Dolly, yang menyala-nyala di puncak kota,

yang sembunyi di sudut jalang jiwa pria Surabaya.

Dulu, di temaram jambon gang sempit itu,

aku mursal masuk, keluar, dan utuh sebagai lelaki.

(Si Pelanggan – Silampukau)

Ya, itulah sepenggal lirik lagu berjudul Si Pelanggan yang dibawakan oleh band indie Surabaya beraliran folk, Silampukau. Mereka sanggup ‘memugar’ sekaligus ‘mengabadikan’ nama Dolly dalam wujud lagu. Katakanlah, lagu ini sengaja dibuat untuk mengenang Dolly.

Advertisement

Tak hanya bagi warga kota Surabaya, pun tak hanya bagi petualang cinta satu malam saja, nama Dolly nampaknya sudah tak asing lagi bagi banyak orang di negeri ini. Lokalisasi legendaris yang terletak di puncak kota Surabaya, kini sudah punah digerus jaman. Kini ia telah jauh berubah, secepat ars perubahan itu sendiri.

Sekilas tentang Dolly, saat masih menjadi lokalisasi. Ada yang pernah ke sini?

etalase wisma-wisma di Dolly, kala itu

etalase wisma-wisma di Dolly, kala itu via www2.jawapos.com

Dulu di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang” di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.

Gang Dolly sudah ada sejak jaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der Mart. Karena berada di tengah kota, kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rejeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Dua tahun silam, tepat Juni 2014, lokalisasi ini berhasil ditutup oleh pemerintah kota Surabaya. Bukan hal mudah ketika Dolly sudah sebegitu tenarnya..

perkenalkan, ini Dolly

perkenalkan, ini Dolly via www.mapalaptm.com

Advertisement

Sebelum deklarasi penutupan digelar, penolakan keras dilakukan oleh para pekerja lokalisasi (PSK, mucikari, makelar tamu, penjual minuman, dan sebagainya). Opini publik yang terbentuk saat itu adalah penutupan lokalisasi hanya akan menyengsarakan para pekerjanya yang sudah terbiasa mendapat penghasilan belasan juta sebulan. Kini mereka harus kehilangan pekerjaan. Kasihan? Iya.

Tapi nyatanya, beberapa bulan setelah penutupan itu. Ada kisah sukses mantan mucikari yang memulai hidup baru dengan berjualan telur asin dan telur ayam negeri. Tak ada penutupan lokalisasi yang awalnya tidak diwarnai protes memang. Tapi rencana itu jalan terus, perlahan tapi pasti, wajah eks lokalisasi berubah menjadi sentra-sentra kerajinan dan belanja.

Bu Risma sempat berujar “Dolly bukan ditutup, tapi diubah wajahnya”. Para pekerja lokalisasi kini dialihkan profesinya.

kamu percaya, ini di dalam wisma terbesar di Dolly? iya, Dolly sedang bertransisi

kamu percaya, ini di dalam wisma terbesar di Dolly? iya, Dolly sedang bertransisi via www2.jawapos.com

Sebagian ada yang jadi pedagang makanan olahan yang menuai omset yang cukup fantastis. Ada pula yang bekerja di sektor pekerjaan lain yang berbasis industri rumah tangga, semisal menekuni bisnis penjualan telur asin, bawang goreng, dan lain-lain.

Lalu bangunannya untuk apa? Sabaaar. Wisma Barbara di lokalisasi Dolly misalnya, wisma itu sangat kental nuansa prostitusinya. Bangunan enam lantai itu merupakan salah satu wisma paling terkenal di wilayah Dolly. Sekarang, kondisinya sudah jauh berbeda. Sejak dibeli Pemkot Surabaya, Wisma Barbara kini difungsikan sebagai markas usaha kecil menengah (UKM) yang memproduksi sepatu. Selain itu, terdapat broadband learning center (BLC) sebagai sarana pelatihan komputer bagi warga sekitar. Tempat tersebut juga dijadikan lokasi display hasil kerajinan batik.

Hssst… tak hanya itu, Februari lalu, Risma juga sudah meresmikan gang Dolly sebagai wisata mural. Selamat!

ini juga di wisma Barbara

ini juga di wisma Barbara via www.goodnewsfromindonesia.org

Masih di wisma Barbara. Pada bagian luarnya, tembok samping bangunan tersebut dimanfaatkan untuk mural. Deretan gambar interaktif tersaji apik dengan sentuhan aneka ragam warna. Saat meresmikan kampung mural, Risma diberi kesempatan menuliskan sebuah kalimat. Walikota yang terpilih memimpin Surabaya selama dua periode ini akhirnya menuliskan “Kampung Wisata Penuh Cerita.”

Walau sudah meresmikan Kampung Wisata Mural, Risma berpesan agar penggambaran mural harus tetap memperhatikan norma dan kesopanan

ini Dolly kini~

ini Dolly kini~ via www.goodnewsfromindonesia.org

“Saya bukan tidak suka sama mural, tapi mural itu harus pada tempatnya. Agar mural bisa menyampaikan pesan positif, jangan sampai ada kata-kata kotor di dalamnya. Sebab, itu akan dilihat oleh anak-anak yang tinggal di sekitar sini,” ujarnya seperti dilansir dari Republika

Mural di kawasan Dolly itu pun ada beragam. Mulai dari lorong waktu yang menggambarkan masa depan, ada harapan yang dilukiskan dengan sayap, dan tokoh-tokoh animasi khas kota Pahlawan seperti Gob and Friends untuk memperkenalkan industri kreatif Surabaya.

Ke depannya, Risma ingin agar seni mural dapat dikembangkan ke arah pelatihan lukis kanvas dan lukis via komputer. Memang sih, hasil seni gambar yang menggunakan teknologi komputer dapat diunggah ke media sosial dan dinikmati secara global.

Berubahnya wajah Dolly kini juga bukan hanya peran Pemkot saja, melainkan campur tangan komunitas anak muda juga. Antara lain Gerakan Melukis Harapan (GMH) dam Surabaya Creative Network (SCN).

bukan hanya peran Bu Risma lho ya

bukan hanya peran Bu Risma lho ya via cdn.sindonews.net

GMH sendiri merupakan organisasi yang beranggotakan 100-an relawan dari berbagai kampus di Surabaya yang peduli terhadap perubahan kawasan eks lokalisasi. Gerakan yang mereka lakukan itu dimulai jauh sebelum penutupan lokalisasi Dolly. Berkolaborasi dengan SCN, mereka berusaha menghidupkan kembali Dolly menjadi kawasan wisata baru, yang kemudian dinamai dengan Kampung Seni Mural. Siapa sangka, ide tersebut ternyata sejalan dengan ide Pemkot Surabaya.

Tak hanya wisata mural saja, rencananya kawasan Dolly akan dijadikan kampung wisata yang terdiri dari beragam kampung tematik yang ditempatkan di gang-gang berbeda. Setelah Kampung Seni Mural diresmikan, kini mereka sedang mempersiapkan Kampung Hijau Lestari, Kampung Seni, dan Kampung Oleh-Oleh. Oya, setelah meresmikan wisata mural, Risma juga sudah meluncurkan klub sepak bola U12 dan U15 di Dolly lho…

Satu lagi, terkait Wisata Mural, setelah Dolly, Risma juga memberikan ruang lainnya di sudut-sudut Surabaya

ini di Jembatan Gubeng

ini di Jembatan Gubeng via images.detik.com

Wanita peraih gelar walikota terbaik dunia tersebut memang ingin menjadikan Kota Pahlawan mempunyai wisata mural. Makanya, dia sengaja memberikan ruang atau wadah kepada komunitas mural se-Surabaya untuk menyalurkan hobinya. Beberapa hari lalu (27/6) di Jembatan Gubeng misalnya, masing-masing komunitas mural diberikan ruang tembok untuk membuat mural dengan tema Surabaya.

Jadi, gimana? Surabaya punya tempat wisata baru lho. Kapan kamu “pulang” kesana? Ini adalah awal perubahan Dolly, mari kita dukung. Dengan adanya mural ini, semoga dapat meningkatkan perekonomian warga dari segi kreativitas. Kita jaga bersama-sama yaaa 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya