Sebelum menikah, terus terang saya nggak ada bayangan apa-apa soal menjadi seorang ibu. Saya tahunya kalau jadi ibu itu menyenangkan karena bisa menimang bayi sendiri sekaligus super sakit karena yah siapa yang bilang proses persalinan itu enak? Saya cuma tahu soal susah senangnya menjadi Ibu dari cerita orangtua, kakak, dan curhatan teman-teman. Saya juga berpikir bahwa menikah itu adalah momen yang super duper membahagiakan, semacam jalan keluar dari kesendirian saya yang sudah bosan menjalani LDR. Ibarat drama, menikah itu episode final menuju happy ending. Ya, nggak se-lebay itu juga sih, hehe. Tapi jujur ekspektasi saya soal berumahtangga sebelum menikah itu sedikit berbeda dengan setelah saya benar-benar mengalaminya sendiri.

Setelah menikah, saya mulai belajar bahwasanya ternyata berumahtangga itu tidak semudah kita mengomentari cara orang lain berumah tangga di dunia nyata atau media sosial. Apalagi setelah punya anak, tantangannya jauh lebih sulit. Soal punya anak, saya punya cerita sendiri dan semoga tulisan ini bisa memberi gambaran bagimu yang akan menikah atau ada rencana menikah suatu saat nanti.

Advertisement

Saat saya pertama kali punya anak, saya sedang melamar pekerjaan di beberapa tempat. Bisa dibilang kehamilan saya tahun lalu agak sedikit di luar dugaan, tapi namanya rejeki tentu saya dan suami menerima kehamilan kami dengan penuh sukacita. Sebagai ibu-ibu baru dengan pengalaman nol, tentu saya sangat bersemangat sekali mengumpulkan informasi tentang kehamilan. Dari hal remeh temeh macam cara aplikasi apa saja yang bisa saya unduh selama hamil sampai hal-hal krusial seperti makanan dan obat apa saja yang dapat mempengaruhi calon bayi saya.

Pokoknya sebisa mungkin informasi yang saya dapat itu sekomplet mungkin. Saya orang yang sangat takut soal melahirkan, terus terang aja, haha. Itulah hal yang mendorong saya rajin menonton video-video di Youtube tentang cara melahirkan tanpa sakit (ya, saya segitu takutnya dengan melahirkan) bahkan sampai sempat ikut yoga hamil segala. Rasanya saya waktu itu berfokus pada hal-hal yang sebenarnya kurang begitu penting dibanding hal penting yang akan saya hadapi setelah saya benar-benar menjadi ibu; belajar mencintai diri sendiri dan anak saya.

Tahukah kamu, setelah melahirkan, hal yang terpenting sebenarnya bukan seberapa banyak baju bayi yang kamu persiapkan atau seberapa banyak ASI yang kamu hasilkan karena itu cuma akan menambah stres. Yang terpenting setelah melahirkan adalah menerima diri apa adanya dan beristirahat yang cukup, biar bisa tetap waras!  Sayangnya saya telat banget sadar soal ini.

Baby blues biasanya dipicu karena kurang istirahat. Bahaya nih, buibu! via www.seattletimes.com

Advertisement

Seandainya bisa memutar waktu, saya ingin menjadi Ibu yang lebih santai dan nggak terlalu perfeksionis. Kenapa? Karena tanpa disangka-sangka, saya sempat stres berat usai melahirkan karena saya nggak tahu apa-apa soal menjadi ibu. Saya pikir saya sudah banyak tahu. Saya banyak berfokus tentang persalinan dan lupa mempersiapkan mental saya sendiri. Yap, saya sempat mengalami baby blues lumayan parah dan itu berlangsung selama beberapa bulan. Sering marah-marah nggak jelas, suka ngomel, mudah tersinggung dan suka nyalahin suami saya sendiri atas apa aja yang kurang beres. Untung suami saya super sabar, haha. Saat itu saya syok karena kenyataan berumahtangga dan punya anak itu jauh sekali dari imajinasi ideal saya.

Kenapa saya bisa sampai kena baby blues? Ya, bayangkan dulu bodohnya saya ngotot mau kasih ASI eksklusif anak saya padahal saya sudah super duper kelelahan dan anak saya kuning karena dehidrasi. Saya juga ngotot mau ngurus anak sendiri dan menolak dibantu keluarga karena ego sebagai ibu baru, padahal saya ngantuk nggak ketulungan. Saya nggak menikmati momen-momen pertama menjadi ibu karena saya lelah dan mudah emosi. Seandainya bisa ngomong ke diri sendiri, saya akan stop bersikap perfeksionis dan tahu segalanya. Harusnya saya tidur dan makan lebih banyak, serta berhenti bersikap menjadi ibu yang bertanggungjawab atas segalanya.

Tahu nggak, kadang mencintai diri lebih dulu akan membantu kamu mencintai anak dan keluarga lebih baik. Lucunya, kadang itu nggak mudah, lho. Saat berkeluarga, ibu yang waras lebih penting daripada ibu yang sempurna karena yah, nggak ada orang yang sempurna, ‘kan? Kadang saya tidak selalu benar dan saya butuh orang lain agar saya bisa berfungsi dengan baik. Saya kadang juga harus mengalah dan harus tahu kapan harus menekan ego sendiri demi kebaikan saya dan keluarga. Jika suatu saat dipercaya untuk punya anak kedua, saya akan jadi pribadi yang lebih terbuka, nggak ngeyel dan nggak memaksakan diri.

Untuk kamu yang akan menikah atau suatu saat nanti akan menikah, belajarlah untuk mengalah karena terkadang mengalah sesekali lebih baik daripada menang tapi rumah tanggamu nggak bahagia. Saat kamu punya anak, belajarlah bahwa beristirahat yang cukup, memberikan susu formula saat dokter menyarankan demikian dalam suatu keadaan khusus, atau menitipkan anak pada keluarga saat kita kelelahan itu nggak dosa, kok. Sekarang saya pun belajar membesarkan anak dengan lebih santai, tanpa menekan diri sendiri berlebihan.

Setiap hari saya belajar lebih banyak lagi hal baru setelah menikah. Dalam pernikahan, mengutip quotes dari Kak Maya Septha, menjadi baik itu lebih baik daripada menjadi benar. Dan dalam menjadi orangtua, terkadang menjadi waras itu lebih penting daripada jadi sempurna.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya