Jangan Tergiur Iming-Iming ‘Busa Melimpah’ pada Produk Pembersih. Kamu Sendiri yang Rugi

Bahaya detergen untuk kesehatan, kecantikan, dan lingkungan

Banyak orang yang beranggapan kalau busa melimpah itu jadi jaminan kebersihan. Hal ini berlaku ketika mandi, gosok gigi, keramas, cuci muka, cuci baju, dan aktivitas membersihkan atau mencuci apa pun. Maka nggak jarang, orang lebih memilih produk pembersih dengan embel-embel ‘busa melimpah’.

Advertisement

Busa yang dihasilkan oleh produk pembersih ini mengandung zat surfaktan yang menghasilkan busa saat bereaksi dengan air. Biasanya, bahan kimia yang digunakan adalah SLS (Sodium Lauryl Sulfate) atau SLES (Sodium Laureth Sulfate). Kamu bisa menemukan kandungan ini dalam sabun mandi, sabun wajah, sampo, pasta gigi, sabun cuci piring hingga detergen.

Memang betul, produk pembersih yang ada kandungan SLS atau SLES-nya bakal lebih ampuh mengikis kotoran, minyak, dan lemak. Tapi, kalau dipakai dalam jangka waktu lama, keduanya bisa menimbulkan gangguan kesehatan, bahkan ngaruh ke kecantikan kulit dan kelestarian lingkungan lo! Lebih jelasnya, simak uraian Hipwee Tips berikut.

1. Penggunaan sabun mandi dengan SLS dalam jangka panjang bikin kulitmu kering, kasar, pecah-pecah, hingga iritasi

sabun mandi dengan detergen bikin kulit iritasi via www.allure.com

Meski nggak sebanyak surfaktan yang terdapat dalam detergen, nyatanya banyak sabun mandi yang menggunakan zat ini untuk memaksimalkan fungsi pembersihan kotoran pada tubuh. Memang sih, kulit tubuh jadi lebih bersih dan kesat, tapi efek lain yang dihasilkan adalah kulit kering, kasar dan pecah-pecah karena kehilangan kelembapannya.

Advertisement

Selain itu, derajat keasaman (pH) dalam surfaktan yang tinggi akan membuat kulitmu iritasi. Gejalanya seperti kulit terasa panas, gatal, bahkan mengelupas dan akhirnya iritasi. Terlebih kalau kulitmu tergolong sensitif dan punya riwayat eksem. Kalau kamu terus-terusan pakai sabun badan yang punya bahan dasar SLS, kondisi kulitmu bisa makin memburuk.

2. Begitu juga kalau kamu pakai sabun wajah yang ada kandungan SLS-nya, alamat makin kering dan rentan iritasi

sabun wajah dengan busa juga bikin kulit kering via www.verywellhealth.com

Sabun wajah yang beredar di pasaran juga kebanyakan menggunakan zat SLS sebagai agen pembersihnya. Kotoran di wajah memang akan bersih, tapi sekaligus menghilangkan minyak alami di wajahmu. Nggak jarang kulit wajahmu jadi makin kering, tertarik, kerutan juga lebih gampang muncul. Belum lagi sifat korosifnya, pemakaian dosis tinggi sabun wajah dengan kandungan SLS atau SLES berkepanjangan akan memicu iritasi seperti kering, bersisik, gatal, hingga ruam merah. Sabun wajah dengan SLS ini lebih cocok dipakai olehmu yang jenis kulitnya cenderung berminyak.

3. Keseringan pakai pasta gigi yang ada SLS-nya juga bisa memicu sariawan hingga menghambat fungsi fluoride untuk mencegah gigi berlubang

bikin sariawan via www.smilesbydrdonan.com

Advertisement

Kalau kamu sering mengalami luka atau sariawan kecil di mulut, bisa jadi itu karena ulah SLS yang terkandung dalam pasta gigimu. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Dentistry Norwegia juga menyebutkan bahwa SLS bisa menghambat fungsi mineral fluoride untuk mencegah gigi berlubang.

Bahkan, penggunaan SLS pada pasta gigi lebih berisiko menyebabkan iritasi pada jaringan lunak dalam rongga mulut dibandingkan pasta gigi yang mengandung detergen jenis cocoamidopropyl-betaine (CAPB). Sementara itu, pasta gigi bebas detergen sama sekali nggak menyebabkan iritasi.

4. Kandungan detergen pada sampo juga berdampak buruk bagi kecantikan rambut lo! Haduh~

rambut jadi kering dan kusam via www.sarahkahnhair.com

Rambut yang dikeramasi dengan sampo ber-SLS atau SLES bisa jadi kusam dan kering, timbul ketombe, hingga kerontokan. Dampak pemakaian yang cukup lama bahkan bisa mengikis minyak alami pada rambut. Idealnya, sampo dipakai dua atau tiga kali seminggu aja, bergantung pada kondisi kulit kepala. Jadi jangan sering-sering juga.

5. Busa-busa dari sabun atau deterjen yang terbuang pun bakal jadi limbah yang sulit terurai dan mencemari lingkungan

limbahnya susah terurai via www.acs.org

Karena butuh waktu lama untuk terurai, limbah busa dari produk ber-SLS ini akan meresap ke air tanah dan sumur dalam rumah. Gimana kalau sampai air yang tercemar ini terminum dan masuk ke dalam tubuhmu? Maka akan terjadi penumpukan surfaktan dan bahaya banget risikonya. Nggak hanya merugikan kesehatan manusia aja, tapi bisa mematikan hewan juga. Kesuburan tanah juga bakal menurun drastis, pun polusi udara karena aroma dari limbah yang menguap. Ekosistem jadi semakin buruk, kan?

Untuk mengurangi efek buruk SLS dan SLES, kamu bisa lakukan hal-hal ini:

  • Gunakan produk pembersih yang bebas SLS. Harganya mungkin lebih mahal, tapi terjamin aman kalau dipakai jangka panjang.
  • Lakukan pembilasan sebersih-bersihnya setelah memakai produk yang menghasilkan busa. Residu yang menumpuk bisa diserap kulit. Terutama saat mencuci tangan untuk menghindari SLS masuk ke tubuh saat makan.
  • Gunakan pelembap setelah mandi atau mencuci wajah menggunakan sabun ber-SLS. Bisa dengan krim, losion, atau minyak esensial.
  • Kalau setelah keramas, bisa pakai konditioner yang sesuai dengan kondisi rambut.

Sebenarnya nggak masalah kamu pakai produk pembersih dengan kandungan SLS atau SLES di dalamnya, hanya saja perlu diperhatikan frekuensi pemakaiannya. Kalau memungkinkan sih, mending dikurangi aja. Baca komposisi bahan dulu pada kemasan sebelum membeli produk. Semoga membantu, ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

salt of the earth, light of the world

CLOSE