Pada akhir bulan Januari lalu, dunia pendidikan Indonesia terhenyak ketika 3 mahasiswa UII (Universitas Islam Indonesia) meninggal ketika sedang menjalani Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala UII. Diksar yang bertajuk The Great Camping (TGC) itu digelar tanggal 13-20 Januari 2017 di Gunung Lawu, Karanganyar. Diksar yang seharusnya jadi ajang keakraban dan pendidikan peserta baru mapala justru berakhir tragis. Tiga mahasiswa atas nama Muhammad Fadli (19), Syait Asyam (19) dan Ilham Nur Padmi (19) harus menghembuskan nafas terakhir akibat penganiayaan seniornya dalam Diksar tersebut.

Bukti video penganiayaan sudah dihapus oleh pelaku. Namun, Tim dari kepolisian berhasil me-recovery video-video bukti tersebut dan isinya begitu sadis dan biadab!

kapolres karanganyar

kapolres karanganyar via krjogja.com

Sebenarnya, bukti rekaman video yang didokumentasikan oleh pelaku sudah dihapus. Setelah disita, alat dokumentasi dari panitia berupa kamera diperiksa. Ternyata sesaat sebelum disita, alat bukti video telah dihapus file-nya. Labfor Polda Jateng akhirnya bisa me-recovery file tersebut dan berhasil mendapat barang bukti itu kembali.

Advertisement

Setelah dibuka kembali videonya, ternyata hasilnya begitu mencengangkan. Tampak sekali kekejian yang dilakukan panitia Diksar Mapala UII, termasuk oleh tersangka Yud dan Ang.

“Betapa sadisnya mereka (panitia) memperlakukan peserta. Tiga korban meninggal dunia mendapat penganiayaan. Dua tersangka yakni Yud dan Ang melakukan itu paling dominan,” kata Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak kepada wartawan di Mapolres, Kamis (23/2) seperti dikutip dari KR Jogja.

Buat yang penasaran dengan videonya, tentu publik nggak boleh mengaksesnya. Namun mari dengarkan pemaparan dari Kapolres Karanganyar tentang isi video tersebut

lokasi penganiayaan

lokasi penganiayaan via cdn.sindonews.net

Bukti penganiayaan terlihat jelas dalam video tersebut. Peserta diksar ditendang di ulu hatinya, perut bagian bawah dan bagian tubuh lainnya juga turut ditendangi. Korban yang sudah tak berdaya setelah ditendangi, kemudian diseret ke semak-semak. Mereka para peserta dianiaya oleh para seniornya secara biadab. Korban atas nama Muhammad Fadli tampaknya sudah meninggal ketika diseret ke semak-semak. Dan itu dilakukan oleh beberapa orang, namun yang paling dominan tersangka Yud dan Ang.

Advertisement

“Karena itu dari hasil visum ditemukan darah mengental di ulu hati, di bagian usus yang kemudian keluar melalui kotoran semuanya cocok dengan hasil rekaman itu. Kekerasan yang sangat tidak manusiawi terlihat jelas,’’ tandasnya.

Sebenarnya didikan macam apa yang ingin diperlihatkan para senior ini untuk juniornya. Senioritas dalam ilmu tak masalah, tapi untuk kekerasan fisik harus segera dihentikan!

dua tersangka yang telah ditangkap

dua tersangka yang telah ditangkap via krjogja.com

Dalam kasus ini, kepolisian akan mengusut tersangka baru selain Yud dan Ang. Karena disiyalir tak cuma mereka yang melakukan kebiadaban tersebut. Korban luka-luka yang berjumlah 14 orang juga akan diperiksa untuk dimintai keterangannya. Korban luka-luka ini dirawat di Rumah Sakit JIH. Dengan keterangan para korban, polisi berharap bisa menangkap tersangka baru yang iut terlibat dalam penganiayaan tersebut.

Sebenarnya, pendidikan macam apa sih yang akan mereka berikan. Baru jadi mapala naik gunung belum lama juga berasa sok jagoan. Padahal kalau jadi pendaki gunung ataupun pecinta alam beneran, hal paling penting di gunung adalah terkait keselamatan. Bukan ketika kuat dipukul dan ditendangi lantas jadi mapala yang tangguh. Entah pendidikan macam apa, selain balas dendam turun temurun di lingkungan mapalanya.

“Kalau nanti cocok, maka tidak bisa dielakkan lagi, tersangka baru akan kita umumkan, dengan tuduhan pasal yang sama pada dua tersangka sebelumnya, yakni pasal 170 2(e) tentang penganiayaan secara bersama-sama mengakibatkan korban tewas. Atau mungkin pasal 2(c) tentang penganiayaan bersama-sama kepada seseorang,” tegasnya.

Semoga kejadian bodoh yang terjadi di lingkungan akademis seperti ini bisa segera berhenti. Mau bagaimanapun kekerasan tidak akan mengajarkan sebuah esensi pendidikan. Kekerasan hanya akan memupuk amarah, dendam hingga akan terpendam sampai mereka bisa melampiaskan kepada junior mereka selanjutnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya