanan. Di kondisi pembatasan sosial seperti saat ini, kegiatan makan di luar atau datang ke kedai untuk membeli makanan juga terbatas. Namun, hal ini bisa disiasati dengan membuat sistem delivery order atau pesan antar seperti yang dilakukan banyak resto-resto ternama.

Jika nggak memungkinkan untuk mengantar pesanan sendiri, kamu bisa melibatkan pihak ketiga misalnya bekerjasama dengan ojek online. Hal ini bisa memudahkan calon konsumen mendapatkan produkmu dan kamu pun bisa mempertahankan penjualan. Jangan lupa mainkan promo gratis ongkos kirim juga supaya lebih menarik dan lakukan promosi secara online, misalnya lewat grup Facebook di kotamu atau lewat kontak WhatsApp.

4. Jadwal promo gratis ongkir sesuai kategori produk yang menarik ala marketplace buat para olshop

Jadwa promo yang menarik tiap bulan | Credit by @shopee_id/ @lazada_id on Instagram

Apakah kamu menyadari, sejak pandemi marketplace gencar sekali membuat program promo yang terjadwal? Misalnya Brand Sale 5.5, atau 6.6, 7.7 dan seterusnya. Padahal, dulu sebelum pandemi program tersebut dilakukan saat Hari Belanja Online Nasional (harbolnas) saja, yakni 11.11, paling mentok 12.12 untuk promo akhir tahun. Tapi, saat pandemi sekarang setiap bulan selalu ada program baru, mulai dari gratis ongkir sampai diskon yang sangat menarik. Ternyata hal ini adalah strategi untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan upaya marketplace untuk membantu UMKM, lo.

Jika kamu belum mencoba berjualan di marketplace, kamu bisa adaptasi dulu program promo mereka. Intinya buat jadwal promo yang menarik, misal promo gajian, promo tanggal tua atau sesuai dengan jadwal yang kamu tentukan sendiri. Promonya pun biasanya beragam, mulai dari potongan ongkir, voucher pembelian berikutnya atau bonus produk.

5. Inovasi produk melalui kemasan misalnya membuat kemasan kopi literan seperti yang dilakukan Starbuck dan usaha kedai kopi sejenis

Jika sebelum pandemi kegiatan nongkrong di kafe jadi rutinitas, saat ini tentu jadi hal yang sebaliknya. Hal ini membuat bisnis kafe jadi sepi pembeli, seperti yang dialami hampir semua gerai Starbuck. Kondisi ini membuat pihak Starbuck membuat inovasi cerdas melalui kemasan kopinya. Melansir dari The Iconomics, Starbuck membuat terobosan baru untuk mempertahankan bisnisnya di masa pandemi, salah satunya dengan membuat kemasan kopi literan untuk produk andalan mereka.

Hal ini karena konsumen nggak bisa menikmati kopi di gerai dan nggak bisa sering-sering take away, maka Starbuck membuatkan kopi botol kemasan 1 liter yang bisa dibawa pulang dan menjadi persediaan di rumah bagi konsumen. Strategi ini bisa kamu adaptasi juga lo, bagi kamu yang punya bisnis serupa atau produk yang bisa diinovasikan melalui kemasan. Misalnya yang biasanya dipakai sekali, maka buat kemasan yang bisa dipakai berkali-kali atau lebih tahan lama.

Nah, itulah 5 strategi untuk mempertahankan bisnis saat pandemi yang sudah dibuktikan oleh bisnis-bisnis ternama. Strategi tersebut bisa kamu adaptasi pada bisnismu sendiri dan disesuaikan dengan produk dan target pasarmu. Selain butuh inovasi, juga butuh ketelatenan agar usaha tetap bisa berjalan meski di tengah pandemi. Buat yang lagi berjuang, semangat terus ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat buku dan perjalanan

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE