Tidak sedikit orang-orang yang meyakini kalau mertua itu sosok yang ‘sulit’ dan ‘galak’. Mereka sering dikaitkan dengan imej orangtua yang cerewet dan suka menuntut. Memang nggak semua menganggap begitu sih, tapi jujur aja deh pasti kita sering banget ya denger curhatan kanan kiri tentang mertua yang suka bikin geregetan. Sampai-sampai muncul istilah Pondok Indah Mertua untuk nyinyirin rumah mertua yang masih ditumpangi menantu.

Streotip bahwa mertua itu galak dan nyebelin sudah terlalu banyak diyakini pada calon menantu. via www.lucu.me

Guys, padahal nih ya kalian sadar nggak sih kalau mertua itu juga sama kayak orangtua kita, yang karakternya juga beragam macam, nggak bisa disamaratakan. Cuma karena imej mertua sudah duluan nyebelin, seringkali para menantu berpikir untuk menjaga jarak dan mudah baper kalau ditegur sedikit. Bisa jadi mertua kamu nggak seburuk yang kamu bayangkan, tapi karena sugestinya jelek ya kamu jadi ngerasa sulit untuk mengakrabkan diri. Kalau ada hal yang bikin kita nggak cocok atau beliau kurang ramah sama kita, mungkin ada beberapa hal berikut ini yang luput dari perhatian kamu. Yuk cek hal-hal apa yang kira menjadi pengganjal hubunganmu dengan mertua berikut ini!

1. Kamu masih suka berpikir mertuamu belum ikhlas melepaskan anaknya untukmu sehingga kamu jadi mudah kesal saat mertua komentar ini itu tentang cara kita melayani pasangan

Sosok Ibu mertua biasanya dianggap sosok yang cerewet dan tukang ngatur. via www.thestar.com

Advertisement

Berapa kali kamu ngerasa bahwa sang mertua menganggap kita nggak pantas untuk bersanding dengan anak mereka? Contohnya nih, saat mertua mengkritik kamu yang kurang pandai memasak untuk suami atau kamu yang terlalu sibuk bekerja sehingga jarang ada membantu istri di rumah. Faktanya, semakin kita memberikan respon negatif dengan membantah atau beradu argumen (ya, kamu mungkin tergoda melakukannya kalau kata-katanya terasa pedas), maka mertua juga akan semakin bersikap negatif kepada kita.

Cara menanggapi kritik atau teguran mereka soal kita yang tidak memenuhi ekspektasi mereka adalah tetap bersikap netral dan tenang. Saat kita bersikap dewasa dan menunjukan dengan elegan bahwa apa yang kamu lakukan itu beralasan kuat dan sudah dikompromikan dengan suami, perlahan-lahan mertuamu akan sadar kok.

2. Kamu diam-diam cemburu kalau pasangan sangat memperhatikan orangtuanya dan mulai menganggap mereka sebagai saingan

Merasa cemburu pada mertua? Sebaiknya sih jangan, ya. via www.huffingtonpost.com

Saat pasanganmu bersikap seolah-olah orangtua mereka lebih penting dari kamu, diam-diam kamu merasa cemburu dan akibatnya apapun yang dilakukan oleh mertuamu terlihat sebagai caper dan nggak tulus buat kamu. Wah, kalau begini justru kamu yang rugi. Pasalnya, pasanganmu sedang menjalankan tugasnya sebagai anak yang berbakti dan tugasmu adalah mendukung niat baiknya. Jika ada yang mengganjal, sebaiknya kamu komunikasikan baik-baik hal tersebut dengan pasangan, tentu saja tanpa menyinggung orangtuanya.

Advertisement

Jangan sampai kamu merasa bersaing dengan pasangan, ya. Justru kamu bisa ikut berbakti pada mertuamu agar mereka senang. Bukan menjilat, tapi apa salahnya kan berbakti pada mertua yang notabenenya sudah jadi orangtuamu juga?

3. Terlalu mudah tersinggung saat diberikan nasihat atau wejangan dari mertua, padahal bisa jadi nasihatnya itu bermanfaat buatmu

Terlalu sensitif atau baperan malah akan merugikan kamu, lho. Coba belajar sedikit lebih cuek, deh. via www.thespruce.com

Sering merasa tersinggung dengan kritik atau saran dari mertua? Mungkin kamu perlu introspeksi sedikit. Selama kata-katanya tidak kasar atau kotor, tidak ada salahnya untuk merenungkan dengan baik kritik atau saran dari mertua. Misal, kamu ditegur kenapa bangun kesiangan atau kita diberi saran tentang cara menata rumah kita dan pasangan. Ya, mungkin kamu merasa berhak untuk kesal dan memberi argumen dengan agresif. Padahal cara ini malah justru akan memperburuk hubunganmu dengan mertua, lho. Sebelum merasa tersinggung, coba deh introspeksi dulu apakah benar yang dikatakan mertua itu benar dan kita ingin membantah hanya demi ego? Jika tidak benar, kita berhak kok menjelaskan alasan kita. Tentu dengan kata-kata yang sopandan halus ya.

4. Enggan membaur bersama mertua dan keluarga besar pasangan, bisa karena minder atau sebaliknya, merasa mereka tidak sebanding dengan kamu

Tak kenal maka tak sayang. Ingin dekat dengan mertua, dekati juga keluarga besarnya, ya. via www.theodysseyonline.com

Terkadang karena kesibukan kita jadi jarang ikut acara keluarga besar pasangan. Atau karena merasa rendah diri karena merasa mertua dan keluarga besarnya lebih hebat daripada kamu. Parah lagi, bisa jadi kamu enggan kumpul-kumpul karena merasa mereka kalah hebat dibanding kamu dan keluargamu. Wah, tak kenal maka tak sayang, lho. Ingat, semakin sering kamu menghabiskan waktu yang berkualitas dengan mereka maka semakin dalam kalian akan saling mengenal. Kalau kamu pandai mengakrabkan diri dengan mertuamu, kecil kemungkinan kalian akan sering cekcok.

5. Terlalu perhitungan dengan biaya dan tenaga yang kamu keluarkan untuk mertuamu, kamu lupa mereka juga adalah orangtuamu setelah kamu menikahi pasanganmu

Menolong kebutuhan finansial mertua sesekali sih nggak masalah. Anggap saja berbakti pada orangtua. via www.jw.org

Wajar ya kalau pasangan ingin menolong orangtuanya yang barangkali memang sedang butuh bantuan. Oke, kamu mungkin merasa kamu dan pasangan belum mampu memenuhi semua biaya mertua dan juga melayani kehendak mereka terus-menerus. Tapi sesekali membantu orangtua pasangan alias mertua saat mereka memang benar-benar membutuhkannya bukan hal yang salah, kok. Begitu juga bantu-bantu di rumah mertua pas akhir pekan juga nggak perlu hitung-hitungan, ikhlasin aja dan anggap kamu berbakti sama orangtua. Lakukan aja semampu kita, nggak perlu memaksakan diri juga.

Pada akhirnya, mertua adalah orangtua juga, yang sudah selayaknya kamu hormati dan hargai terlepas dari bagaimanapun sikapnya padamu. Mereka adalah orangtua yang melahirkan dan membesarkan pasanganmu lho, jadi ya sebenarnya bisa dianggap sebagai orangtua kita juga, ‘kan.  Nah, kalau kita sudah bersikap sepantasnya dan orang-orang di sekeliling kitapun merasa demikian, tapi mertuamu tetap bersikap negatif bahkan sering mengakibatkan perselisihan dalam rumah tanggamu hingga mengarah ke perceraian, nggak ada salahnya untuk berdiskusi dengan suami dan meminta pertolongan orang ketiga yang netral, psikolog misalnya. Intinya bicarakan semuanya baik-baik, kalau memang mereka sayang pada anaknya, cepat atau lambat mertua juga pasti akan menerima kamu dengan tangan terbuka, kok. Semoga tips dari Hipwee ini bisa bermanfaat ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya