Viral Selebgram Dikritik karena Nikah di Usia 16 Tahun, ini 5 Plus Minusnya Nikah di Usia Belia

plus minus menikah muda

Pasangan muda mudi selebgram Muhammad Adhiguna Sosiawan dan Sabrina Salsabila belakangan ini ramai menjadi perbincangan warganet karena cerita pernikahan dini yang mereka bocorkan ke media sosial. Pasalnya, banyak warganet menganggap unggahan di Youtube ini sebagai promosi untuk menikah muda. Pasangan ini menikah saat Sabrina masih berusia 16 tahun dan Adhiguna berusia 25 tahun. Sabrina juga mengaku bahwa Adhiguna merupakan kekasih pertamanya dan langsung mantap menikah setelah 36 hari saling mengenal.

Advertisement

Pernikahan mereka berlangsung pada bulan Agustus 2019 lalu di mana sebulan kemudian usia minimal pengantin perempuan dinaikkan standarnya menjadi minimal 19 tahun. Aturannya memang sempat minimal usia pengantin perempuan 16 tahun tapi ada berbagai faktor yang membuat pasangan ini menuai pro dan kontra dalam kirimannya. Lalu, sebenarnya apa saja sih plus minus dari nikah muda? Kita simak yuk selengkapnya!

1. Kondisi mental anak yang masih remaja sering dikatakan labil, hal ini pula yang kurang bagus jika pernikahan muda tergesa-gesa dilakukan

Masih SMA/ Credit: Sabrina Salsabila via www.instagram.com

Dilansir dari laman resmi IDAI, remaja dikatakan sebagai seseorang yang memiliki suasana hati yang berubah-ubah bahkan perubahan ini sering terjadi secara drastis. Mereka juga akan rentan terhadap pendapat yang dipaparkan oleh orang lain yang akan sangat memengaruhi dirinya. Untuk mengalami perkembangan psikososial yang matang maka dibutuhkan faktor-faktor penyeimbang yang mendukung sedangkan jika di usia tersebut anak sudah menikah maka masalah yang timbul bisa jadi justru lebih banyak dan karena perkembangan psikologisnya belum sempurna, kemungkinan ia akan menghadapi masalah baru lagi.

2. Selain kesiapan mental, kesiapan fisik juga diperlukan saat seseorang akan menikah apalagi jika merencanakan kehamilan setelahnya

Masih remaja/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Dilansir dari sebuah jurnal tentang pernikahan usia muda dari Unicef, ternyata anak-anak yang menikah di usia muda akan lebih rentan terkena IMS karena kaitannya dengan keadaan hormonal dan kondisi fisik lainnya. Jika dalam waktu dekat setelah menikah lalu mereka memutuskan untuk memiliki anak maka risiko kesehatan jjuga semakin tinggi. Dilansir dari Parents, saat seseorang hamil di usia kurang dari 20 tahun maka ia akan memiliki risiko preeklampsia yang juga tinggi.

Advertisement

3. Namun jika akhirnya memutuskan untuk memiliki anak di usia ini, nantinya usia dengan anak juga tak terpaut jauh

Berasa teman/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Usia yang tak terpaut jauh membuat orang tua lebih memahami kondisi sang anak dan lebih mudah untuk mengikuti perkembangan serta tren apa yang sedang terjadi di masa itu. Sehingga selisih tentang cara menghadapi sesuatu mungkin lebih kecil kemunkinannya untuk terjadi. Orang tua juga bisa memosisikan diri sebagai sahabat dari anak.

4. Sayangnya waktu yang bisa digunakan untuk mengembangkan diri menjadi lebih terbatas karena adanya tanggung jawab baru

Sekolah jadi terhambat/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Mungkin banyak yang akan menyangkal bahwa pernikahan tidak akan membatasi perkembangan diri seseorang. Padahal mau tak mau walaupun mungkin saling memahami dan mendukung tapi tanggung awab saat sudah menikah akan bertambah daripada sebelumnya yang pada akhirnya membuat eksplorasi menjadi lebih terbatas.

5. Dengan berbagai akumulasi permasalahan yang ada ternyata pernikahan dini banyak yang berujung dengan perceraian

Advertisement

Berujung cerai/ Credit: Freepik via www.freepik.com

Dilansir dari laman BKKBN, kasus perceraian di Indonesia tertinggi terjadi di usia 20 sampai 24 tahun di mana usia pernikahannya tak lebih dari 5 tahun. 70% dari kasus tersebut diajukan oleh perempuan. Hal ini ternyata disebabkan karena kebanyakan belum siap untuk berumah tangga karena kebanyakan mereka yang menikah di usia remaja masih mengalami masalah dengan orang tua atau bahkan teman-temannya.

Menikah memang hak masing-masing orang tapi sebaiknya hal ini dilakukan saat seseorang sudah siap secara mental, fisik, hingga finansial agar bisa menghindari masalah yang seharusnya tidak terjadi dan hanya akan berakhir ke perceraian. Batas minimal yang sudah diatur oleh pemerintah tentunya juga sudah melewati berbagai kajian sehingga akan lebih aman jika diterapkan. Kalau menurut kalian sendiri gimana, Guys?

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE