Bulan Ramadhan tahun ini akan segera berakhir. Sebulan penuh, rahmat dan ampunan Allah tercurah untuk seluruh umat manusia agar kemudian mereka bertakwa. Begitu banyak janji pahala, ampunan maupun pembebasan api neraka yang diberikan khusus di bulan spesial ini. Bagi ahli ibadah, tentu kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang teramat sangat. Sementara bagi ahli belanja, kepergian Ramadhan jadi kesempatan untuk berbelanja sepuasnya dengan diatasnamakan sesuatu yang suci, Lebaran!

Refleksi Ramadhan ini buat traveler tentu menarik bila disimak. Jika ini Ramadhan terakhirku, hal-hal seperti ini harus aku renungkan baik-baik…

Katanya traveler, ndaki gunung yang tingginya ribuan meter aja bisa. Melangkah ke masjid yang dekat aja kok nggak bisa. Dasar lemah

Sebagai pendaki gunung, tentu kamu sudah sering berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut ya. Ya sebut saja misal Gunung Mahameru di ketinggian 3.676 mdpl ataupun Gunung Rinjani di angka 3.726 mdpl. Nah, tau sendiri kan beratnya ke puncak tuh seperti apa. Tapi sadar nggak kamu ada tempat yang jauh lebih sulit menggapainya meskipun tak jauh dari rumah kamu? Ya, melangkah ke masjid adalah salah satu hal paling berat dilakukan meskipun lokasinya sangat dekat. Apalagi Sholat Subuh, ya kan? Refleksi Ramadhan 1, yuk melangkah ke masjid tiap adzan berkumandang. Nggak malu bisa mendaki ke mana-mana bahkan Seven Summit eh, nggak kuat ke mesjid! Duh…

Kalau traveling jauh banget habisin banyak duit. Lha giliran zakat dan sedekah, kok pelit?

sedekah via 3.bp.blogspot.com

Advertisement

Traveling ke Nepal, London, Maldives atau Raja Ampat itu mahal banget biayanya. Emang sih, traveling adalah hobi yang mahal. Biaya puluhan juta bisa melayang seketika kala traveling. Nah, refleksi Ramadhan 2, sudah berapa banyak yang kamu sisihkan untuk zakat dan sedekah. Padahal iming-iming pahalanya cukup besar lho. Apa kamu masih sayang buat bersedekah yang notabene jumlahnya tak seberapa dibanding budget traveling yang menggila? Please, Ramadhan jadikan momentum untuk berbagi dan tidak pelit ya.

Nahan lapar pas backpackeran aja kuat, masa nahan lapar 12 jam aja ngeluh mulu. Nggak malu nih?

Ini nih kelakuan traveler yang cukup mengganggu penulis. Heran sih, banyak sekali backpacker ataupun pendaki yang kuat nahan lapar karena minimnya uang saku saat ngetrip. Mereka rela makan sehari sekali atau minum sekedar air putih gratisan tiap hari. Sayangnya, ketika bulan Ramadhan perut mereka jadi kian lemah. Nggak ngerokok bentar aja rasanya dunia mau meledak. Nggak malu apa ya, kalau traveling kuat nahan lapar, pas bulan puasa malah nggak puasa dengan alasan nggak kuat lapar ataupun minum. Bagi orang dewasa harusnya malu sama anak kecil. Hal ini adalah Refleksi Ramadhan ke 3 buat kamu para traveler.

So, Lebaran sebentar lagi. Ramadhan mau pergi. Sedih atau senang? Ya, pada prinsipnya, sebagai traveler ada baiknya kita mau merefleksikan Ramadhan kita sebagai media untuk pembelajaran dan peningkatan kualitas diri dan iman kita. Semoga tahun depan Ramadhan masih mau menjumpai kita semua.