Traveling bukanlah melulu soal destinasi yang kamu singgahi, melainkan juga segala pengalaman yang kamu dapatkan selama melakukan perjalanan. Salah satunya, tentu berinteraksi dengan orang yang mungkin sama sekali asing bagimu, baik itu warga lokal maupun sesama traveler yang kebetulan berpapasan denganmu di tengah jalan.

Interaksi yang kamu alami bersama orang asing maupun pengalaman lainnya saat traveling mungkin terasa remeh dan sederhana. Tapi, ini gak selalu berlaku buat traveler yang introvert. Hal-hal sederhana kadang justru menciptakan pergumulan di batin orang-orang ini.

Advertisement

Nah, kira-kira, seperti apa ya perjuangan yang dirasakan oleh para pejalan yang introvert selama menjelajah?

1. Di dalam bus atau kereta, kamu sebenarnya pengen ngobrol asyik sama orang di sebelahmu. Tapi, karena merasa canggung, akhirnya kamu memilih menutup kupingmu dengan earphone

Mendengarkan musik aja deh

Mendengarkan musik aja deh via www.flickr.com

“Duh, pengen ngajak ngobrol mbak-mbak cantik di sebelahku, tapi ngobrolin apa ya biar gak garing?”

Mungkin ini situasi yang paling sering terjadi saat bepergian jauh sendirian naik bus atau kereta. Kamu dihadapkan pada situasi di mana kamu mesti duduk sebangku bersama orang asing di dalam bus atau kereta sepanjang perjalanan yang memakan waktu berjam-jam.

Advertisement

Sejujurnya, sih, sesekali kamu juga pengen ngobrol sama tetangga di sampingmu—apalagi kalau dia lawan jenis yang menarik. Tapi, kamu sendiri susah banget buat memulai basa-basi. Akhirnya, kamu cuma bisa berharap diajak ngobrol duluan atau malah memilih tenggelam ke dalam musik yang terputar di earphone-mu sepanjang perjalanan. Ketika sampai tujuan, baru deh kamu merasa campur aduk: lega sekaligus sedikit nyesel. Haduh.

2. Sebaliknya, ketika orang di sampingmu sudah ngajak kamu ngobrol, kamu malah jadi gak nyaman sendiri. Ujung-ujungnya, obrolan pun jadi kurang mengalir

Untung gak ada orang di sampingmu

Untung gak ada orang di sampingmu via wallpaperstock.net

Meski kamu menyukai ide tentang mengobrol dengan orang asing saat traveling, tak jarang kamu justru mendapati bahwa diajak ngobrol dengan orang asing itu terasa gak nyaman. Apalagi, ketika basa-basi itu mulai meningkat jadi pertanyaan-pertanyaan kepo yang menjurus ke hal-hal pribadi, semacam “Di kota X kamu nginep di mana?” atau “Eh, minta nomor HP, dong”. Ini sih modus.

Kamu paham kadang orang cuma pengen memecah keheningan. Tapi, karena kamu sendiri gak begitu berminat untuk menggali latar lawan bicaramu lebih jauh, ujung-ujungnya kamu cuma bicara seperlunya sehingga obrolan kalian pun gak mengalir.

3. Kendaraan umum yang penuh sesak membuatmu tersiksa. Soalnya, nyaris tak ada jeda antara kamu dan orang-orang di dalamnya

Tak ada jeda di atnara kamu dan orang-orang

Tak ada jeda di atnara kamu dan orang-orang via www.dailymail.co.uk

Bagi beberapa introvert, naik kendaraan umum yang penuh sesak saat traveling menjadi siksaan tersendiri. Soalnya, kamu gak punya ruang jeda antara dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Situasi kayak gini jelas membuatmu gelisah dan gak nyaman. Seandainya bisa, kamu bakal memilih alternatif kendaraan lain aja.

Tapi sayang, kadang hal itu bukan pilihan, karena kendaraan penuh sesak yang kamu tumpangi itu satu-satunya alternatif biar bisa berangkat atau pulang. Kamu pun membayangkan jadi milyuner yang punya helikopter sendiri.

4. Saat menentukan akomodasi, couchsurfing atau hostel jadi pilihan kesekian. Kamu lebih senang menikmati kesendirian di kamar hotel yang privat

Sisipkan momen-momen pribadi

Sisipkan momen-momen pribadi via instagram.com

Gak bisa dipungkiri, akomodasi menjadi salah satu biaya yang lumayan membebani bujet perjalananmu. Sebagai seorang backpacker yang anggarannya ketat, ide sekamar rame-rame atau numpang di rumah orang ala couchsurfing memang selalu menggoda. Kalau emang bisa gratis, kenapa enggak, sih?

Tapi, numpang di rumah orang sekamar bareng-bareng, atau nginap di hostel kadang malah membuatmu merasa canggung. Selain kamu butuh ruang untuk sendiri, kadang dirimu juga dibuat kurang nyaman dengan kelakuan rekan sekamarmu. Makanya, kamu lebih suka membayar ekstra buat kamar hotel yang privat untuk dirimu sendiri atau bersama satu atau dua orang yang kamu kenal baik, daripada mesti sekamar rame-rame bareng orang asing.

5. Saat nyasar pun kamu lebih suka berusaha mencari jalan sendiri. Berhenti dan bertanya ke orang sekitar adalah pilihan terakhir

Usaha dulu sebelum tanya orang

Usaha dulu sebelum tanya orang via www.myfrenchlife.org

Tak jarang, kamu salah jalan saat hendak menuju ke suatu tempat. Tapi, selama belum benar-benar kepepet, kamu akan mencari informasi yang bisa mengembalikanmu ke jalan yang benar. Bisa lewat papan penunjuk jalan, peta, bahkan GPS. Pokoknya, nanya ke orang sekitar itu jadi pilihan terakhir deh.

Meski seringkali menanyakan arah adalah hal yang paling praktis, kamu enggan melakukan ini. Gak nyaman rasanya mengusik orang lain. Selain itu, memulai percakapan juga jadi hal yang sulit dilakukan olehmu.

6. Sebenarnya, kamu juga ingin menciptakan interaksi dengan warga lokal yang kamu temui, tapi tanpa temanmu yang lebih supel, hal itu takkan terjadi

Interaksi dengan warga lokal

Interaksi dengan warga lokal via instagram.com

Buatmu, traveling sendirian memang paling pas untuk menikmati perjalanan dengan caramu. Tapi, kamu juga merasa bersyukur bila bisa melakukan perjalanan bersama teman yang lebih supel sekaligus yang bisa ngertiin kamu. Bagimu, dia adalah jembatan interaksi yang bisa menghubungkanmu dengan warga lokal.

Suatu hari, saya berpapasan dengan anak-anak koin di Lumban Silintong, Danau Toba. Ketika mereka meminta kami melempar koin, saya memilih untuk tidak mengacuhkannya. Tapi, teman saya justru mendekati mereka—melempar sejumlah koin dan mengajak ngobrol. Tanpa teman saya, saya mungkin gak bisa mengintip cerita menarik tentang mereka.

7. Bahkan, seringkali kamu sungkan merepotkan rekan seperjalananmu. Kamu lebih suka melakukan semuanya dengan mandiri

Selfie aja deh

Selfie aja deh via www.huffingtonpost.com

Ketika ikut dalam sebuah trip kelompok bareng orang-orang yang sama sekali baru, kamu seringkali memilih untuk gak merepotkan salah satu dari mereka dan mengurus dirimu sendiri. Misalnya, saat kamu pengen berfoto dengan latar sebuah panorama alam atau landmark terkenal di kota yang kamu kunjungi, kamu lebih milih selfie aja, sementara sisanya adalah foto-foto yang gak ada kamunya. Padahal, sebenarnya kamu pengen difoto juga sih, gak selfie doang.

8. Bukan hanya gak mau merepotkan orang lain, kamu juga mengalami kesulitan saat membaur dengan mereka. Kamu lebih senang melakukan aktivitas favoritmu

KAmu lebih suka melakukan aktivitas favoritmu

KAmu lebih suka melakukan aktivitas favoritmu via losangeles.cbslocal.com

Ada alasannya kenapa kamu lebih senang traveling sendirian. Saat bergabung dalam grup trip, biasanya ada acara bebas yang diisi dengan kumpul-kumpul untuk sekadar ngobrol sambil meneguk secangkir kopi sekalian berbagi kisah-kisah perjalanan masing-masing. Tapi, hal kayak gitu rasanya bukan kamu banget deh. Alih-alih ngomong di depan banyak orang, kamu lebih suka menyendiri sambil tenggelam dalam game, buku, atau lamunanmu.

9. Keenggananmu buat membaur bareng traveler lain kadang membuat orang-orang jadi sungkan mendekatimu, mengira kamu sulit didekati atau bahkan mengira kamu ngambek

Kamu tampak sulit didekati

Kamu tampak sulit didekati via www.thegrowthlist.com

Kamu udah biasa dianggap kayak alien karena sifatmu ini. Selain orang-orang jadi sungkan untuk mendekatimu, kamu juga akan dihujani dengan pertanyaan dan komentar semacam “Kenapa kamu gak ikut ngumpul?” atau “Kok diam aja sih, cerita-cerita dong!”. Beberapa bahkan mengira kamu lagi marah, jutek, atau bahkan lagi PMS.

Gak ada yang salah sih dengan mereka, pun gak ada yang salah dengan diammu. Kamu cuma pengen menikmatinya dengan caramu. Dan kamu paling senang ketika ada orang-orang yang memahamimu dan menyadari kebutuhanmu akan ruang untuk menyendiri.

10. Bagimu, berjumpa dan berinteraksi dengan banyak orang hal adalah kesempatan yang gak boleh disia-siakan. Tapi, pada waktunya kamu tetap butuh ruang untuk sendiri

Kesendirian membuatmu bisa "mencerna" hal-hal yang kamu alami

Kesendirian membuatmu bisa “mencerna” hal-hal yang kamu alami via pslovecharli.com

Selama melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, kamu selalu dikelilingi dengan manusia. Kamu pun gak menghindari interaksi, kok. Seringkali, hal itu menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menghadirkan momen yang gak terlupakan. Tapi, kamu tetap butuh ruang untuk sendiri untuk beberapa waktu. Karena pada saat itulah kamu “mencerna” semua kejadian dan interaksi antarmanusia yang kamu alami hari itu.

11. Sisi baiknya, kamu gak pernah merasa kesepian saat traveling sendirian. Kamu bisa menikmati kesendirian dalam hening. Toh, kamu juga gak serta merta menghindari semua interaksi, ‘kan?

Meski sendiri, kamu gak merasa sendirian

Meski sendiri, kamu gak merasa sendirian via www.thegrowthlist.com

Kalau emang lagi mood, seorang introvert juga bisa jadi orang yang supel, kok. Sebenarnya, berinteraksi dengan orang lain bukanlah kesulitan yang berarti. Kamu cuma merasa bahagia ketika mendapatkan kesendirian dan keheningan yang kamu butuhkan. Makanya, orang introvert gak pernah merasa kesepian saat melakukan sebuah perjalanan.

Nah, itulah hal-hal yang kadang menjadi pergumulan batin para traveler yang berkepribadian introvert. Apa kamu jgua sering mengalami situasi seperti di atas?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya