Sedikit kesal, banyak senangnya. Akhir bulan lalu, saya diundang oleh Hong Kong Tourism Board untuk hadir di acara ICBC e-Sport and Music Festival Hong Kong. Kesal karena sedikit kecele. Saya sejatinya tak cukup berminat dengan tetek bengek soal e-sport dan game, karena itu saya berangkat dengan ekspektasi akan bisa mendapatkan banyak informasi dan temuan soal industri atau kancah musik Hong Kong. Berangkat demi musik.

Tak disangka, ternyata kata “music” di tajuk acara cuma tempelan. Sajian utamanya adalah e-sport dan segala hal soal game. Di hari pertama, bahkan sajian musiknya hanya performa dari DJ Soda, seorang DJ seksi asal Korea yang unjuk aksi dengan diselimuti sorot cahaya panggung heboh. DJ Soda ini cukup kondang di Indonesia (saya tahunya belakangan, ada tiga teman saya yang  follow Instagram-nya). Namun, artinya acara ini sesungguhnya memang acara game. Maksud saya, hampir setiap acara pasti ada selingan musiknya, nggak harus ditulis “music festival” segala kalau porsinya sekecil itu. Gemas.

Advertisement

Oke, tapi kekesalan itu terbayar dengan banyaknya pengalaman baru yang saya dapat di sini. Yah, Hong Kong bukan destinasi yang umum didatangi orang Indonesia kan, sebagaimana Singapura, Malaysia, Thailand, atau bahkan Jepang. Berikut ini nih kisah kasih berharga di balik perjalanan saya kemarin.

DJ Soda

Impresi pertama saya melihat gelaran e-Sport yang seserius ini adalah, “wah, ternyata industri game sudah sampai sejauh ini”

Kompetisi e-sport

Salah satu terobosan penting dari gelaran Asian Games tahun ini adalah mulai dimasukannya sejumlah cabang e-Sport, meski masih berupa eksibisi dan tidak digabung raihan medalnya dengan hasil cabang lainnya. Yah, semacam pemanasanlah sebelum mulai diberlakukan sebagai cabang umum pada gelaran di 2022 nanti. Tapi itupun sudah menciptakan kontroversi, banyak yang mempertanyakan. Memang perlu bahasan lebih lanjut sih. Bisa jadi e-Sport laik masuk jika olahraga didefinisikan sebagai kompetisi. Namun, jika dimaknai sebagai kegiatan fisik, berarti memang agak aneh-aneh sih keputusan memasukan e-Sport ini.

Advertisement

Terlepas dari perdebatan itu, mengunjungi ICBC e-Sport & Music Festival Hong Kong membuat saya benar-benar mendapatkan amatan dan pengalaman baru terkait perkembangan game di level dunia. Acara ini digelar sangat serius, megah, dan pasti berbujet besar. Mulai dari produksi panggung, layar raksasa, hingga kualitas tata suara dan visual yang gila-gilaan.

Festival ini menghadirkan lebih dari 26 tim e-Sport dari berbagai negara yang memperebutkan hadiah ratusan ribu dolar Amerika. Sementara ada tiga kompetisi yang dihadirkan, yakni 1) Return of the Legends 2018, 2) Zotac Cup Masters CS: Go 2018 Grand Finals, dan 3) Hong Kong PUBG World Invitational. Mudah-mudahan kamu kenal game-game tadi, saya sih tidak 🙁

Saya masih sempat agak syok budaya ketika jauh-jauh terpisah samudera sekadar untuk menonton orang-orang bermain game. Tapi semua ini memang berjalan bagai sesuatu yang begitu pantas dirayakan. Bukan hanya dari segi penyelenggaraan, melainkan juga laku pemain dan penontonnya. Misalnya, penonton di sini benar-benar berperilaku sebagai fans. Ada beberapa pemain yang selalu disambut dengan jeritan penonton ketika ia tersorot kamera. Njir, padahal dia cuma pegang keyboard dan menatap layar, tapi diperlakukan seakan rock star atau Jonatan Christie.

Aerowolf, tim e-sport asal Indonesia

Walau tidak kemudian membuat saya menyukai e-Sport, tapi cukup lega mengetahui bahwa sebuah tim e-Sport asal Indonesia, Aerowolf yang ikut bertanding di festival ini ternyata meraih hasil yang di atas ekspektasi. Tim yang dipimpin oleh Ryan “superNayr” Prakasha ini sukses duduk di peringkat lima dari 15 tim. Saya sendiri sempat ngobrol dengan mereka, dan kuartet ini sempat menuturkan kekecewaan terhadap sikap pemerintah Indonesia yang belum terlalu mengapresiasi geliat e-Sport semacam ini. Yah, sama dengan saya sendiri sih sebenarnya, haha.

Tentu saja saya tiga hari di Hong Kong tidak selamanya cuma menonton orang main game. Apalagi? Makanan!

Risotto jamur, iyek 🙁

Pertanyaan paling sering ditanyakan orang sepulang kita dari suatu destinasi adalah makanan. Dan biasanya selain rasa adalah harga. Nah, saya selalu tidak bisa menjawab. Pertama, kalau ditanya rasa, saya tidak terlalu mengeksplor makanan asli Hong Kong. Salah satu alasannya tentu karena saya melakukan lawatan ini bareng rombongan pewarta media, sebagian dari Malaysia, sehingga kami menghindari makanan dengan campuran babi. Sementara untuk harga, saya tidak tahu rata-rata harga makanan di sini karena kebetulan selalu diajak ke tempat makan yang mahal.

Kesempatan mencicipi makanan yang pertama adalah di bandara Hong Kong International Airport. Lupa dengan nama restorannya, tapi pokoknya saya makan sebuah porsi mie dengan kuah sambal kacang. Cukup gagal, karena walau aromanya sangat kuat dan menggugah selera, ternyata rasanya hambar.

Malam harinya, jauh lebih buruk. Kami dibawa ke restoran bernama Kind Kitchen yang seluruh masakannya tidak mengandung daging. Yup, rumah makan untuk vegetarian. Tidak ada yang salah dengan itu, melainkan harus diakui saya yang salah pesan menu. Saya pesan sebuah makanan semacam risotto dengan jamur, kombinasi yang serupa mimpi buruk. Sebenarnya rasanya biasa saja, tapi teksturnya menjijikan. Asli, kayak muntahan kucing. *masih jijik ketika menulis ini*

Dada bebek disiram krim kelapa, lezat!

Untungnya, hari kedua dan ketiga berkebalikan dengan bencana kuliner di hari pertama. Hari kedua kami makan siang di sebuah rumah makan khusus makanan islami bernama Islamic Centre Canteen, letaknya di lantai atas masjid. Isinya ada berbagai macam dim sum –halal pastinya–dan makanan-makanan Asia yang cita rasanya mirip-mirip Indonesia. Enak, simpel. Satu catatan, entah kenapa sepertinya orang Hong Kong sangat pandai memasak ayam.

Sementara itu, malamnya lebih gila. Kami makan di sebuah restoran hotel bernama Cafe Rivouli dengan sistem buffet yang satu orangnya harus membayar kisaran 800 ribuan. Yah, karena ini dibayari oleh pemerintah, apalagi pemerintah negara lain, ya bodo amat haha.  Hampir semua makanan mewah ada di sana, mulai dari lobster, sushi, steak, banyak ragam keju, tiramisu, bread pudding, spaghetti, es krim Movepick dan Dreyer’s, serta masih beragam lainnya. Tapi di antara makanan-makanan gokil itu, juaranya adalah menu dada bebek yang disiram krim kelapa. Lezatnya parah.

Selain game e-Sport, saya juga dikenalkan dengan toko-toko mainan action figure

Action figure dari Shino

Selain disuguhi sajian “mainan-mainan digital”, kami juga diajak menyambangi sejumlah toko action figure. Yang paling mantap adalah sebuah toko mainan bernama Sino Centre. Mereka punya secret base di lantai atas dengan pintu otomatis berdesain ala pintu pesawat Star Wars. Sungguh fancy, dan di dalamnya merupakan sebuah ruangan besar penuh action figure, mulai dari rilisan Marvel, DC, Star Wars, dan juga Michael Jackson. Yah, harganya sih tak usah ditanya. Itulah kenapa dinamakan secret.

Ini yang punya DC

Selain itu, kami juga sempat jalan-jalan ke toko mainan yang lebih merakyat. Semacam toko-toko di pusat perbelanjaan. Isinya lebih variatif, walau di mana-mana selalu ada saja segala macam desain Iron Man (paling populer), sementara Hulk rasanya selalu keren dijadikan mainan. Selain itu ada Doraemon, Dragon Ball, bahkan Captain Tsubasa. Saya sendiri membeli sebuah boneka Pac Man yang bisa mengeluarkan bunyi khasnya, dan boneka Mike Wazowski dari Monster Inc (monster bermata satu itu lho) yang bisa jalan sendiri.

Kalau kamu punya kesempatan ke Hong Kong, mudah-mudahan kamu mendapatkan pemandu bernama Carolus Choi

Pemandu resmi kami sesuai rencana adalah seorang pria bernama Carolus Choi. Sebelumnya saya sempat mencari tahu di internet tentang orang ini, dan saya menemukan sebuah artikel traveling dari seseorang yang pernah mendapat jasa pemandu darinya. Di artikel itu tertulis bahwa Carolus merupakan “seorang kelahiran Hong Kong yang fasih berbahasa Indonesia”.

Oke, ternyata….. dia bukan cuma fasih. tapi dia seakan memang orang berbahasa Indonesia!

Rupanya memang sangat Tionghoa, tapi kamu pasti terheran-heran ketika mendengar dia bicara bahasa Indonesia. Ia begitu menguasainya, bahkan luwes sampai ke imbuhan-imbuhan kasual seperti “kan”, “to?”, termasuk kadang-kadang ia bercanda pakai bahasa Jawa. Sama sekali tidak kelihatan seperti orang asing yang belajar bahasa Indonesia. Lucunya, ia justru agak awut-awutan kalau berbicara dengan bahasa Inggris. Saking saya merasa dia orang Indonesia, beberapa kali saya keceplosan memanggilnya dengan sapaan “mas”. Fuck, aneh banget orang asing saya panggil Mas.

Saya pun sempat ngobrol panjang dengannya. Dan ternyata memang ada kisah menarik di belakang kemampuannya ini. Di awal dekade 90-an, Hong Kong masih di bawah cengkeraman Inggris, namun sudah ada wacana akan diambil oleh Cina. Atas kekhawatiran bahwa Cina–yang cenderung terbelakang saat itu–tidak akan bisa menyejahterakan orang-orang Hong Kong, maka keluarga Carolus memutuskan pindah ke Indonesia. Dari sinilah Carolus bersekolah SMP hingga SMU. Kemampuan bahasa Indonesianya lahir dari enam tahunnya ini.

Setelah lulus SMU, dia kesulitan mencari pekerjaan di Indonesia. Wajar, saat itu kita masih dipimpin oleh suharto yang selalu menjadi aral birokrasi bagi para keturunan Tionghoa. Akhirnya ia balik ke Hong Kong, yang ternyata tidak buruk-buruk amat setelah dipegang Cina. Karena ijazah SMU Indonesia tidak laku di sana, maka ia cukup sulit mencari pekerjaan yang layak. Ia sempat bekerja di Sevel, sampai kemudian mendapatkan pekerjaan lain sebagai pemandu wisata khusus orang Indonesia. Bertahun-bertahun sampai sekarang, ia nyaman dinafkahi oleh profesi itu. Kisah ini meninggalkan kesan bagi saya karena ternyata ada orang Hong Kong yang bisa dibilang menggantungkan seumur hidupnya pada kebisaannya berbahasa Indonesia. Enam tahun di sini, bukan mata pelajaran apapun, melainkan bahasa Indonesia yang menyelamatkannya. Cakep!

Bagaimana dengan Hong Kong sendiri? Saya menyebutnya Jakarta versi ramah

Landmark Hong Kong, semacam pasar barang-barang antik

Hal pertama yang sudah jauh-jauh hari ingin saya lakukan sesampai di Hong Kong adalah mendengarkan album  Blur berjudul The Magic Whip (2015). Pasalnya, Damon Albarn, sang vokalis mendapatkan inspirasi untuk menggarap album itu setelah melakukan lawatan ke Hong Kong. Dan imajinasi saya terkait Hong Kong dari apa yang terdengar di album itu memang sedikit banyak mirip dengan apa yang nyatanya saya lihat di sini. Gemerlap, sibuk, dan individualis, tapi tetap Asia. Kurang lebih mirip Jakarta.

Presiden Jokowi sendiri sempat mengeluarkan pernyataan komparasi antara Jakarta dengan Hong Kong. Beberapa aspek yang menurut saya mirip adalah negara ini terhitung kecil, tapi padat dan riuh. Bedanya, warga Hong Kong menyadari lebih dini permasalahan kepadatan ini. Salah satu antisipasinya, mereka melakukan visi pembangunan yang bersifat vertikal, karena itu gedung-gedung di sana tinggi-tinggi, tapi sempit. Berjebah adanya toko, atau restoran yang ruangnya begitu minim. Karena itu ada candaan bahwa orang Hong Kong kurus-kurus, karena mereka sadar diri akan sulit hidupnya kalau banyak makan tempat.

Sebagian besar warga Hong Kong tinggal di apartemen, dan kebanyakan kumuh, walau bukan berarti orang-orang yang tinggal di sana tidak punya uang. Pola hidup masyarakatnya memang seperti itu. Ini yang membuat Hong Kong punya satu lagi similaritas dengan Jakarta: sisi kumuh dan mewahnya bisa akrab.

Akan tetapi, yang harus diapresiasi–dan jelas tidak ada di warga Jakarta–adalah bahwa orang-orang Hong Kong sangat peduli lingkungan. Seringkali saya menemukan tempat makan atau tempat publik yang tidak menyediakan plastik dan sedotan dengan sengaja. Bahkan, jika mau dibandingkan lagi dengan Jakarta, salah satu alasan mereka tidak mengambil kebijakan reklamasi untuk mengatasi ledakan penduduk adalah karena mereka sadar lingkungan.

Ketika mendengar itu, saya cuma berceletuk, “apakah bisa kita bertukar warga?”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya