“Menyeduh kopi adalah sebuah kemewahan. Menunggu ampasnya yang mengendap perlahan, uap panas yang sengaja kutiup pelan-pelan, dan sejenak biarkan diriku larut dalam cawan kenangan.

Mengingat jalanan yang lengang menjelang tengah malam, selembar tikar di wedangan langganan, dan gelak tawa hangat bersama teman-teman seperjuangan di kota kelahiran.

Untuk kota yang selalu kubanggakan, yang bisa dengan hebat memenuhi ruang pikiran dan layak kucerapi lewat sebuah tulisan.”

Halo, kota Soloku. Apa kabarmu? Aneh rasanya bertanya kabar ketika hampir setiap akhir minggu aku masih bisa menjamahmu

halo, Solo! via fidhzariyan.blogspot.com

Beberapa bulan belakangan, aku cukup sibuk mengakrabi pekerjaan. Menghabiskan waktu seharian, memelototi layar laptop demi satu atau dua tulisan. Lima hari dalam seminggu, kubenamkan diriku pada rutinitas khas orang dewasa. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang kelelahan, pergi tidur, lalu bangun di hari berbeda dan lagi-lagi dengan rutinitas yang hampir sama.

Selain perkara pekerjaan, ada alasan lain mengapa aku begitu membenci Senin. Ya, saat aku harus bangun di pagi buta agar tak kehabisan tiket kereta. Ketika satu jam perjalanan menuju Jogja akan kutuntaskan dengan melongok ke jendela. Membayangkan seandainya aku tak harus kemana-mana. Tak perlu meninggalkan rumah dan kotaku tercinta.

Ah, mungkin aku sekadar berlebihan. Toh waktu terus berjalan dan pasti mengantarku pada akhir pekan. Saat antrian panjang di depan loket bukan lagi persoalan. Ketika berjejal dalam gerbong yang padat penumpang bukanlah halangan – karena aku hanya ingin pulang. Begitu kereta sampai di stasiun Purwosari, aku akan canggung berkata dalam hati,

Advertisement

“Halo, kota Soloku. Apa kabarmu yang kutinggalkan selama seminggu?”

Jalan-jalan di sepanjang city walk Slamet Riyadi atau pergi ke Pasar Kliwon makan nasi kebuli, aku tahu pasti — Solo memang terlalu nyaman untuk ditinggali

kota paling nyaman yang aku tinggali via m.kompasiana.com

“Nyaman”. Kata yang paling tepat jika aku harus mendeskripsikan lewat satu kata. Aku cukup tahu alasannya, karena Solo tempatku lahir hingga dewasa. Bagiku, Balapan jelas bukan stasiun biasa. Bukan pula sekadar lagu latar yang diputar ketika televisi menayangkan liputan jalan-jalan. Balapan itu magis karena sepulang dari perjalanan panjang, lelahku selalu bisa sekejap hilang setelah langkah pertama keluar dari gerbong kereta.

Aku paling suka sepanjang city walk Slamet Riyadi. Tempatku biasa berburu makan siang, atau sekadar duduk-duduk di bangku taman tanpa tujuan. Jalanan lengang ini akan berubah riuh saat Minggu pagi, ketika sepersekian warga kota tumpah ruah menikmati car free day. Jika bosan, aku akan bergegas mengayuh sepedaku menuju Manahan. Tak kalah ramainya karena area stadion ini akan sejenak berubah rupa jadi pasar dadakan.

Perkara makan tak sekalipun membuatku kerepotan. Cacing dalam perutku selalu dapat apa yang mereka inginkan. Penyemangat pagi adalah semangkuk soto yang biasa kusantap di dekat Alun-Alun Selatan. Menjelang tengah hari, rasa laparku tuntas dengan sepiring nasi kebuli di kampung Arab sekitaran Pasar Kliwon. Sebelum sore, kusempatkan pula berdesakan di warung Selat Segar yang terlihat tak pernah sepi; kuamati penjualnya memang keturunan Tionghoa asli.

“Solo – Udaramu begitu akrab dengan lubang hidung dan paru-paruku. Wajah-wajah ramah yang ikhlas berbagi senyum, ketika mata tak sengaja beradu. Lalu lalang orang dengan suara dan logat bicara yang tak asing di telingaku. Kamu dan segala denyut kehidupan itu, yang selalu memenuhi ruang pikiranku.”

Setiap sudut kota menyimpan kenangan yang berharga. Romantisme bersama kawan-kawan lama dan tentang cinta pertama yang sampai hari ini tak bisa kulupa

wedangan = tentang kawan dan cinta pertama via www.lpmvisi.com

“Sekitar seperempat abad, waktu yang cukup lama untuk kita menumpuk kenangan bersama. Sejak duduk di bangku sekolah hingga kurang lebih dua tahun lalu mengakhiri masa kuliah, entah berapa banyak kisah yang aku punya, di kota tempatku belajar tentang arti persahabatan dan cinta.”

Bagiku yang ketika itu masih kanak-kanak, bahagia hanya sesederhana belanja di Luwes. Mondar-mandir menarik keranjang belanja sambil berharap ibu akan mengijinkanku ke arena permainan setelahnya. Aku pun demikian semangat menyambut terima rapot, karena jika dapat ranking di kelas aku akan diganjar tiket gratis bermain di THR Sriwedari sepuas hati. Mobil senggol, bianglala, komedi putar, main lempar gelang; mainan-mainan yang ketika itu kuanggap luar biasa lantaran aku belum mengenal Dufan di Jakarta.

Ingatan tentang masa remaja pun masih hangat di kepala. Aku yang dulu pernah sengaja melanggar lampu lalu lintas demi merasakan sensasi dikejar Polisi. Bosan di tengah jam pelajaran, aku nekad kabur dari sekolah untuk sekadar mengantar teman yang “ngidam” babi kuah di Jagalan. Saat sudah jadi mahasiswa, hari-hariku terasa lebih “normal”; makan bakso bakar di Ngarsopuro, nongkrong di sekitaran Balaikota dan Bank Indonesia, atau jajan siomay di boulevard kampus UNS.

Tapi satu yang paling aku rindukan, Solo tak akan seberapa indah dikenang tanpa wedangan. Ya, hampir setiap Sabtu malam, nongkrong di wedangan jadi agenda wajib yang tak terlewatkan. Aku dan kawan-kawan SMA atau sesekali dengan teman-teman kuliah, menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar berbagi cerita tentang apa saja. Kami baru akan bubar setelah lewat tengah malam, ketika bapak penjual wedangan mulai merapikan dagangan hendak pulang.

“Ingat wedangan berarti ingat kamu, cinta pertamaku. Dulu, dua gelas kopi instan dan sepiring kecil gorengan adalah saksi bisu. Bahwa setelah lima jam duduk berdua dan bicara, dalam hati sebenarnya aku mengaku – jatuh cinta.”

Tahun demi tahun berlalu, Solo-ku bukannya gadis lugu yang dulu. Perubahan terjadi di sana-sini dan kotaku seperti terlalu sibuk memacak diri

kota yang sibuk memacak diri via www.panoramio.com

Ibarat seorang gadis, mungkin beberapa tahun belakangan kau sedang cantik-cantiknya. Jika gadis belia akan belajar memoleskan gincu dan pewarna pipi, kau pun sibuk melakukan berbagai perbaikan di sana-sini demi Solo yang lebih “cantik” lagi.

Transportasi umum yang layak terwakili dengan munculnya Solo Batik Trans. Sepur Kluthuk Jaladara atau Bus Werkudara juga jadi “senjata” demi menarik wisatawan berdatangan. Kalender festival dan gelaran budaya pun dibuat padat acara, sehingga selama setahun kotaku tak akan sepi dari hingar bingar perayaan. Dan bukan melulu tentang budaya Jawa, toh ragam budaya urban juga bisa diterima.

Jangan kira Solo itu terlalu tenang dan membosankan, ada kalanya kota ini berubah jadi mosphit paling garang. Saat event Rock in Solo, penyuka musik-musik keras dari berbagai kota akan datang bertandang. Konser penyanyi atau band-band asal ibu kota pun bukannya minim digelar. Kota dengan semboyan berseri ini tahu betul caranya bersenang-senang.

Salah satu perubahan yang paling mencolok jelas bisa ditangkap dengan mata. Solo kini punya mall dan pusat perbelanjaan yang megah, hotel dan apartemen yang gedungnya tinggi menjulang, hingga tempat-tempat hiburan yang muncul bak jamur di musim hujan. Dan jangan heran jika saat libur panjang atau akhir pekan, aku mulai terbiasa mendengar logat-logat asing khas para pendatang.

“Bagiku, kau dulu sudah cukup cantik, sekarang pun jauh lebih cantik lagi. Tapi tidakkah kau terlalu sibuk dengan perkara memacak diri? Begitu lekat dengan kata ‘promosi’ membuatmu tampak terlalu asyik ‘jual diri’?”

Sesekali aku akan merenungi perihal perubahanmu. Aku rindu jalanan lengang dan tak bisa kubayangkan jika langit di atas kotaku tak lagi sebiru yang dulu

rindu jalanan lengang via maarif1122.weebly.com

Pikirku, kota seperti Solo tak akan pernah macet kecuali saat ada festival yang menutup beberapa jalan utama. Tapi ternyata aku salah, jalan-jalan besar justru dipadati motor dan mobil pribadi. Suara bising klakson justru saut-menyahut sepanjang pagi hingga malam hari. Hidungku yang memang sensitif dengan asap akan mulai gatal ketika bau solar dan bensin di udara yang kuhirup kian kentara.

Oh iya, kata “asap” mengingatkanku pada kebakaran di Sabtu malam itu. Api besar menjalar teriring selenting kabar miring dibalik peristiwa yang mengacaukan hidup para pedagang di Pasar Klewer. Berdiri di antara kerumunan orang yang menonton, aku dengar seorang pedagang menangis histeris. Dari teriakan lantangnya, aku menangkap ada rasa sedih bercampur kesal. Entah atas dasar apa, ia percaya bahwa kebakaran yang terjadi lantaran para pedagang di sana menolak renovasi. Dahiku sedikit mengerut, mencoba mencerap nalar; apa negosiasi yang gagal pantas dibayar dengan aksi barbar?

“Aku rindu jalanan lengang, yang tanpa perlu berlama-lama menunggu merah berubah jadi hijau. Aku kangen minum es dawet di selasar pasar yang padat pedagang, pembeli, dan lalu lalang para kuli. Aku mau kotaku berbenah diri tanpa membuat warganya kesal atau sakit hati.”

Ah sudahlah. Jika pertambahan usia bisa mengubah karakter dan sifat seseorang, berbagai perubahan di kota ini pun bisa jadi terdengar sangat wajar. Iya, anggap saja hal yang biasa dan tak perlu dirisaukan. Tak ada salahnya jika Solo tengah sibuk membangun hotel dan apartemen. Tak apa-apa jika jumlah mall dan pusat-pusat perbelanjaan masih akan terus ditambah. Dan biarkan saja jika kota ini hendak terus mengadaptasi budaya urban demi jadi kota modern nan memuaskan hasrat para pendatang.

Harapanku, semoga wedangan langgananku tetap bertahan diantara munculnya cafe-cafe baru. Semoga tempat-tempat hiburan macam karaoke atau bioskop tak membuatku lupa pada pertunjukan sendratari atau wayang orang di Balekambang

Taman Balekambang via lokasi.nyarinyari.com

Solo memang kian maju dan modern. Kini, tak usah iri dengan kota tetangga yang punya tempat-tempat nongkrong fancy. Tak perlu jauh-jauh jika hanya ingin mencicipi segelas kopi mahal berlogo putri duyung atau makan donat bergambar burung merak. Tak perlu takut kurang update dengan film-film terbaru ketika bioskop dari yang paling murah hingga yang paling mewah sudah tersedia.

Hanya saja, denyut kehidupan khas Kota Solo yang sebenarnya harus tetap terjaga. Kadang, aku hanya bisa diam dan meremang. Membayangkan apa yang kira-kira terjadi di tahun-tahun mendatang. Apakah budaya nongkrong di wedangan akan tetap bertahan? Ketika kebiasaan minum susu jadi gaya hidup yang mahal, apakah Shi Jack dan warung susu segar lainnya tetap ada? Dan semoga kebiasaan berburu “goceng” atau makan crepes dan wafel, tak membuatku lupa pada cabuk rambak atau jenang.

Diantara gedung-gedung mewah yang menghiasi kota, semoga ada pihak-pihak yang tak lupa pada kebun binatang satu-satunya. Semoga segera ada perbaikan agar tak lagi tersiar kabar tentang satwa mati mengenaskan. Mungkinkah tempat hiburan macam Gedung Wayang Orang Sriwedari juga bisa dibenahi, atau bangunan-bangunan kuno lain yang butuh restorasi?

“Aku, kami, kita – sepertinya sepakat bahwa Solo tak lagi butuh mall atau hotel. Kami lebih suka taman  atau ruang terbuka macam Balekambang. Tempat kami duduk menikmati pemandangan, memancing, nonton sendratari atau memberi ikan dan rusa. Kami butuh lebih banyak pohon dan udara segar agar bisa hidup lebih lama.”

Teruntuk kotaku yang kini semakin menua, semoga kau pun tumbuh semakin bijaksana. Kelak akan kubagikan cerita pada anak-anakku, tentang kota yang selalu ada dalam hati dan pikiranku

tetap jadi kotaku tercinta via terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Mungkin, terlalu banyak harapan yang kurapal tentang kotaku tercinta. Entah akan jadi kenyataan atau justru sebaliknya, aku tetap bahagia bisa jadi bagian dari kehidupan di sana. Aku bersyukur bisa menjamah kotaku hampir setiap akhir minggu. Ketika dulu aku pernah tinggal di kota lain selama setahun, dua kata yang berputar-putar di kepalaku adalah “rindu” dan “pulang”.

Sama seperti usiaku yang terus bertambah, Solo-ku pun kian menua. Entah di masa depan akan bertumbuh jadi kota macam apa, aku pasti punya cinta yang sama. Ya, cinta yang sama dalamnya seperti yang saat ini aku punya. Kelak saat anak-anakku sudah lahir ke dunia, akan kubagikan cerita tentang kotaku pada mereka. Dan semoga seiring pertumbuhan mereka, Solo masih dengan rupa dan nuansa yang tak jauh berbeda.

Oh iya. Aku lupa. Selamat ulang tahun kotaku tercinta. Tepat 17 Februari lalu, hari jadimu yang ke-270.

Dari aku, 

Yang tak bisa jauh-jauh darimu