Kamu tahu Sangihe? Yuk coba buka peta Indonesia, lalu pantengin pulau-pulau kecil di utara Pulau Sulawesi dan berada di selatannya Filipina. Ingat, masih di wilayah Indonesia lho. Nah bagaimana? Sudah ketemu kah? Yups, disitulah Kepulauan Sangihe berada manis mungil di tengah hamparan biru Laut Sulawesi. Kepulauan Sangihe berada di ujung utara Indonesia.

Sekarang, sudah terbayang kah bagaimana rupa Sangihe? Pasti kamu dijamin akan meraba-raba bagaimana pesona sejati daerah yang tersusun dari 105 pulau besar dan kecil. Maklum, masih jarang Travellers yang mengeksplor keindahan kawasan yang terkenal sebagai jantung Nusa Utara. Sangihe bisa disebut sebagai permata di beranda utara Indonesia yang masih tersimpan rapi dari hiruk pikuk pariwisata Indonesia. Namun, sekali melangkah ke Sangihe, dijamin kamu akan langsung jatuh cinta pada sesak keindahannya.

Advertisement

Okay, Travelllers! saya akan berbagi bareng Hipwee Travel sekilas pesona Sangihe yang pasti bisa membuatmu terpana.

Simak dulu, begini lho caranya pergi ke Sangihe

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mercusuar lama MALAHASA, salah satu ikon Tahuna, ibukota Kepulauan Sangihe. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Asumsinya kamu berangkat dari Jakarta ya. Pertama-tama kamu harus terbang dulu ke Manado, ibukota Sulawesi Utara. Di Manado ini, kamu bisa langsung melanjutkan terbang ke Tahuna, ibukota Kepulauan Sangihe. Nama bandaranya adalah Naha. Namun, kamu harus pastikan jadwalnya, karena penerbangan ke Sangihe hanya ada lima kali seminggu, yakni Sabtu, Minggu, Selasa, Rabu dan Kamis.

Jika tidak pas hari tersebut, Manado juga asyik dijelajahi lho terlebih dulu. Ingat pesona 5 B dari Manado, yakni Bunaken, Boulevard, Bubur (Tinutuan), dua nya ini ups… (bibir dan body). Atau, kamu bisa naik kapal cepat (7 jam) atau kapal lambat (12 jam) yang tersedia setiap hari dari Pelabuhan Manado.

Advertisement

Nah, bagaimana? Ternyata tak susah-susah amat ya untuk bisa menuju ke Sangihe. Kamu bisa merencanakan perjalanan dari jauh-jauh hari dengan menabung. Untuk perjalanan ke Sangihe paling tidak butuh biaya pesawat dari Jakarta sampai Tahuna Rp 1,3 juta sekali jalan. Emmm, ternyata tak murah juga ya.

Rasakan keindahan Sangihe bermula dari Pantai Embuhanga yang memiliki perairan tenang dan pasir putih yang terang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Guratan manis Embuhanga. Cakep banget ya. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Datang ke Sangihe, wajib rasanya untuk mencumbui kemolekan pantainya yang tersebar di pesisir pulau. Salah satu yang berharga untuk kamu kunjungi adalah Pantai Embuhanga. Lokasinya ada di Petta, yang lebih dekat dijangkau dari Bandara Naha ketimbang kamu harus berangkat dari ibukota Sangihe, yaitu Tahuna. Keindahan Pantai Embuhanga yang akan membuatmu takjub ialah hamparan pasirnya yang lapang dengan dikawani oleh nyiur kelapa yang semampai. Perairannya cukup tenang dan jernih. Sambil minum air kelapa muda, rasanya kamu akan betah berlama-lama di pantai ini.

Ingin melihat perairan sebening kaca, menyeberanglah ke Pantai Tinakareng

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beningnya Pantai Tinakareng bikin buru-buru untuk membenamkan diri pada keindahannya. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Masih soal pantai Sangihe yang cantiknya luar biasa. Kali ini kamu bisa menjajal pesona Pantai Tinakareng yang punya perairan begitu jernih hingga bisa kamu sebut sebening kaca. Hamparan pasirnya berpadu dengan tambatan perahu nelayan dan perkampungan. Ada dermaga yang menjorok ke tengah laut yang berujung dengan panorama Gunung Awu – gunung aktif tertinggi di Sangihe – yang sungguh gahar menawan. Kamu perlu tahu di Tinakareng ini terdapat pos TNI AU yang memantau kawasan lautan perbatasan Indonesia – Filipina.

Untuk mencapai Pantai Tinakareng, dari kota Petta sewalah perahu masyarakat untuk menjangkau pantai di ujung Pulau Nipa ini. Sekalian kamu habiskan waktu seharimu untuk ‘island hopping’ di pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Sangihe Besar.

Yuk, mencumbui cantiknya pesona bibir Pasifik dari Pulau Bukide.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Naik ke Bukide Batu untuk mencium mesra Bibir Pasifik. Eh.. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Dari Tinakareng, lanjutkanlah ke pulau Bukide, tetangga Pulau Nipa. Tujulah kawasan Pantai Bukide Batu yang sepanjang perjalanan menyuguhkan panorama kampung kecil berharmoni dengan rimbunnya pulau dihampari nyiur kelapa dan pohon pala. Sambutan Pantai Bukide Batu adalah garis pasir yang betul-betul halus dan putih dengan kekhasan nyiur Sangihe yang semampai. Di salah satu sisinya, cobalah untuk snorkeling dengan gembira karena aneka terumbu karang akan memanjakanmu. Sempurnakanlah dengan mendaki Pulau Bukide Batu dan kamu akan merengkuh panorama luas bibir Pasifik yang teruntai manis dengan lautan biru.

Kamu pendaki gunung? Ada Gunung Awu yang dikelilingi asrinya nyiur kelapa akan mengundangmu untuk didaki.

IMG_1716

Kawah Gunung Awu yang aktif tapi sementara masih tertidur. via http://penhidenbertangkabiringan.blogspot.co.id

Biar perjalananmu tak melulu soal laut, mari menikmati pendakian Gunung Awu. Gunung aktif yang berketinggian 1320 meter di atas permukaan air laut ini mengisi sebagian besar ruang di Pulau Sangihe Besar dan memberi kesuburan padanya. Jika kamu suka mendaki gunung tak ada salahnya untuk menjajal sekaligus menikmati pesonanya. Kamu bisa memulai dari Kampung Anggis di Tabukan Utara dan akan menempuh 7 km hingga ke puncak. Begitu tiba di puncak, Gunung Awu akan menyuguhkanmu sebuah panorama kawah seluas 4,5 km dengan menyembul batu lava hitam di tengahnya. Tertarik mendaki?

Ada juga Gunung Mahangetang di dalam lautan yang mengajakmu untuk diselami.

92. Pulau Mahengetang e

Gelembung air di Gunung Api Mahangetang. Pesona luar biasa Sangihe ya. via http://wisatasangihe.blogspot.co.id

Sebagai kawasan yang terletak di deretan Ring of Fire Pasifik, Sangihe dianugerahi banyak gunung berapi yang masih aktif. Selain gunung Awu, ada juga gunung Mahangetang yang terletak menakjubkan di dalam laut. Dengan puncaknya yang berada di 8 meter di bawah permukaan air laut, kamu bisa menjumpai gelembung-gelembung udara dengan berpadu pada gugusan terumbu karang yang indah. Uniknya, suhu perairan di sini begitu hangat. Penyelaman menikmati pesona vulkanik bawah laut di Gunung Mahangetang termasuk langka di dunia lho. Untuk menikmatinya, sewalah perahu dari Tahuna menuju Pulau Mahangetang. Spot gelembung gunung yang bernama lokal Banua Wuhu ini terletak sekitar 300 meter dari Pulau Mahangetang.

Buktikanlah kalau panorama Ibukota Sangihe, Kota Tahuna cakep sekali lho dipandang dari Puncak Pusunge Lenganeng.

0907208Subuh-di-Tahuna-2780x390

Lanskap menawan Kota Tahuna dari Puncak Pusunge via http://travel.kompas.com

Yang butuh melihat panorama kemeriahan kota Tahuna yang disekap bukit-bukit curam berbataskan teluk biru, Puncak Pusunge Lenganeng adalah tempat terbaik. Kamu tak perlu capek mendaki. Dengan berkendara motor atau mobil, kamu hanya perlu satu jam dari kota Tahuna untuk menjangkaunya. Puncak Pusunge telah dikemas apik sebagai tempat wisata yang akan memanjakan kebutuhanmu pada udara bersih dan lanskap yang menyegarkan mata. Lokasi ini juga bagus sebagai spot paralayang yang telah dikenal di seantero nasional. Tak jauh dari Puncak Pusunge, lengkapilah perjalananmu dengan mengunjungi kerajinan bambu batik khas Sangihe di Lenganeng.

Luangkan waktumu untuk wisata sejarah ke Istana Raja Manganitu dan Makam Bataha Santiago. Simak kisah heroik sang pahlawan Sangihe ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Istana Raja Manganitu yang menjadi saksi bisu perlawanan kepada Jepang. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Asrinya makam Raja Bataha Santiago. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Tak cuma di Jawa saja yang punya kerajaan, Sangihe juga memiliki kerajaan-kerajaan yang peninggalannya kini masih bisa dijumpai. Salah satunya adalah Istana Raja Manganitu di daerah Manganitu, 45 menit dari Tahuna. Arsitekturnya cantik mirip dengan rumah zaman kolonial yang dikelilingi taman yang asri. Rumah ini jadi saksi perlawanan raja Mokodompis, raja Manganitu terhadap kejamnya Jepang di Sangihe hingga berujung hukuman mati sang raja. Lima belas menit dari Manganitu, kamu juga bisa napak tilas kisah heroik Bataha Santiago di makamnya yang terletak di pinggir laut. Sambil menyesap panorama suatu tanjung yang indah, kamu perlu mengenang keteguhan Bataha Santiago melawan penindasan Belanda di Sangihe pada abad 17.

Di satu kawasan Kadadima, kamu bisa sekaligus menjumpai tiga air terjun yang didekap asri nan hijau pegunungan Pulau Sangihe

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Air terjun Kadadima yang segarnya bikin betah berlama-lama. via www.diasporaiqbal.blogspot.co.id

Traveller biasanya suka sekali mengeksplorasi air terjun. Nah, di Sangihe kegemaranmu akan terlampiaskan di Air Terjun Kadadima. Tak cuma satu air terjun saja yang kamu dapatkan, tapi sekalian tiga buah air terjun dalam satu kawasan. Ketiga air terjun ini bernama Tadunang Metei, Ellong dan Nahapase. Masing-masing air terjun memiliki keunikan rupa yang akan membuatmu betah menikmati di tengah rimbunnya pegunungan di jantung Pulau Sangihe. Dari kota Tahuna, tujulah Desa Laine, Manganitu Selatan sekitar satu jam berkendara. Lalu, lanjutkanlah jalan kaki setengah jam dan akan menyeberang sungai kecil yang menyegarkan. Sepanjang perjalanan kicauan burung akan menjadi kawan perjalanan yang makin membuat manis Kadadima.

Bolehlah kalau sekarang berkenalan dulu dengan Sangihe. Menabung rindu dulu tak apa, sambil menabung uang tentunya karena perjalanan ke Sangihe perlu biaya yang tak murah. Bukannya kamu udah terbiasa menabung perasaan kepada dia kan, Mblo?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya