“Kapan nikah?” adalah pertanyaan wajib yang cepat atau lambat akan kamu dengar kalau sudah punya pasangan. Gimana nggak, hampir semua orang kalau ketemu kamu akan bertanya hal itu-itu saja.

Kalau kamu salah satu orang yang sudah dengan mantap menjawab “Doain aja deh ya,” ada baiknya niat untuk melangsungkan pernikahan itu tak sekadar niat saja. Paling tidak, dari sekarang kamu sudah harus aware apa saja yang layak kalian siapkan demi “naik level” ke jenjang pernikahan. Karena sesungguhnya, persiapan pernikahan itu cukup menguji kesabaran. Tak ada ruginya ‘kan untuk tahu hal-hal yang esensial dari sekarang?

1. Ngelamar pasangan itu jauh lebih heboh daripada ngelamar kerja. Nggak bisa tinggal masukin CV dan tunggu staf HRD calon mertua menghubungi kita

Proses melamar

Proses melamar via www.jogjaland.net

Advertisement

Di film Barat atau Korea, mengatakan “Would you marry me?” ke pasangan aja sudah bisa disebut ‘lamaran’. Tapi kita hidup di Indonesia, dan proses lamaran nggak sekedar nanya gitu aja. Umumnya calon mempelai pria harus ‘ketok pintu’ dulu tuh ke rumah calon mertua. Menceritakan niatnya untuk meminang sang pujaan hati. Setelah mendapat wejangan dari calon mertua, baru deh kalian menentukan jadwal pertemuan keluarga selanjutnya.

Di beberapa budaya, proses lamaranpun ada yang dirancang semacam acara tunangan resmi. Bahkan ada yang sampai membuat acara syukuran dan mengundang tokoh agama untuk minta diberkati. Resmi atau tidaknya acara lamaran kalian akan tergantung dari kesepakatan keluargamu dan pasangan. Yang jelas, ini harus dikomunikasikan dari jauh-jauh hari.

Karena yang dilamar ini pasangan, bukan pekerjaan – yang tinggal masukin cv, terus tunggu staf HRD yang hubungin kita. Kalau lamaran pasangan, justru kita yang harus aktif menghubungi orang-orang yang terkait. Orangtua sendiri, calon mertua, perwakilan keluarga, bahkan mungkin juga tokoh agama. Karena dari hasil pertemuan para lakon tadi, nantinya akan keluar hari baik alias tanggal dan tempat pernikahan.

2. Tak peduli apapun jurusanmu di kuliah dulu, kamu dan pasanganmu akan mendadak belajar akuntansi

Belajar bareng buat nikah

Belajar bareng buat nikah via funtime.ge

Advertisement

Mungkin sebenarnya kalian nggak demen hitung-hitungan. Tapi kalau sudah serius menikah, mau nggak mau ya harus belajar. Pasalnya, kita harus membuat pembukuan awal untuk semua anggaran pernikahan kita.

Yang harus pertama dilakukan adalah segera menentukan budget yang bakal dialokasikan buat nikah. Karena konsep acara pernikahan dan persiapan lainnya akan menyesuaikan budget yang kita punya. Setelah menentukan saldo awal, buatlah rancangan anggaran yang lebih spesifik dengan membaginya berdasarkan klasifikasi tertentu.

Contohnya:

Anggaran Baju

  • Jahit kebaya dan jas 4.000.000
  • Bahan dan ongkos jahit seragam keluarga 5.000.000

Anggaran Mas Kawin

  • Perhiasan Rp. 3. 500.000
  • Cincin Rp. 5.000.000

Dalam penentuan budget emang nggak ada ketentuan khusus siapa yang harus lebih besar proporsi sumbangannya. Lagi-lagi, kembali ke kesepakatan dan kemampuan masing-masing. Karena uang itu hal yang sensitif, ada baiknya kamu dan pasanganmu yang rundingan terlebih dulu. Lalu baru kalian yang menyampaikan ke orangtua untuk minta pertimbangan.

3. Ada beberapa hal yang penting dipikirkan dalam menentukan konsep upacara pernikahan. Tak cukup hanya sekadar kekinian

Konsep kekinian yang cantik. Tapi, belum tentu cocok denganmu

Konsep kekinian yang cantik. Tapi, belum tentu cocok denganmu via instagram.com

Kalau jaman dulu sih orang mau nikah nggak pake konsep-konsepan. Lamaran, tentukan tanggal, nikah, kelar. Kalau sekarang…

“Eh kamu mau nikah ya tahun depan ? Rencana pakai konsep wedding apa?”

“Oh konsepnya kami rock and roll. Jadi dari mulai undangan, foto prewed sampai dekorasi dan dresscode tamunya nanti kami minta untuk rock and roll gitu juga.”

Nikahnya sekali seumur hidup ‘kan? Kalau budget emang mencukupi nggak ada salahnya sih membuat konsep pernikahan seperti yang kalian mau. Tapi konsep itu juga jangan cuma ikut-ikutan supaya tampil kekinian. Konsep itu harus merepresentasikan kalian banget dan disetujui oleh keluarga. Mungkin kamu dan pasangan sukanya petualangan, bisa pake konsep alam. Atau malah kalian pasangan yang memang peduli soal budaya — maka konsep nikah adat bisa dijadikan pilihan.

4. Ada bagian “nggak seksi” dari menyiapkan pernikahan: administrasi pemberkasan di kantor kelurahan

Kantor kelurahan

Kantor kelurahan via commons.wikimedia.org

“Wah kamu sudah mau nikah ya.. Berarti nanti nemuin Pak Joko ya?”

“Eh iya Tante… hehehe.”

(*dalam hati*: Pak Joko tuh siapa ya?)

Ternyata Pak Joko itu administrasi kelurahan.

Kamu yang katanya mau nikah, sudah kenal belum sama ketua RT-nya? Tahu di mana rumahnya? Terus tahu nggak letak penyimpanan akte kelahiran dan Kartu Keluargamu (KK)? Kalau udah tahu, syukurlah… Tapi kalau belum, berarti kamu harus mulai bersosialiasi di lingkungan tempat kamu tinggal dan juga mulai belajar tertib urusan administrasi. Karena ini emang seninya mau nikah.

Untuk urusan nikah di Catatan Sipil, kamu harus menyiapkan berkas-berkas tertentu. Pertama kamu harus minta surat pengantar dari Ketua RT untuk dibawa ke Kantor Kelurahan. Sebelum meminta surat itu, kamu juga mesti bawa fotokopi KTP dan KK-mu. Kebayang ‘kan kalau kamu nggak tahu tempat nyimpennya di mana atau nggak punya fotokopiannya. Setelah dari situ, kamu baru ke kantor kelurahan untuk mengurus berkas-berkas lain, istilahnya Form N1-N4. Di sana juga kamu harus menyiapkan fotokopi KTPmu dan KTP Pasanganmu, fotokopi KK dan juga Akte Kelahiranmu. Beda daerah, bisa beda kebijakan. Untuk di daerah tertentu, fotokopian kelengkapan suratmu tadi harus dilegalisir sampai ke Kantor Kecamatan lho.

Nggak usah dibayangin dulu sampai waktunya tiba ya. Siapkan mentalmu saja anak muda!

5. Pun siapkan mentalmu untuk mengikuti kursus pernikahan. Jangan malas-malasan, “fasilitas” ini layak dimanfaatkan

Sebelum menikah, harus ada kursus pernikahan

Sebelum menikah, harus ada kursus pernikahan via www.aaronhill.org

Dalam beberapa kepercayaan, para calon pengantin juga diwajibkan mengikuti kursus persiapan pernikahan. Kursus ini bukan sembarang kursus. Karena sertifikat yang nantinya didapat itu bakal jadi prasyarat untuk nikah secara agama. Kamu nggak boleh datang sendirian, pasanganmu juga harus dilibatkan.

Kamu nggak perlu kuatir akan menyia-nyiakan waktu dengan mengikuti kegiatan ini. Dijamin deh kamu nggak nyesel. Karena materi dalam kursus ini sangat menambah wawasan dan pengetahuan, mulai dari hukum-hukum agama, psikologi keluarga, seksualitas sampai ke pengaturan ekonomi keluarga. Tapi sayangnya jadwal kursus ini tidak tentu. Bisaanya menunggu kuota pendaftaran terpenuhi. Makanya buat kalian yang diwajibkan mengikuti kursus ini, mulai sekarang rajin tanya jadwal Kursus Persiapan Pernikahan dan persyaratannya apa aja ya

6. Dalam tahap persiapan, jangan kaget kalau kamu jadi rajin ngukur jalan. Maklum, harus survey banyak peritilan

Undangan, salah satu peritilan

Undangan, salah satu peritilan via www.etsy.com

Kalau bagian yang ini lumayan fun sih. Setelah harus melalui banyak tahap yang lumayan bikin mabuk kepayang, sekarang waktunya bersenang-senang. Kamu mulai rajin “ngukurin jalan” dari utara ke selatan, dari barat ke timur buat survey peritilan-peritilan pestamu. Mulai dari mengeksplor jenis, warna, bentuk dan membandingkan harga barang yang mau dibeli. Seperti souvenir, designer undangan, penjahit, dan sebagainya.

Tapi kalau kamu nggak mau repot, kamu juga bisa menggunakan vendor yang menyediakan jasa EO. Kamu tinggal bilang konsep dan maumu gimana, lalu mereka deh nanti yang akan menyulapnya jadi nyata.  Selain itu, pergi ke wedding expo juga bisa dijadikan alternatif pilihan. Di sana akan ada banyak vendor dari peritilan-peritilan yang kamu cari tadi. Yippie, seperti kata pepatah setali tiga uang, kamu tinggal pergi ke satu tempat dan sudah banyak yang didapat.

7. Segera pesan apa yang biasanya jadi rebutan. Ini termasuk venue, katering, perias, dan penjahit.

Pesan katering itu ribet

Pesan katering itu ribet via womanandhome.info

Meskipun kamu dan pasanganmu saling jatuh cinta, tapi maaf dunia ini belum jadi milik kalian berdua. Begitupun dengan pesta pernikahan kalian. Bayangkan ada pasangan lain juga yang mulai merencanakan tanggal dan lokasi pernikahan yang sama dengan kalian. Biar nggak keduluan, segera pesan dan beri tanda jadi hal-hal yang kemungkinan akan jadi rebutan. Seperti gedung, katering, perias, fotografer dan penjahit. Jangan heran kalau ada pasangan yang nge-book hal-hal tadi mulai dari satu tahun sebelumnya.

Kalau kalian juga pengen punya undangan dan cincin yang custom dengan kriteria kalian sendiri, book juga vendor tersebut setidaknya 2 bulan sebelumnya. Supaya kalian nggak perlu antrian yang panjang, deg-degan pun jadi hilang.

8. Dari “Om-Tante”, sekarang jadi “Papa-Mama”. Perubahan kecil seperti ini menyimbolkan transisi besar pada hidupmu dan dia

Dari dua jadi satu keluarga

Dari dua jadi satu keluarga via reuters.com

Nah kalau tadi persiapannya banyak yang menguras tenaga fisik, kali ini cuma mental aja sih yang dilatih. Kamu yang tadinya menyapa calon mertuamu dengan “Om-Tante”, sekarang mulai latihan menyapa jadi “Papa-Mama” ya. Grogi ? Iyalah sedikit… Tapi bukannya kalau mau menikah nggak lagi tentang ‘aku dan kamu’, tapi ‘kita’ ‘kan?

Pernikahan bukan hanya tentangmu dan pasanganmu, tapi juga antar keluarga kalian. Itu juga kenapa kamu mesti melatih diri untuk mulai menganggap keluarga pasanganmu jadi bagian dari keluargamu juga.

9. Kamu yang idealis harus bisa jadi lebih realistis. Tak hanya dalam tahapan menyiapkan pernikahan saja, tapi juga pernikahan baru setelahnya.

Kalian juga harus bisa lebih realistis

Kalian juga harus bisa lebih realistis via bridalmusings.com

Sudak agak lega bukan rasanya hampir semua persiapan tuntas dilakukan. Eits belum selesai, masih ada 1 lagi yang kurang. The last but not least. Jangan lupa juga ya membahas sekilas rumah tangga kalian ke depannya gimana. Ini sebenarnya yang paling penting daripada wedding-nya, marriage life after wedding. Bahasan tentang kehidupan pernikahan yang seringkali jadi agak kelupaan.

Kamu mungkin orangnya idealis, tapi ketika menikah, idealismemu juga harus jadi realistis. Kamu dengan bentukan pola asuh yang sudah sekian tahun, begitupun dengan pasanganmu. Tentunya sudah membentuk pola pikir dan kebiasaanmu sampai jadi seperti sekarang. Tidak jarang kles karena beda pola kehidupan mulai bermunculan. Jadi nggak ada salahnya mulai terbuka dengan pasangan tentang kebisaaan dan pengaturan keuangan nantinya. Karena pernikahan yang sesungguhnya itu hanya melulu soal penyesuaian sampai maut memisahkan.

Jadi gimana, kamu dan pasanganmu sudah siap betul melangkah ke jenjang berikutnya ? Semoga Wedding Preparation To-Do-Listnya sudah banyak yang tercentang ya. Selamat mempersiapkan hari bahagia kalian dan Selamat belajar menyesuaikan 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya