Mungkin benar kata orang, kalau Ibu Kota itu jauh lebih kejam dibanding ibu tiri. Ya, Jakarta. Dikenal sebagai kota dengan banyak gedung bertingkat dan bangunan mewah. Kamu bilang Jakarta itu indah, Jakarta itu megah? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Pembangunan memang terus ditingkatkan, pun begitu dengan kemiskinan. Berapa banyak manusia datang dan mengadu nasibnya di sini? Yang kalah ya harus pindah. Ada sih yang menetap, tentu dengan diri yang makin meratap. Ada luka, kemiskinan, dan keprihatinan di Ibu Kota kita. Siapa sangka hal ini justru bisa menjadi “tempat” wisata. Kamu nggak percaya? Yuk dibaca~

Ada yang lagi hits nih di Ibu Kota, Jakarta Hidden Tour namanya. Wah namanya keren, jangan kaget kalau jujugannya nggak sekece namanya ya~

selamat datang di Jakarta Hidden Tour via www.iberita.com

Berwisata sambil melatih kepekaan sosial. Berdasar hal ini, Jakarta pun kini punya paket liburan sambil berkegiatan sosial. Yap, Jakarta Hidden Tour namanya. Wisata ke tempat-tempat tersembunyi di Jakarta, menyingkap sisi lain Ibu Kota. Tren baru? Iyaa. Ini bisa cocok untukmu yang jenuh dengan mal-mal mewah bertingkat di Jakarta. Karena tur yang satu ini dijamin sangat berbeda dengan tur-tur yang sudah lebih dulu ada. Kamu akan melihat Jakarta yang kumuh dan rumah-rumah yang sangat sederhana. Berminat mencoba?

Ronny Poluan ialah sosok yang ada di balik wisata kontroversial ini. Bagaimana dia lantas bisa menjual “kemiskinan” ? Simak ceritanya!

nih kenalan sama Bang Ronny Poluan via suaramahasiswa.com

Ronny Poluan memang seorang seniman, lelaki jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sudah berusia 56 tahun dan sering disebut punya intuisi bisnis yang mungkin tak dimiliki banyak orang. Profesi baru Ronny Poluan ialah menjual paket Jakarta Hidden Tour. Oleh jaringan televisi internasional CNN yang sempat meliput pekerjaan Ronny, paket wisata ini disebut sebagai Wisata Kemiskinan. Kamu yakin nggak miris dengan hal ini? Dilansir dari CNN, Ronny menepis tudingan miring soal kegiatannya.

Advertisement

“Saya tidak menjual kemiskinan negeri saya. Saya juga anak bangsa yang punya Nasionalisme. Tolong ini dicatat dulu, sebelum timbul pikiran-pikiran negatif,” terang pria berambut panjang penuh uban itu.

Karena yang harus orang tahu, separuh dari biaya tour yang dibayar para turis, akan diberikan pada masyarakat di daerah kumuh ibu kota yang jadi obyek wisata

pro kontra akan selalu ada. lihat juga dampak positifnya via media-cdn.tripadvisor.com

Ide bisnis nyentrik ini muncul pada awal Februari 2008, tatkala ada warga negara asing minta dipandu oleh Ronny berkunjung ke daerah-daerah slum (kumuh) yang ada di Jakarta. Dia bilang kepada seniman gondrong itu, kalau ingin menyalurkan bantuan. Tak berhenti sampai di situ, masih ada beberapa orang asing yang meminta jasanya untuk mengantar ke daerah-daerah miskin di Jakarta. Ada yang berasal dari Australia, Amerika Serikat, dan Jepang. Terlepas dari separuh biaya yang akan diberikan pada warga, para turis memang seringkali secara spontan memberikan beragam bantuan kepada warga.

Ronny bilang, ini semua berkat film. Hingga dia memiliki banyak kenalan dari mancanegara yang akhirnya memunculkan ide bisnis yang tak biasa. Kamu penasaran kan harganya berapa?

kalau mereka nggak keberatan ngeluarin duit segitu ya nggak masalah dong via www.pixoto.com

Dengan basic pendidikan sutradara film pendek dan pemain teater, Ronny sering menemani kolega-kolega seninya dari mancanegara. Dia pernah membuat dua film dokumenter di Kampung Galur, Jakpus. Film semi dokumenter berjudul Eye of The Day dan Shape of The Moon itu memenangi world Cinema Award dalam kompetisi Sundance Film Festival, Amerika, tahun 2005 silam.

Nah, berkat dua film itulah, orang asing jadi tertarik untuk melihat langsung kehidupan masyarakat di balik gedung-gedung pencakar langit, serta hingar bingar gemerlap dunia malam penuh hura-hura di Jakarta. Setelahnya, Ronny pun menggagas paket wisata ini dan memasarkannya secara online. Tarif tour berkisar antara USD 65 sampai 165 (Rp 600 ribu hingga Rp 1,5 juta) per orang untuk paket jalan-jalan sekitar empat-lima jam.

Kalau kamu bilang ini mahal, para turis justru bilang ini murah. Bahkan seringkali mereka minta dijemput dengan metromini supaya lebih menjiwai

mereka bahagia lho dengan wisata ini via kaskus.co.id

Daerah padat hunian maupun kumuh yang jadi favorit turis asing antara lain Kampung Luar Batang (dekat Pasar Ikan), Galur, Senen (pemukiman di pinggur rel kereta api), Kampung Pulo (pinggiran kali Ciliwung, Kp. Melayu), dan Kampung Bandan dekat Kota Tua. Orang-orang asing itu ingin melihat kehidupan warga Jakarta apa adanya. Kalau hanya gedung-gedung tinggi, mereka jelas memandang di negara mereka lebih megah.

Para turis biasanya dijemput dengan bus dari hotel tempat mereka menginap, tapi ada juga yang malah meminta metro mini sebagai kendaraan yang mereka tumpangi.

“Mereka bilang, kok murah sekali. Setengah dari biaya itu, saya bagikan lagi ke warga yang daerahnya kami kunjungi. Terus terang, kalau bicara keuntungan, sangat tipislah,” ujar Ronny dilansir dari okezone.com

Rombongan tamu yang dibawa rata-rata berkisar 10-15 orang, pernah juga rombongan besar sampai 30 orang, sehingga Ronny harus merekrut tenaga tambahan.

Melalui Jakarta Hidden Tour ini, bukan hanya kemiskinan yang dikomersilkan. Tapi para turis juga bisa melihat keramahtamahan orang Indonesia, dan kerukunan kehidupan beragama di negeri ini

indonesia itu kaya apa miskin hayo via afandri81.files.wordpress.com

Bule datang, warga senang. Mungkin slogan ini tepat untuk menggambarkan kondisi dalam pariwisata nyeleneh yang ada di Jakarta. Meski ada di daerah padat hunian atau tinggal di rumah kumuh, tapi tak ada satu pun warga yang memanfaatkan keadaan dengan meminta-minta kepada wisatawan asing. Justru para turislah yang spontan memberi. Kalau ada pejabat atau pihak lain yang meragukan wisata ini dan kiprah Ronny, dia malah mengajak mereka untuk terjun melihat langsung.

“Buat apa mereka protes, kalau kenyataannya kemiskinan selama ini cuma dipolitisir, sementara rakyat tetap miskin,” ungkapnya, dilansir dari okezone.com

Melalui paket wisata ini, diharapkan yang muncul ialah rasa kemanusiaan dari interaksi yang berlangsung dengan mereka yang kurang mampu. Meski pakaian yang dikenakan seadanya, tapi senyum tulus mereka menggambarkan betapa polos dan gembiranya anak-anak kecil itu. Terlepas dari pro kontra menyoal tur ini, ya udah begini kan kenyataan negeri ini? Nggak usah malu, merasa dipermainkan atau merasa dihinakan. Inilah realita sesungguhnya Ibu kota. Kalau ada rasa kemanusiaan dan kasih sayang yang tumbuh saat kamu bertemu mereka yang kurang mampu, berarti kamu memang mempunyai hati nurani yang tulus.