Tahun 2016 ini Hipwee Travel memprediksi pendakian gunung akan semakin meriah saja. Kini, tak semata kelompok pecinta alam saja yang suka mendaki. Kalangan awam saja bisa mendaki gunung. Meskipun memang kondisi ekologis gunung kini kian rusak akibat munculnya pendaki-pendaki alay yang tak tahu norma dan peraturan pendakian. Tentu semua berharap mereka cepat sadar, ya. Agar kerusakan gunung bisa diminimalisasi.

Apa sih motivasi orang mendaki gunung?

Advertisement

Macam-macam, lebih ke eksistensi sih sepertinya. Foto selfie kekinian kian jadi tuntutan. Atau demi menunjukkan identitas traveler dengan kaos My Trip My Adventure. Ada juga yang idealis seperti ingin menyaksikan kebesaran Tuhan dari atas puncak tertinggi. Jawaban terakhir ini klise, sih. Tapi kebanyakan hanya sekedar kata-kata. Sikapnya di atas gunung tak terejawantah dalam perilaku dalam pendakian yang justru tak mendekati Tuhan sama sekali. Jangan gitu lah, ya. Ada berbagai cara untuk tetap dekat dengan Tuhan kala mendaki gunung. Yuk, kita bahas persoalan ini.

Awali pendakian dengan Bismillah. Memperbaiki niat mendaki, jangan sampai pendakian kita diawali niat yang buruk. Niatkanlah untuk hal kebaikan

awali dengan bismillah

awali dengan bismillah via www.facebook.com

Meskipun tak ada yang mengetahui niat di hati, ada kalanya pendaki ke gunung dengan perasaan sombong. Merasa ingin menaklukkan puncak tertinggi. Kadang juga meremehkan medan karena merasa berpengalaman. Ada pula yang niatnya untuk ngalap berkah, mencari ilmu sesat sampai pesugihan. So, perbaiki niat kita sebelum mendaki ya kawan!

Kalau kamu ingin menyaksikan kebesaran Tuhan di puncak Rinjani, kenapa sholat malah kamu tinggalkan?

di gunung harus tetap sholat

di gunung harus tetap sholat via www.sociotraveler.com

Banyak pendaki yang mengatakan bahwa semakin sering mendaki akan lebih merasakan kekuasaan Tuhan. Lebih merasa dekat dengan-Nya. Eh, sayang itu hanya di bibir saja. Ketika azan berkumandang (nggak terdengar sih di gunung) justru banyak yang nggak berhenti sejenak untuk segera sholat. Padahal kan kamu dapat kemudahan (rukhsah) di gunung. Kamu bisa menjamak sholat kamu Dzuhur-Ashar maupun Maghrib-Isya jadi satu. Sungguh menghadap Sang Pencipta di atas gunung sangat terasa khusyuknya.

Advertisement

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Bingung gimana bersuci di atas gunung, kamu bisa tayamum menggunakan media debu atau tanah kok

bisa tayamum kan?

bisa tayamum kan? via www.sociotraveler.com

Alasan utama para pendaki enggan untuk sholat di gunung dikarenakan nggak ada air yang melimpah. Ah itu alesan aja. Kamu bisa gunakan tenda kamu buat bersuci kok. Begini caranya gaes:

  1. Carilah debu di sekitarmu, bisa di atas permukaan tenda atau yang lainnya
  2. Mengucap niat tayamum
  3. Mengusap debu dengan kedua belah telapak tangan
  4. Mengusapkan ke seluruh wajah
  5. Usap debu lagi kemudian usapkan ke tangan kanan lalu ke kiri

Nah, masih alasan nggak mau sholat di gunung?

Di gunung, bawalah selalu kitab sucimu. Jika ada waktu luang silakan dibaca dan resapilah.

bisa loh baca quran di puncak

bisa loh baca quran di puncak via www.socotraveler.com

Sesekali bawalah kitab sucimu, bisa Al Quran atau Injil bahkan Weda, ya sesuai keyakinanmu gaes. Yakin deh baca kitab sucimu di atas gunung serasa mendengar sendiri Tuhan berbicara kepadamu. Mungkin terdengar lebay, makanya cobain deh. Rasanya adem dan syahdu sekali. Di atas gunung, dirimu dan Tuhanmu akan terasa makin dekat dan mesra.

Bagikanlah air minum dan makananmu kepada pendaki lain. Sedekah di gunung akan terasa lebih melegakan

berbagi makanan

berbagi makanan via www.facebook.com

Kadang pemberian yang paling membahagiakan adalah ketika harus berbagi dalam keterbatasan. Di gunung, dalam segala keterbatasan, manusia akan terlihat karakter aslinya. Akankah lebih baik jika karakter terbaik kita yang muncul. Salah satu karakter baik adalah berbagi. Bersedekah. Begitu indah jika semua berbagi kala mendaki. Kebaikan seperti akan berbalas dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Pun, kita juga akan merasa lebih mengingat Tuhan.

Banyaknya pendaki yang meninggal serta dibangunnya beberapa makam di gunung membuat kamu semakin mengingat kematian. Ziarah di atas gunung bisa jadi renungan

prasasti soe hok gie

prasasti soe hok gie via www.facebook.com

Tak terhitung banyaknya nyawa melayang di gunung. Bukan rahasia umum, jika medan berat gunung dan kadang fisik pendaki yang tidak fit jadi alasan banyaknya pendaki yang meninggal di ketinggian. Kamu bisa ziarah di makam-makam yang kadang kamu jumpai di atas gunung. Atau setidaknya bisa kamu doakan mereka yang namanya terukir di prasasti Mahameru. Dengan begitu, kita lebih mengingat kematian dan lebih dekat ke Tuhan, kan?

Selalu mengingat dan mensyukuri keindahan alam yang bisa disaksikan. Jangan rusak dan buang sampah sembarangan

selalu berdoa di perjalanan

selalu berdoa di perjalanan via www.sociotraveler.com

Indonesia itu indah. Kapan kamu kesini?

Puncak Mahameru 3.676 mdpl

Coretan di atas kertas ala anak-anak kekinian kini cuma jadi jargon belaka. Masa kertas-kertas itu dibuang di gunung setelah selesai berfoto. Belum lagi sampah sisa-sisa makanan yang dibuang begitu saja. Indonesia itu emang indah, ada atau tidaknya kamu di gunung. Nggak usah pamer gitu kalau akhirnya kamu juga yang merusaknya. Menjaga kelestarian alam merupakan salah satu bentuk syukur kepada Tuhan, kan?

Please, ingat terus Tuhan kamu di hati dan sikap kamu ya, kawan!

Memang sih, semua dikembalikan kepada kamu semua, kawan-kawan pendaki gunung. Pesan ini disampaikan karena Hipwee peduli sama kamu semua. Kalau dari niat, sikap, sampai kata-kata pun terjaga, seharusnya sih ekosistem gunung tak akan rusak. Tetap lestari sampai nanti. Tanpa mengingat Sang Maha Kuasa, pendakian kita nggak ada artinya, Gaes.

Selamat mendaki, trekkers!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya