Review Hotel Pandanaran: Sarapan yang Memanjakan Lidah, dan Lokasi yang Memanjakan Hasrat Mainmu

Review Hotel Pandanaran Jogja

7/10

Nggak heran kalau menu sarapan Hotel Pandanaran pernah mendapat penghargaan sebagai masakan terenak dari salah satu aplikasi pemesanan hotel di Indonesia.

Kadang bervakansi tanpa vakansi alias berdiam diri di hotel adalah hal yang menyenangkan, terlebih bagi kamu yang butuh me-time atau quality-time bersama orang tersayang. Tanpa perlu pergi jalan-jalan, beristirahat di hotel menjadi alternatif vakansi yang juga bisa menyegarkan pikiranmu dari penatnya pekerjaan atau tugas kuliah. Maka dari itu, kami putuskan untuk bermalam di Hotel Pandanaran, Yogyakarta akhir pekan lalu.

Advertisement

Alternatif vakansi alias staycation ini ternyata cukup tepat untuk dilakukan di hotel yang baru berumur empat tahun ini. Selain senyum ramah para pelayan Hotel Pandanaran, apalagi sih yang menarik dari ini?

Sekadar untuk staycation, kamar yang ditawarkan Hotel Pandanaran nggak perlu diperdebatkan. Toh, cuma butuh istirahat, kan?

Kamar standar sih. via hipwee.com

Ketika menyewa hotel, saya selalu menelisik setiap inci sudut kamar. Kalau di meja terdapat sebuah asbak, itu adalah kebahagiaan bagi kami para perokok. Beruntungnya, kamar 503 di lantai 5 yang kami tempati merupakan smoking room. Tapi sialnya, saya nggak melihat adanya ventilasi di kamar kami. Itu sama saja kami dipaksa harus merokok di luar. -__-

Untuk ukuran kamarnya, sama seperti hotel pada umumnya. Pun dengan fasilitas kamar, nggak ada yang terlalu spesial; TV, AC, shower, wastafel, dua single bed, meja dan kursi untuk kerja (ya, saya butuh itu untuk kerja di akhir pekan kemarin—staycation kok tetap kerja sih? Hmm.).

Advertisement

Yang mengasyikkan adalah duduk di tepi kolam saat matahari terbenam. Dan bersihnya kolam renang memancing orang untuk berdatangan

Kolamnya bersih banget. via hipwee.com

Seperti kata teman saya, hotel yang terletak di Jalan Prawirotaman No. 38 ini memiliki sebuah pool dan bar yang asyik masyuk untuk dinikmati sore hari. Biaya untuk menggunakan fasilitas kolam renang di hotel itu (bukan tamu hotel) adalah 60 ribu rupiah, mendapatkan handuk serta makan dan minum.

Saya enggan sesak napas karena asap rokok di kamar, maka kami memutuskan untuk mengunjungi kolam renang yang terletak di lantai 5 tersebut. Dan benar, kolam renang ini sangat bersahabat bagi saya. Kedalaman hanya 50 cm dan 120 cm itu adalah bentuk perhatian Pandanaran pada orang-orang yang baru belajar berenang atau sekadar berkecipak di pinggir kolam renang, seperti saya. Terima kasih.

Advertisement

Selain itu, duduk bertukar cerita dengan teman saya di pinggir kolam renang ini juga hal yang mengasyikkan. Menikmati senja dengan cerita sedih teman saya yang baru saja putus cinta, merupakan dua hal yang bisa saya nikmati sore itu. Tentu, karena kolam renang ini terjaga kebersihannya.

Sayangnya, kami nggak sempat berenang, karena beberapa hal; teman saya cerita terus, dan ada segerombolan anak muda yang seketika nyebur ke kolam. -_-

Karena berada di kawasan ‘Kampung Bule’, hotel Pandanaran menawarkan gemerlap 24 jam tanpa istirahat

Upaya mengenalkan budaya Indonesia pada turis mancanegara. via hipwee.com

Kalau kata orang, Jakarta adalah tempat orang-orang nggak pernah istirahat, begitu juga dengan kawasan ‘Kampung Bule’ Prawirotaman. Di sepanjang jalan ini, kamu nggak akan pernah merasa kesepian. Hotel Pandanaran saya rasa memang berada di lokasi yang cukup strategis. Mulai dari Tempo Gelato hingga Indomaret, semuanya ada.

Sarapan menjadi hal yang paling ditunggu bagi siapa pun saat menginap di hotel, terlebih kamu yang memilih untuk nggak ke mana-mana

Masakannya oke juga nih. via hipwee.com

Hotel ini menyediakan beragam menu makanan yang lebih didominasi oleh masakan khas atau tradisional. Saya rasa, Pandanaran memang berkomitmen untuk melestarikan produk kebudayaan kita daripada latah mengikuti arus globalisasi kontemporer dalam bidang kuliner. Bahkan, pada Festival Prawirotaman awal Agustus ini, Pandanaran menyelenggarakan festival tarian dan makanan tradisional. Festival tahunan ini menjadi ajang bagi Pandanaran mengenalkan kebudayaan khas Indonesia, bukan cuma pada masyarakat Indonesia, melainkan juga turis mancanegara.

Ya, nggak heran kalau menu sarapan di hotel ini pun dipenuhi oleh masakan tradisional. Kebetulan menu sarapan di Hotel Pandanaran saat weekend kemarin disesuaikan dengan permintaan dan bujet dari rombongan yang menginap di sana. Sehingga, pada saat kami ke sana, hanya tersedia beberapa pilihan menu masakan ala rumahan. Tetapi tenang saja, kami tetap bisa memesan menu unggulan dari Hotel Pandanaran kok. Saat itu kami dipesankan mi goreng dan minuman red ocean (susu, sirup stroberi, dan pisang), walaupun terdengar sederhana, tapi jujur kalau makanan dan minuman tersebut enak dan sesuai dengan lidah kami. Jadi, menurut kami sarapan di Hotel Pandanaran cukup memuaskan.

Hal menarik lainnya adalah kerap kali ada acara yang mereka selenggarakan di halaman depan dan venue di rooftop, termasuk pernikahan

Tempatnya asyik! via hipwee.com

Nggak cuma saat tergelarnya Festival Prawirotaman, konon Hotel Pandanaran sering mengadakan acara di halaman depan. Tentu hal ini menambah riuh suasana hotel di sepanjang jalan Prawirotaman. Sayangnya, malam itu sedang nggak ada acara apa pun, hanya lalulalang yang nggak kunjung usai.

Tapi satu yang menjadi perhatian, saat ini saya tengah memikirkan bagaimana membuat acara pernikahan di rooftop hotel ini seperti orang-orang. Katanya sih, harga sewanya bersahabat. Karena nggak cuma sekali di rooftop Hotel Pandanaran diadakan prosesi pernikahan. 😀

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

ecrasez l'infame

CLOSE