Gak pernah abis cerita lucu orang-orang tua kita di sana. Belum abis berita soal komentar bernada SARA dari bapak sodara kandung calon Gubernur DKI, sekarang heboh beredar foto surat ‘penitipan’ berkop Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). Bukan penitipan barang yang dimaksud. Bukan… tapi penitipan kolega agar difasilitasi oleh Konsulat Jenderal RI pas liburan di Sydney, Australia.

Surat ‘penitipan’ itu ditujukan kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan ditandatangani oleh Sekretaris Kemenpan-RB, Dwi Wahyu Atmaji. Surat ‘penitipan’ itu pun untuk ditembuskan kepada Menteri PAN-RB Yuddy Chrisnandi, Dubes RI untuk Australia di Canberra, dan Konjen RI di Sydney.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Bapak Menteri PAN-RB mohon bantuan kiranya Konsulat Jendral RI di Sydney dapat menyediakan fasilitas berupa akomodasi dan transportasi selama Sdr. Wahyu Dewanto dan keluarganya berada di Sydney.

Pak, ko enak banget difasilitasi buat liburan?

“Dia sudah izin ke saya, katanya dia udah lama enggak jalan-jalan sama anak istrinya. Jadi, kunjungannya kunjungan pribadi, liburan gitu lah,” kata Ketua Fraksi Hanura DPRD DKI Mohamad “Ongen” Sangaji.

Tak ada yang menyalahkan liburan, Pak. Siapa saja tak diharamkan untuk liburan. Tapi beda cerita kalau surat di atas bener-bener membuat kolega Yang Mulia Yuddy Chrisnandi minta difasilitasi saat liburan di Australia. Masa minta dibayarin negara? Duh, enak bangetttt….

Sebenernya siapa sih yang minta difasilitasi? Gak tanggung-tanggung pula: sekeluarga.

Advertisement

Liburan sekeluarga gak masalah sih… via www.geneva.edu

Dalam isi surat, bisa dengan jelas dibaca, terdapat nama Wahyu Dewanto. Bukan siapa-siapanya Rio Dewanto. Seriusan… Semoga aja nama belakangnya gak bikin Rio kena citra buruk.

Wahyu adalah Anggota DPRD DKI Jakarta. Hubungan kekolegaan antara doi Dewanto dengan Yang Mulia Yuddi Crisnandi ternyata karena sama-sama kader Partai Hanura. Hmmm… pantes. Di Hanura, Wahyu menjabat sebagai Bendahara Umum DPP.

Yuk coba kita itung biaya perjalanan mereka selama 9 hari di Sidney.

Harga tiket PP pesawat ke Jakarta-Sidney berapa ya?

Pasti pilih yang paling nyamanlah ya… via www.smh.com.au

Yang Mulia Yuddy Chrisnandi, rasanya buat seukuran keluarga politisi – yang minta difasilitasi – gak mungkin deh pilih harga tiket paling murah. Satu harga tiket PP pesawat ke Jakarta-Sidney paling mahal kira-kira sekitar Rp 8 juta. Dikali 5 orang? Rp 40 juta!

Hotel? Pemilik properti minta akomodasi hotel?

Ini salah satunya.. via gambar-rumah.com

Kepada Yang Mulia Yuddy Chrisnandi… Yang Mulia tahu kan kolega Yang Mulia itu pemilik beberapa properti komersial di Jakarta. Salah satunya Pusat Grosir Cililitan (PGC) yang terletak di Jakarta Timur, yang jadi properti ritel berkonsep strata title perdananya.

Properti lainnya adalah hotel. Yang Mulia, tolong dengar. Wahyu sukses membangun Fave Hotel Cililitan yang terdiri 194 kamar yang dilengkapi 10 ruang pertemuan. Hotel, Yang Mulia! Dan doi minta akomodasi, yang pasti salah satunya adalah hotel, di Australia.

Soal biaya hotel, di jadwal tertera 24 Maret – 2 April 2016. Sembilan hari. Anggaplah satu sewa hotel sehari bisa sampe Rp 5 juta per malam. Dijumlah 9 hari jadi Rp 45 juta. Kalau 3 kamar ya anggap aja 135 juta buat nginep doang!

Biaya hidup selama 9 hari di Australia berapa ya kira-kira?

Gak mungkin di hotel doang kan? via 1.bp.blogspot.com

Yang Mulia Yuddy Chrisnandi, buat biaya hidup berlima, jalan-jalan lagi, di Australia selama 9 hari pastinya gak semurah hidup di Jakarta. Kalau kita kira-kira biaya hidup mereka di sana, termasuk transportasi dan tiket-tiket masuk akomodasi tempat wisata, mungkin butuh Rp 5 juta-lah sehari. Total 9 hari bisa mencapai Rp 45 juta. Itu asumsi biaya yang kecil sih bagi pengusaha dan politisi macam Pak Wahyu ini.

Yang Mulia, buat apa kita bayar pajak kalau buat dipake jalan-jalan kolega bapak.

Bayar pajak buat biayain liburan orang. via images.turbotax.intuit.com

Kita rela bayar pajak buat kepentingan negara ini, bukan untuk memfasilitasi bapak-bapak yang berkantong tebel dan sekeluarganya buat liburan. Ke luar negeri pula. Banyak orang di Indonesia nggak bisa makan enak. Mereka “dipaksa” bayar pajak yang ternyata potensial dinikmati segelintir oknum yang mau untungnya sendiri.

Yang Mulia, mending suruh Pak Wahyu berprinsip seperti backpacker kalo dia ngga mau keluar banyak duit.

Lebih hemat, Pak. via mysuperkids.net

Daripada pake uang negara mending suruh Pak Wahyu pake prinsip backpacker, Yang Mulia. Tapi ya namanya juga liburan ke luar negeri sekeluarga. Duitnya pasti lebih butuh banyak dibanding sendiri atau berdua. Backpacker punya prinsip pilih opsi kebutuhan yang paling murah. Bapak kan bisa lebih hemat. Misal ke Aussie naik maskapai yang suka promo murah itu, atau numpang di homestay khusus backpacker. Pasti ngirit deh!

Buat kamu yang mau liburan jauh, kamu mending nabung dan pake duit sendiri daripada pake duit negara. Hiii…

Yang penting halal. via cdn.mode.com

Yang Mulia Yuddy Chrisnandi, saya yakin bapak-bapak di sana gak nyaman liburannya. Diomongin banyak orang di negaranya. Gara-gara Yang Mulia sih… Kayanya gak mungkin gak ada omongan soal ‘penitipan’ ini sebelumnya. Masa Bapak Wahyu tiba-tiba minta difasilitasin. Kamisih sebagai orang biasa sadar Pak, daripada kami harus mengemis uang ke negara buat liburan mewah, lebih baik kami makan mie instan tiap hari demi nabung buat traveling setahun sekali. Lebih menenangkan dan insyaallah berkah.

Kepada Yang Mulia Yuddy Chrisnandi, butuh lebih dari 200 juta rupiah buat sekali liburan keluarga Pak Wahyu Dewanto di Australia menurut hitung-hitungan kami. Ini baru satu kasus, bisa jadi yang tak terungkap sangat banyak. Duit segitu lumayan, Yang Mulia, bisa buat bantu perbaikin satu sekolah di timur Indonesia sana. Biar sekolahnya nyaman, bisa jadi penerus bangsa yang baik dan pastinya jujur…

Yang Mulia Yuddy Chrisnandi, terakhir, saya minta maaf soal judul. Saya cuma bercanda. Saya cuma sayang sama Yang Mulia.

Salam dari traveler kere