Sejarah Wingko Babat, si Kue Kelapa dengan Rasa Khas Gurih-Manis yang Jadi ‘Rebutan’ Dua Kota

Sejarah Wingko Babat

Jika bertanya tentang kuliner Semarang, mungkin hal pertama yang akan muncul di pikiran SoHip adalah lumpia. Semarang dan lumpia memang sudah menjadi sebuah kesatuan yang sulit dipisahkan. Tetapi sebenarnya Semarang masih punya sebuah makanan khas, yaitu wingko. Kue kelapa yang legit, manis dan memiliki rasa khas ini bisa dikatakan sebagai oleh-oleh lain khas semarang yang harus kamu coba.

Tetapi jika kamu bertanya kepada masyarakat Lamongan, Jawa Timur, mereka akan menjawab bahwa wingko adalah makanan/kue khas yang berasal dari Babat, sebuah kecamatan di Lamongan. Nggak berhenti samapai di situ aja, ternyata kedua daerah ini sama-sama menyatakan bahwa wingko adalah makanan khas dari daerah mereka, tentunya hal ini bikin bingung, jadi dari manakah wingko berasal? Kok bisa ya sampai ada dua daerah yang mengklaimnya? Cus deh baca Sejarah Wingko Babat di bawah.

ADVERTISEMENTS

Secara sejarah, wingko berasal dan pertama kali muncul di Lamongan sekitar tahun 1900-an

Sejarah Wingko Babat, si Kue Kelapa dengan Rasa Khas Gurih-Manis yang Jadi 'Rebutan' Dua Kota

Meskipun terkenal di semarang sejarah wingko bermula di Lamongan | Credit: Danangtrihartanto via commons.wikimedia.org

Jika kita berbicara tentang asal muasal kue yang terbuat dari kelapa muda, tepung beras ketan dan gula ini, maka menurut beberapa catatan resmi  wingko adalah makanan khas Lamongan. Masyarakat di Lamongan udah mengenal dan membuat kudapan ini sejak tahun 1900-an.

Tersebutlah seorang keturunan Tiongkok bernama Loe Soe Siang, beliau tercatat sebagai orang pertama yang memproduksi wingko ini sebagai sebuah komoditas. Tetapi karena keadaan yang nggak memungkinkan akibat kekalahan Jepang, salah saeorang keturunan Loe Soe Siang memutuskan untuk pindah ke Semarang karena kotanya lebih kondusif pada saat itu.

ADVERTISEMENTS

Dibawa ke Semarang, wingko menjadi kue ringan yang populer dan digemari oleh banyak orang

Sejarah Wingko Babat, si Kue Kelapa dengan Rasa Khas Gurih-Manis yang Jadi 'Rebutan' Dua Kota

WIngko menjadi makanan yang populer setelah dibawa ke Semarang | Credit: lulun & kame via www.flickr.com

Pada tahun 1944, salah satu keturunan Loe Soe Siang yang bernama Loe Lan Hwa pindah ke Semarang, dalam kepindahannya beliaujuga mengajak serta suami dan dua anaknya untuk pindah ke Semarang untuk mengunmgsi karena keadaan yang sedang berbahaya. Wingko sendiri baru muncul beberapa tahun kemudian di Semarang, tepatnya tahun 1946.

Dibantu oleh suaminya, Loe Lan Hwa mulai menjajakan wingko di kota Semarang. Mereka menjual kue ini dengan cara berkeliling dari rumah ke rumah, selain itu mereka juga menitipkan wingko pada kios-kios di sekiratan stasiun kereta api dan terminal bus. Hal itu yang membuat wingko ini terkenal sebagai salah satu makanan yang ditawarkan kepada penumpang sebagai oleh-oleh atau makanan khas Semarang.

ADVERTISEMENTS

Wingko menjadi panganan populer, nama Babat ditambahkan untuk mengingatkan bahwa makanan ini berasal dari daerah asal Nyonya Loe Lan Hwa

Sejarah Wingko Babat, si Kue Kelapa dengan Rasa Khas Gurih-Manis yang Jadi 'Rebutan' Dua Kota

Nama “babat” ditambahkan sebagai pengingat asal makanan ini oleh pembuatnya | Credit: Andrés Liévano via pixabay.com

Tak disangka-sangka, ternyata kue legit ini laku dan disukai oleh orang-orang Semarang, hingga akhirnya kue ini dikenal dan dikaitkan sebagai salah satu kue dan oleh-oleh khas Semarang. Masyarakat Semarang yang kala itu penasarann dengan kue baru ini, akhirnya menanyakan kepada Nyonya Lie Lan Hwa, apa nama kue unik ini.

Untuk mengenang tempatnya dibesarkan sekaligus kampung halamannya, akhirnya Nyonya Loe Lan Hwa memberi nama “Wingko Babat,” Babat dalam nama makanan ini merujuk kepada daerah Babat di Lamongan. Jadi dari cerita ini dan asal usulnya kita dapat menyimpulkan bahwa kue yang enak dimakan bersama teh hangat ini adalah kuliner asli Lamongan, Jawa TImur.

ADVERTISEMENTS

Meskipun terkenal di Semarang, keturunan Loe Soe Siang masih memiliki toko yang menjual wingko di Lamongan

Sejarah Wingko Babat, si Kue Kelapa dengan Rasa Khas Gurih-Manis yang Jadi 'Rebutan' Dua Kota

Wingko sekarang nggak melulu berbentuk bundar | Credit: lulun & kame via www.flickr.com

Meskipun menjadi makanan yang terkenal di tempat yang jauh dari asalnya, ternyata wingko tradisional dengan resep milik Lie Soe Siang masih bertahan hingga kini. Anak laki-laki Pak Loe Soe Siang yang bernama Loe Lan Ing, membuka sebuah toko wingko yang bernama “Pabrik Loe Lan Ing”. Toko yang kini dipegang oleh generasi keempat Loe Lan Ing ini masih menjual dan mempertahankan rasa wingko yang dijualnya tetap sama seperti dulu, gurih dan manis.

Kini Pabrik Lie Lan Ing nggak Cuma membuat wingko babat original aja. Seiring dengan berkembangnya zaman dan trend ternyata juga berpengaruh kepada rasa dan kreasi wingko. Jika dahulu hanya ada rasa kelapa yang manis dan gurih, kini SoHip bisa merasakan wingko dengan aneka rasa tambahan, mulai dari durian, keju, pisang, coklat, hingga moka.

Nah jika kita mengambil kesimpulan dari cerita di atas, maka bisa disimpulkan bahwa wingko berasal dari Babat, Lamongan, tetapi karena wingko dijual pada tempat-tempat orang melakukan perjalanan di Semarang, maka makanan ini diserap oleh masyarakat dan diberitakan oleh orang yang singgah di Semarang sebagai makanan khas dari Semarang.

Selain itu wingko sendiri di Lamongan pamornya sedikit kalah jika kita bandingkan dengan soto atau pecel lele dan pecel ayam yang memang sangat menjamur di berbagai daerah dan menjadi perwakilan Lamongan.

Nah SoHip sekarang udah tahu kan asal-usul wingko, makanan khas Babat, Lamongan yang legit ini. Jika kamu ingin menikmati kue ini secara syahdu, cobalah untuk memakannya sambil menyesap teh kental hangat dengan gula yang nggak begitu banyak, dijamin, enakya poooool!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

What is bravery, without a dash of recklessness?

Editor

Penikmat jatuh cinta, penyuka anime dan fans Liverpool asal Jombang yang terkadang menulis karena hobi.