Kata orang, ada beda yang jelas antara orang Jawa dan orang-orang dari suku lain di Indonesia. Orang-orang bilang, mereka bisa tahu apakah kamu orang Jawa atau orang daerah lain dari cuma dari sikap dan cara bicaramu saja.

“Orang Jawa itu istimewa. Tingkah lakunya benar-benar mencerminkan pekerti luhur khas filosofi mereka”

Sebegitu terkenalnya orang Jawa sampai tanpa tanya daerah asal saja orang-orang bisa tahu kamu beneran dari Jawa atau daerah lain di Indonesia.

Sayangnya, seiring perubahan zaman yang terjadi, anak-anak muda berdarah Jawa kini tak lagi menunjukkan kejawaannya. Wong Jowo lali Jowone kalau kata orang-orang tua. Norma dan adat Jawa yang sedari dulu jadi kebanggaan orang Jawa kini seakan tak nampak lagi di anak mudanya. Sedih…

Orang Jawa itu sikapnya ramah tanpa pandang bulu. Kalau masih marah cuma karena beda pendapat, apa kamu nggak malu?

Senyum ramah yang jadi candu bagi orang yang datang ke tanah Jawa via kampoengue.blogspot.co.id

Advertisement

Kamu boleh tanya kepada orang-orang, salah satu sikap orang Jawa yang paling diingat adalah perkara keramahannya. Masih ingat kan ketika kamu kecil dulu sapa-menyapa di masyarakat Jawa benar-benar dijaga. Bahkan kepada orang yang nggak kamu kenal pun orang Jawa akan tersenyum ramah kepadanya. Jika berkaca pada situasi anak muda saat ini yang cenderung gampang marah hanya ketika dilihatin, apa nggak malu sama laluhurmu yang dikenal ramah itu?

“Senyum ramah orang Jawa bahkan candu bagi orang-orang asing yang datang mengunjungi tanah Jawa”

Kekeluargaan jelas dijunjung tinggi oleh orang Jawa. Bukan malah jadi generasi egois yang cuma mementingkan dirinya~

Asal kumpul! via buddhazine.com

“Mangan nggak mangan, seng penting kumpul!”

Bagi orang Jawa, urusan kekeluargaan itu jelas jadi perkara yang harus dijunjung tinggi. Dalam aspek bermasyarakat, orang-orang Jawa jauh lebih mementingkan unsur kekeluargaan. Susah atau senang, mereka selalu ada untuk orang-orang terdekatnya. Berbeda jauh sama anak-anak Jawa generasi sekarang. Jangankan susah-senang bersama, yang ada malah saling sikut dengan dalih agar mampu bersaing di masyarakat.

Budaya gotong royong itu kental dalam norma orang Jawa. Sekarang? Tahu nama tetanggamu aja nggak, boro-boro saling bantu

Gotong royongnya bener-bener ada via evievaniii.blogspot.co.id

Orang Jawa dan gotong royong memang sudah menjadi sebuah kesatuan yang susah dipisahkan. Ada ikatan yang membuat orang Jawa rela saling membantu antara satu sama lain. Tujuannya satu, agar masyarakat sekitarnya juga turut merasakan hidup dengan lebih baik. Artinya, satu sama lain mereka punya ikatan yang saling mendekatkan. Anak muda generasi sekarang? Boro-boro ikatan, nama tetangganya saja banyak yang nggak kenal.

Kesopanan orang Jawa sudah terkenal sejak zaman dulu. Kamu sopan nggak tuh sama orangtuamu?

Budaya seperti ini yang udah hilang di masyarakat kita~ via wajibbaca.com

“Wong Jowo iku kudu paham perkoro adab lan sopan santun”
(Orang Jawa itu harus punya adab dan kesopanan yang baik)

– Mbak Djito, Kakek berumur 67 Tahun

Sangat susah memisahkan kesopanan dari salah satu budaya Jawa yang terkenal di masyarakat. Kalau kata orang-orang sih, yang wajib dicontoh dari orang Jawa itu ya kesopanan mereka. Terbukti dari tingkah dan cara bicara mereka kepada orang-orang sekitarnya.

Salah satu contoh nyata adalah bahasa yang digunakan untuk bicara pada orang-orang yang lebih tua. Kata demi katanya dipilih sedemikian rupa, mengesankan bahwa orang Jawa memang erat dengan yang namanya kesopanan. Tak ada sama sekali kesan kurang ajarnya. Berbeda jauh dengan generasi muda saat ini. Yang bahkan sama guru dan orangtua saja berani!

Bukan berarti nggak punya ambisi, tapi orang Jawa percaya bahwa hal baik akan tiba pada masanya. Prinsipnya, “Alon-alon asal kelakon”

Semua akan indah pada waktunya, le… via wajibbaca.com

“Ah, ngapain sih ngoyo?”

Mungkin hal tersebut sering kamu dengar keluar dari mulut temanmu yang orang Jawa. “Alon-alon asal kelakon” yang jadi prinsipnya. Meski terkesan nggak punya ambisi, tapi sejatinya orang Jawa nggak begitu, kok. Ambisi sih tetap ada. Cita-cita jelas nggak perlu lagi ditanya. Namun mereka lebih memilih untuk santai dan menghargai garis takdir. Percaya bahwa hal yang akan tiba pada masanya lebih mereka yakini daripada ngoyo dan melakukan segalanya agar cepat sukses.

Yah, tentunya hal ini berbeda jauh dengan anak muda generasi sekarang yang inginnya serba instan. Yang karena inginnya agar cepat sukses sampai tega mengorbankan segalanya.

Orang Jawa yang memang terkenal akan guyub dan solidaritasnya. Bagi mereka, harta nggak lebih penting dari kerukunan bersama

Nah, ini guyub~ via wardhanahendra.blogspot.co.id

Silahkan tanya pada kakek dan nenekmu yang orang Jawa itu. Bagi mereka, hidup sederhana itu merupakan kenikmatan yang tiada tara. Mereka jauh lebih memilih untuk hidup sederhana yang rukun dan guyub daripada memaksakan diri ikut persaingan yang malah akan berbuah pertikaian. Sangat beda jauh kan dengan anak muda sekarang yang orientasi hidupnya adalah uang. Hasilnya, hidupnya disetir oleh materi dan jadi nggak tenang karena takut tersaingi oleh tetangga. Mana ada enaknya hidup seperti itu?

“Daripada hidup seperti itu, orang Jawa lebih memegang prinsip ‘sing waras ngalah’. Konflik dan pertentangan malah bakal membuat hidup jadi nggak tenang.”

Nah, apakah kamu masih se-Jawa itu? Atau justru dengan dalih perkembangan zaman, kamu sudah melupakan norma dan budaya Jawa yang mengalir dalam darahmu. Wong Jowo seng lali Jowone, semoga kita tak menjadi sosok seperti itu di zaman yang ‘katanya’ makin maju ini.